Imraan Naeem, petinju Inggris yang dilibatkan untuk menghilangkan stereotype terhadap Islam dan pemeluknya

*Nihal Magdy

London – Kamera menyorot dari jarak dekat seorang lelaki berjenggot panjang dan berwajah serius yang nyaris menyiratkan kemarahan. Kumandang azan terdengar sebagai latarnya. Beberapa saat kemudian, orang ini tertawa terbahak-bahak dan mulai bicara tentang betapa bangganya ia menjadi orang Inggris dan Muslim.

Lelaki yang ditampilkan itu adalah petinju Inggris, Imran Naeem, seorang relawan komunitas yang sangat aktif, yang membawa obor Olimpiade melewati Darlington dan dianggap sebagai panutan oleh banyak orang di Inggris.

Adegan ini diambil dari cuplikan sebuah film penyuluhan pendek berjudul Combinations yang akan dipertunjukkan selama dua bulan mendatang di berbagai sekolah, kampus dan lembaga lain di Inggris untuk melawan persepsi umum yang keliru tentang Muslim serta mengatasi masalah xenofobia dan diskriminasi yang lebih luas.

Keputusan Amjid Khazir, pengarah film ini dan pendiri Media Cultured, untuk meninggalkan karir gemilangnya di bidang humas dan pemasaran digital untuk mendirikan Media Cultured dan mendedikasikan seluruh waktunya untuk kerja komunitas dipicu oleh kematian tragis pamannya, Mohammed Zabir, pada tahun 2011. Zabir adalah seorang sopir taksi, yang meninggal sebulan setelah diserang secara kejam oleh seorang penumpang berusia 18 tahun yang mabuk. Meski terpukul oleh kehilangan pamannya yang sudah seperti ayahnya sendiri dan merupakan seseorang yang terpandang di lingkungannya, Khazir memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk membasmi rasisme dan intoleransi.

Combinations, yang digarap bersama Thousand Yard Films, hanyalah salah satu dari prakarsa Media Cultured, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kepentingan masyarakat di Inggris yang memberi sebuah contoh luar biasa tentang bagaimana pendidikan dan film bisa digunakan untuk melawan stereotip-stereotip yang ada di mana-mana. Media Cultured, yang didirikan dengan bantuan dari proyek DigitalCity Teesside University, bertujuan untuk “mengatasi masalah-masalah misrepresentasi melalui penggunaan berbagai panutan positif dan pesan jelas tentang integrasi dan identitas dalam masyarakat yang semakin multikultural.”

Bagi Khazir, penting untuk menyapa warga non-Muslim melalui berbagai forum, yaitu pendidikan, film dan media sosial, untuk menghilangkan stereotip negatif dan miskonsepsi seperti hal-hal yang diasosiasikan dengan pria-pria berjanggut panjang. Ia mengadopsi pendekatan tiga langkah ketika mempertontonkan cuplikan film itu kepada para pelajar – yaitu “tiga P”. Para pelajar ditanya tentang persepsi awal mereka terhadap Imran, lalu bagaimana penggambarannya di film itu dan apa prasangka yang mungkin mereka miliki tentangnya. Mereka kemudian diminta untuk menentukan apakah yang mereka lihat adalah misinformasi, misinterpretasi atau misrepresentasi. Pendekatan eksplorasi-diri ini membuat perubahan yang efektif dan permanen dalam pola pikir seseorang.

Media merupakan sebuah alat yang sangat kuat untuk menyebarkan informasi dan seringkali media bersifat selektif dan terkadang bias. Menggunakan suatu cara yang mendorong adanya evaluasi yang mendidik dan analitis terhadap informasi yang disajikan oleh media mengajak orang-orang untuk membuat kesimpulan sendiri, ketimbang menerima informasi begitu saja sebagai kebenaran atau fakta.

Cara ini berhasil, menurut Khazir, karena mendorong para pelajar untuk berpikir sendiri dan menarik kesimpulan mereka sendiri, alih-alih memberi tahu mereka apa yang perlu dipikirkan. Bekerjasama dengan sekolah-sekolah dan kampus-kampus untuk mengintegrasikan pengajaran-pengajaran ini ke rencana pembelajaran memungkinkan dikembangkannya pelajaran-pelajaran kontemporer yang didasarkan pada pengajaran toleransi dan integrasi, bukan pada upaya menyebarkan suatu agama atau ideologi tertentu.

Khazir, yang merupakan seorang Muslim taat, gigih dalam mengatasi masalah-masalah rasisme dan diskriminasi yang lebih luas, dan tidak hanya berfokus pada stereotip negatif yang terkait dengan Muslim. “Saya bangga pada agama dan negara saya,” Khazir tegaskan. “Yang sedang kami coba lakukan melalui penelitian dan kajian adalah menyampaikan informasi dari sudut pandang Muslim dan berhubungan dengan audiens non-Muslim. Intinya adalah komunikasi,” tambahnya.

Media Cultured telah memberi contoh tentang bagaimana media pendidikan bisa digunakan untuk menghilangkan stereotip dan misinformasi. Media Cultured juga menjadi contoh bagaimana Muslim bisa secara proaktif dan positif berkontribusi pada masyarakat luas untuk mengatasi masalah-masalah yang mempengaruhi kehidupan semua warga Inggris. Karena bagaimanapun, seperti kata Naeem di akhir adegan dalam cuplikan film itu, “menjadi seorang Muslim berarti menjadi bagian dari masyarakat.”

[]
* Nihal Magdy adalah seorang blogger Muslim Mesir-Inggris dan pakar pemasaran di London. Info lebih lengkap tentang Media Cultured, silakan kunjungi http://www.mediacultured.org.

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan mendapat izin publikasi di HMINEWS.Com