Pengantar

Ketika berdiskusi tentang Outlook Ekonomi Islam, akan timbul pertanyaan: Ekonomi Islam yang mana? Ekonomi tambal-sulam kapitalisme di-labeli syariah? Atau Ekonomi Islam yang kaffah (menyeluruh)? Karena ekonomi Islam hari ini lebih mengarah pada tambal-sulam sistem ekonomi konvensional (pro-pasar). Akarnya tetap sama, ekonomi kapitalisme, perluasan pasar, jual beli saham, kredit korporasi. Kemudian dengan simplifikasi tadi, maka yang disebut sebagai Outlook Ekonomi Islam hanyalah angka-angka tentang penambahan konsumen bank, asuransi, peningkatan DPK (dana pihak ketiga), serta pertumbuhan perbankan syariah dibanding pertumbuhan perbankan nasional. Di saat itulah ekonomi Islam tidak berkembang, justru mundur secara filosofis.

Orientasi yang awalnya “mendakwahkan keadilan” kini berbalik mendukung ketidakadilan secara sistematis. Setidaknya ekonomi Islam hanya dijadikan sebagai kritik, alternatif, dapat dikatakan sekali lagi sistem ekonomi tambal sulam. Tidak berbeda dengan perkembangan ekonomi klasik, setelah Great Depression 1930 muncul revisi oleh para ekonom Keynessian kemudian muncul neo-liberal dan muncullah ekonomi Islam, dan seterusnya dalam kerangka yang sama. Dimana posisi ekonomi Islam saat ini? Hanya sebagai penahan bocor yang sifatnya temporer karena bergerak dalam garis linear yang sama. Berbicara anti-riba hanya muncul di tahun-tahun 2008 saat krisis global, kemudian bank-bank asing yang memang mengejar keuntungan melihat potensi menggiurkan dari pasar Muslim di dunia, mulai membuka unit-unit bisnis syariahnya.

Bagaimana tanggapan ekonom Islam di Indonesia? Mengapa kita menolak sistem tambal-sulam (mainstream)? Ini bagian dari dakwah, jika tidak dapat meninggalkan seluruhnya, jangan ditinggalkan, benahi satu persatu. Itulah prinsip dasar yang sering disalah-artikan. Kemudian Adiwarman Karim, selaku tokoh intelektual di balik berkembangnya ekonomi Islam menyarankan agar perluasan pasar bank syariah, pertumbuhan asset dijadikan sebagai patokan utama keberhasilan ekonomi Islam di Indonesia.

Dan wajar saja ketika metode tersebut dijadikan tolak ukur perkembangan ekonomi Islam banyak pihak yang kecewa. Bahkan beberapa ekonom, pelaku industri dan nasabah yang tadinya mendukung mati-matian kini tinggal setengah hati. Mengapa bagi hasil bank syariah lebih mencekik daripada bank konvensional? Kenapa bank syariah dan bank konvensional laporan keuangannya dicampurkan menjadi satu? Kenapa hanya simbolik memakai salam dan kerudung di kantor-nya, sementara fungsi bank syariah yang tadinya ingin menghapuskan kezaliman (eksploitasi) itu mempraktikan hal yang sama dengan riba (walau bungkusnya bagi hasil)?

Apa tanggapan dari pelaku perbankan syariah? “Ya, kami sedang berproses, tunggulah, pelan-pelan kita benahi.” Atau jawaban yang paling klasik, “Anda tahu siapa yang mengatur perbankan syariah? Jangan salahkan jika kami tidak 100% sesuai prinsip syariah ketika BI rate (suku bunga acuan) masih menjadi patokan bagi hasil di bank-bank syariah”.

Dari dua paradigma tentang ekonomi Islam tambal sulam yang mengecewakan karena hanya ber-orientasi pasar dengan ekonomi Islam yang kaffah, Penulis ingin memberikan kajian yang berimbang terhadap Outlook kedua jenis ekonomi Islam tersebut.

Outlook Pasar

Secara garis besar, dengan perluasan jaringan bank-bank baru dan pemberian izin yang mudah dari BI untuk membuka unit bisnis syariah, diprediksi Pertumbuhan perbankan syariah akan terus meningkat dari tahun 2012.

Seperti laporan outlook di seminar Outlook Perbankan Syariah 2013 yang dikutip dari Asisten Direktur Departemen Perbankan Syariah BI Muhamad Irfan, “Perbankan syariah diprediksi akan terus tumbuh positif pada 2013. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan aset mencapai 58% atau Rp 296 triliun, pembiayaan tumbuh 50% atau mencapai Rp 222 triliun, dan DPK tumbuh 29% atau mencapai Rp 186 triliun… pertumbuhan perbankan syariah pada 2012 masih relatif tinggi. Per Oktober 2012, pembiayaan tumbuh 40,4% dibanding Oktober 2011. Total aset tumbuh sekitar 37%. Penurunan aset yang signifikan dimulai sejak Maret-September 2012 akibat penurunan DPK yang cukup tajam…Penggerak pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia adalah masyarakat atau ‘Muslim population’, berbeda dengan di Timur Tengah yang digerakkan oleh Petrodollar dan Malaysia oleh pemerintah atau negara,”

Agustianto menambahkan, “Sudah ada 11 Bank Umum Syariah (BUS), 24 Bank Syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah (UUS), dan 156 BPRS, dengan jaringan kantor meningkat dari 1.692 kantor di tahun sebelumnya menjadi 2.574 di tahun 2012, Dengan demikian jumlah jaringan kantor layanan perbankan syariah meningkat sebesar  25,31%”

Asuransi syariah juga tidak kehilangan momentum di tahun 2013, menurut laporan Republika (4/12) Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) memperkirakan pertumbuhan industri asuransi syariah pada 2013 mencapai 30-40 persen. Tahun depan juga diperkirakan akan menjadi puncak pertumbuhan asuransi syariah di Indonesia. Pertumbuhan ini didorong oleh bertambahnya satu perusahaan asuransi syariah akibat dua aturan baru di industri tersebut. Kedua aturan tersebut adalah modal minimal perusahaan dan spin off unit usaha syariah perusahaan asuransi. Sehingga secara kuantitas jumlah entitas perusahaan asuransi syariah akan meningkat. Ketika spin off terjadi, perusahaan asuransi syariah dituntut untuk lebih mandiri, serta ekspansif dalam meningkatkan premi-nya.

Belum banyak data mengenai pertumbuhan BMT atau baitul mal wa tamwil, selain karena entitas BMT masih berada di bawah Kementerian Koperasi dan UMKM, BMT masih dianggap pemain minor dalam industri keuangan syariah di Indonesia. Namun secara garis besar, dengan kemudahan membuat BMT baru, dan akuisisi beberapa BMT yang terancam bangkrut di beberapa daerah oleh bank syariah membuat BMT semakin efisien dan kompetitif. Adanya chanelling atau kerjasama pembiayaan dari bank syariah sebagai induk kepada BMT di pedesaan membuat naiknya kinerja bank syariah juga berdampak pada naiknya pertumbuhan BMT. Simbiosis mutualisme ini turut menyelamatkan BMT dari default (tutup) karena kekurangan dana.

Internasional

Dalam ranah industri keuangan syariah global, Oman Second Islamic Bank and Conference menghasilkan sebuah evaluasi pertumbuhan di tahun 2012, ‘keuangan syariah saat ini menjadi salah satu bisnis keuangan yang sangat pesat pertumbuhannya. Dengan pertumbuhan tahunan melebihi 20% selama 10 tahun terakhir. Asset keuangan syariah mencapai $1 trilliun di tahun 2010 dan diprediksi meningkat menjadi $1.6 trilliun di akhir tahun 2012 ini. Di dalam Arab Saudi sendiri, transaksi yang menggunakan sistem syariah mencapai 57% dari total pembiayaan retail dan aktivitas perbankan lainnya. Di Uni Emirat Arab dan Qatar, perbankan syariah tumbuh 50% dari tahun sebelumnya (menggunakan metode CARG-Compunded annual growth rate). Angka tersebut menjadi petunjuk bagaimana Bank Oman, sebagai salah satu bank yang akan menguasai Qatar dengan asset sebesar $42 milyar di bulan awal 2013.

Outlook Ekonomi Islam Sesungguhnya

Setelah menerjemahkan angka-angka pertumbuhan industri keuangan syariah yang berorientasi pasar, perlu dibandingkan dengan ekonomi Islam yang kaffah. Menyebut pertumbuhan ekonomi Islam tidak hanya berputar pada keuangan syariah, seharusnya menyeluruh pada praktik-praktik yang lain seperti pengelolaan dana zakat, infaq, sadaqah, wakaf produktif, dan dana Haji. Melihat pada realita, outlook ekonomi Islam yang diseminarkan oleh beberapa instansi tidak menyentuh pertumbuhan zakat maupun pengelolaan dana Haji yang benar pada tahun 2013 mendatang.

Apakah dapat dikatakan syariah jika hal yang berhubungan dengan ibadah saja masih menggunakan sistem riba? Tengok saja, penempatan dana BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) hanya 30% yang ditempatkan di bank syariah. Kemana sisanya? Masih mengendap di bank-bank konvensional dan secara langsung bersentuhan dengan riba. Tidak perlu berbicara di sektor muamalah terlebih dahulu, jika Haji yang jelas-jelas untuk ibadah belum syariah 100%.

Kemudian, kemana dana Haji mengalir, jika mengendap selama 10 tahun masa antri keberangkatan? Berdasarkan kalkulasi Penulis, dengan asumsi 217.000 orang jamaah (Haji reguler dan Haji khusus). Setiap tahun terkumpul dana haji sebesar Rp. 41.011.200.000.000,-. Belum termasuk bunga 5% per tahun, maka bunga yang berhasil berkembang biak dari 41 triliun tadi sebesar 170,8 miliar. Kemana larinya bunga tersebut? Tidak tahu atau sengaja dibiarkan. Pengendapan ini secara ekonomi disebut dana idle (tidak produktif). Seharusnya dapat diputar untuk memberikan kredit lunak bagi pelaku industri kecil, hingga membangun fasilitas umum. Esensi dari dana haji adalah uang pokoknya tetap sama, soal bunga silahkan di putar (nikmati) sendiri.

Itulah potret masa depan ekonomi Islam di Indonesia. Masihkah terjebak pada keuangan syariah saja? 2013 adalah masa transisi dari ekonomi Islam tambal sulam menjadi ekonomi Islam yang kaffah (seharusnya).

Bhima Yudistira A
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada