Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi perjuangan dan perkaderan kemahasiswaan yang bersasaskan Islam. Semangat itulah yang mampu memberikan ruh bagi HMI.

Kamis malam kemarin (29/11/2012), di sekretariat HMI MPO Cabang Wonosobo, diadakan pelantikan pengurus Korps Pengader Cabang (KPC) HMI MPO Cabang Wonosobo. Pembacaaan ikrar janji amanah yang diemban dalam kepengurusan KPC Periode 1434-1435 terasa sakral. Serah terima jabatan berlangsung antara M Firdaus N.S yang dipercaya menggantikan Siti Ngafiah yang telah habis masa baktinya, disaksikan jajaran KPC serta tamu undangan.

Dengan terbentuknya kepengurusan yang baru tantunya harapan baru talah muncul pula. Keberadaan HMI sejak 65 tahun yang silam tidak pernah lepas dari adanya spirit yang komprehensif antara pengader dan kader. Mengacu pada tujuan HMI yaitu mencetak kader-kader yang berkarakter ulul albab, yang pada nantinya mampu menjadi pionir di tengah-tengah masyarakat, ketika masuk dalam ranah realitas. Maka sudah menjadi tugas bagi pengader untuk menjembatani ke tujuanya.

Dalam diri seorang pangader haruslah mempunyai tiga corak dalam internalisasi diri sebagai pengader yaitu: Pertama, sebagai seorang pendidik. Dalam pendidikan di HMI secara formal memang sudah terkonsep/ terkurikulum baik dari sisi jenjang maupun konten materinya. Namun sebenarnya pendidikan yang terpenting adalah bagaimana mendidik kader dalam ranah kesehariannya. Pendidikan di sini lebih diartikan bahwa seorang pengader adalah sosok uswah bagi kadernya. Baik dari sisi religiusitasnya, akhlaknya dan intelektualitsnya. Kader ibarat seorang anak kecil yang selalu melihat sosok kedua orang tuanya. Ketika pengader yang dilihat tidak sesuai, mungkin saat pelatihan secara formal, memberikan efek yang mampu membuat kader menciut bahkan menghilang, meskipun tak hanya faktor itu saja. Maka mendidiklah dengan perbuatan agar lebih baik dibanding mendidik dengan lisan.

Kedua, pengader adalah sosok pejuang. Sosok mujahid dalam diri pengader diartikan bahwa dalam ber-HMI, segala yang dilakukan diniatkan hanya ingin menggapai ridha Allah SWT, sehingga semua dijalankan dengan rasa iklas dan pilihan sadar. Jiwa untuk berjuang tentu muncul saat nilai loyalitasnya dalam ber-HMI tidak diragukan lagi, tidak hanya raga dan harta yang diberikan, namun segenap hati dicurahkan untuk keberlangsungan perkaderan. Dalam mencapai fase pejuang, tidak terbentuk secara instan. Namun terbentuk dengan proses dan bertahap. Tidak layak jika seorang pengader masih mengeluh, merana dan mendramatisir masalah yang ada. Pengader dalam ranah berjuangnya senantiasa memberi dan mendengarkan kegalauan kader-kadernya, bahkan untuk masalah pribadi kader sekalipun.

Dalam kamus berjuang tidak ada lagi mengenal istilah untung atau rugi, boleh dibilang berjuang tampa pamrih. Seorang pengaderpun harus rela untuk tidak telalu mementingkan dirinya dalam konteks keinginan-keinginan bukan dalam bentuk kebutuhan. Namun tak ada perjuangan yang sia-sia ketika diniatkan dengan hati yang lurus. Buah manis dari perjuangan akan diraih nantinya setelah waktunya tiba. Dari hal tersebut bukanlah hasil namun, hanya efek yang Allah SWT berikan kepada seorang pejuang.

Ketiga, pengader adalah pemimpin. HMI selalu mengajarkan tentang kepemimpinan bagi kader-kadernya. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia diturunkan di muka bumi ini adalah sebagai khalifah atau diartikan sebagai tangan-tangan Tuhan di dunia ini. Setiap orang adalah pemimpin, terutama memimpin dirinya sendiri, baru setelah itu memimpin ummat. Konsepsi tentang pemimipin kadang diartikan dalam lingkup yang sempit, tugasnya hanya mengkoordinir, mengatur, mengevaluasi dan menyuruh. Namun hal ini masih saja terjadi, pemimpin dalam mindset seorang pengader itu adalah melayani dan mengayomi, yaitu mau untuk melayani kebutuhan-kebutuhan kader. Kesuksesan seorang pengader saat memimpin dapat dilihat ketika meningkatnya loyalitas dan kenyamanan dalam diri kader. Seorang pemimpin senantiasa menjaga hubungan emosional terhadap umatnya, tentunya yang tidak eksesif terhadap kader-kadernya.

Dalam kesempatan tersebut banyak sekali wejangan-wejangan yang diberikan dari tiap generasi ke generasi, kepada kepengurusan yang baru terbentuk beberapa hari lalu. Pikiran yang positif dan kepercayaan adalah modal yang baik untuk mengawali kepengurusan KPC Cabang Wonosobo periode ini. Sehingga untuk bersama-sama mewujudakan cita-cita HMI dibutuhkan inovasi dan kreasi dari pengader. Iklim tiap cabang tentunya berbeda dan memiliki kecenderunganya masing-masing. Untuk iklim Wonosobo yang memang dingin, iklim yang tercipta cenderung pada kultur kekeluargaan dan iklim religius yang turut mengikuti. Faktanya kedua hal ini tidaklah cukup dijadikan bekal untuk menggapai cita-cita HMI. Sehingga sudah barang tentu menjadi PR bagi kepengurusan yang baru disahkan tersebut, untuk dapat meningkatkan kultur HMI secara komprehensif. Hal tersebut yang diungkapkan oleh beberapa “ TETUA” HMI Cabang Wonosobo.

Keberhasilan KPC kedepan tidak serta merta murni hasil usaha KPC saja, namun dibutuhkan sinergitas dari tingkatan kader, pengurus Komisariat dan Cabang yang saling berkesinambungan dan membutuhkan satu sama lainya. Mempersiapkan diri itu juga perlu, dengan apa yang akan terjadi kedepanya. HMI akan selalu jaya di tangan kita semua, teruslah berjuang dijalan-Nya dengan bersungguh-sungguh. Menjadikan rintangan sebagai wadah kawah candra dimuka untuk menempa keber-HMI-an kita. Man Jadda Wa Jadda. BAHAGIA HMI.

Ulil Albab