*Mette Reitzel

Hiphop hijabis

London – Sebuah laporan parlemen Inggris belum lama ini mengungkapkan bahwa sebagian Muslimah tidak lagi mengenakan jilbab dan menginggriskan nama mereka demi meningkatkan peluang di bursa kerja. Dua sahabat karib yang ditampilkan dalam film dokumenter, Hip Hop Hijabis, justru melakukan sebaliknya.

Keduanya, yang terlahir di Bristol dari orangtua asal Jamaika, masuk Islam pada tahun 2005. Mereka lalu mengenakan jilbab dan mengubah nama mereka menjadi Sukina Abdul Noor dan Muneera Rashida. Mereka berdua dikenal sebagai duet Hip Hop bernama Poetic Pilgrimage yang telah mengadakan tur internasional yang mendapat sambutan meriah.

Diperkirakan ada 100.000 mualaf di Inggris dan mayoritas mereka adalah perempuan. Semakin banyak pula di antara mereka yang berlatar belakang pemuda kulit hitam perkotaan. Ditambah dengan adanya imigrasi Muslim, ini membuat Islam menjadi agama terbesar kedua di Inggris dengan pengikut sekitar 5 persen dari total penduduk menurut data sensus terbaru.

Berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa kira-kira setengah dari warga Inggris menganggap jumlah itu terlalu banyak dan beranggapan bahwa “Muslim hanya membuat masalah di Inggris,” ungkap sebuah artikel Evening Standard pada 11 Desember 2012. Namun, bukti-bukti yang dihimpun oleh pengarang Islamophobia, Chris Allen, menunjukkan bahwa dua pertiga orang Inggris mengaku “tidak tahu apa-apa atau hampir tidak tahu apa-apa tentang Islam” dan mendapatkan sebagian besar pengetahuan mereka dari media. Sementara Leveson Report tentang budaya pers Inggris belum lama ini menggambarkan adanya bias dalam pemberitaan media Inggris tentang Muslim.

Dengan menelusuri pola pikir dan keseharian dua Muslimah mualaf yang suka blak-blakan ini, Hip Hop Hijabis bertujuan menghilangkan sebagian kesalahan pengertian yang menyebabkan pandangan terpolarisasi semacam itu, khususnya seputar masalah kesetaraan gender, yang menjadi kepedulian besar Sukina dan Muneera di awal ketertarikan mereka terhadap Islam.

Dengan mendalami masalah ini lebih lanjut, mereka mendapati bahwa dalam sejarahnya, Islam bersifat sangat egaliter, dengan mengutuk pembunuhan bayi perempuan yang sudah jadi kebiasaan umum dan memperkenalkan hak-hak menerima warisan, perceraian dan pendidikan bagi para perempuan pada sebuah masa di mana mereka umumnya dianggap sebagai harta milik suami mereka. Keduanya juga mengetahui bahwa kebiasaan-kebiasaan seperti khitan perempuan dan pembunuhan demi kehormatan sudah dipraktikkan sebelum adanya Islam dan tidak dibenarkan oleh Qur’an.

Angkat bicara menentang tradisi-tradisi budaya ini dalam kerangka konsep Islami, Poetic Pilgrimage menjadi bagian dari tren meningkatnya jumlah para seniman, aktivis dan intelektual Muslim yang merebut kembali tafsir agama mereka. Melakukannya lewat bahasa hip hop sendiri sudah menjadi sebuah pernyataan sikap, karena sebagian tafsir Islam mengharamkan musik dan perempuan yang tampil di pentas.

Keuntungannya adalah bahwa melalui syair yang mahir, nada yang menawan dan energi positif, Poetic Pilgrimage bisa menjangkau audiens yang luas – baik anak muda Muslim Eropa yang bisa jadi merasa terperangkap di antara berbagai budaya, maupun non-Muslim yang stereotipnya dilawan oleh kedua musisi rap berjilbab ini.

Meskipun hip hop dan agama terkesan sebagai dua hal yang mustahil bergandengan, keduanya berasal dari hasrat yang kuat akan keadilan sosial, dan selalu ada banyak seniman Muslim yang berkiprah di jenis musik ini. Sebuah jejaring luas prakarsa pendidikan telah dikembangkan lewat hip hop, sehingga mendorong ekspresi kreatif melalui hip hop sebagai pilihan yang lebih baik daripada kekerasan, narkoba dan perilaku merusak lainnya.

Ekstremisme sudah terlalu lama mendominasi diskusi publik seputar Islam. Ada banyak Muslim yang sangat terpelajar dan bersuara lantang yang berpendapat bahwa membenarkan misogini dan kekerasan atas nama Islam merupakan sebuah penafsiran keliru atas agama mereka, namun suara-suara mereka jarang didengar.

Konflik dan tragedi memang bisa menjadi berita utama yang bagus, namun juga mengembangbiakkan ketakutan dan kebencian pada pihak-pihak yang berseberangan, yang bisa menimbulkan akibat-akibat yang cukup fatal. Proyek Hip Hop Hijabis merupakan sebuah upaya untuk mengembalikan keseimbangan dan berkontribusi pada diskusi yang lebih bernuansa. Proyek ini akan juga mencakup lokakarya kreatif, ceramah dan diskusi publik untuk mendorong dialog yang konstruktif dan melawan ekstremisme keagamaan serta Islamofobia.

###
*Mette Reitzel adalah seorang pembuat film dokumenter kelahiran Denmark yang tinggal di London. Dana pascaproduksi film Hip Hop Hijabis sebagian akan diambil dari hasil pra-penjualannya. Dapatkan filmnya dan saksikan cuplikannya di sini

Artikel ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews), 11 Januari 2013 dan mendapat izin publikasi di HMINEWS.Com.