Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 04 Desember 2012 jam 10.00 WIB di Student Convention Center (SCC) Kaliurang Yogyakarta, Training Politik Nasional (Trapolnas) yang diadakan HMI Cabang Yogyakarta resmi ditutup. Training yang dimulai dengan stadium general di gedung DPRD DIY pada 30 November 2012 yang lalu itu memberikan banyak kesan dan pelajaran bagi setiap pihak yang terlibat.

Nur Rismawati, salah satu SC (steering committee) dan sekaligus pemandu dalam acara Trapolnas kali ini mengatakan bahwa antusiasme para peserta cukup tinggi, terbukti peserta yang mengikuti acara ini melebihi target awal yang ditentukan yaitu maksimal 60 orang, tetapi ternyata yang hadir sebanyak 74 orang.

Antusiasme juga terlihat dari banyaknya peserta yang datang dari berbagai cabang HMI di Indonesia seperti Cabang Tual, Tulang Bawang, Jakarta Selatan, Serang, Semarang, Jakarta, Bogor, Wonosobo, Malang, Purworejo dan Yogyakarta sebagai tuan rumah. Kondisi ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana kebutuhan kader-kader HMI akan ruang-ruang pertemuan dan diskusi yang bertaraf nasional untuk membicarakan langkah dan strategi HMI dalam menghadapi paradigma politik hari ini yang penuh pragmatisme dan politik pencitraan. Tidak dapat dipungkiri, forum-forum seperti ini sangat jarang diadakan kecuali saat rapat pleno PB ataupun Kongres saja.

Ade Rahman, salah satu pemandu mengatakan bahwa peserta trapolnas aktif di sebagian besar materi yang disampaikan dalam kegiatan ini, walaupun ada juga materi-materi yang dianggap membosankan oleh peserta. Beliau menambahkan, di akhir malam setiap harinya selama Trapolnas ini diadakan sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang ditemani oleh para pemandu dan terbagi ke dalam lima kelompok. Kegiatan ini (FGD) sebagai sarana mengkonsep ataupun sekedar menuangkan gagasan-gagasan hasil materi yang diterima selama seharian penuh. Metode ini sebagai upaya agar setiap kader mampu mempertajam analisisnya terkait permasalahan yang ada sekaligus diharapkan muncul gagasan-gagasan segar bagi peran HMI.

 Ade Rahman juga mengatakan ada yang sedikit kurang dalam acara Trapolnas kali ini yaitu pemateri yang dihadirkan kebanyakan dari kalangan praktisi hanya sedikit dari kalangan akademisi sehingga dalam acara Traponlas kali ini minim konsep yang ditawarkan oleh pemateri sehingga kader HMI dituntut berusaha untuk membuat konsepnya sendiri.

Di hari terakhir diadakan sebuah observasi. Semua peserta dibagi menjadi lima kelompok dan setiap kelompok melakukan observasi ke lembaga negara, organisasi masyarakat ataupun organisasi politik, dan masing-masing kelompok harus membuatkan laporan hasil observasi yang mereka lakukan, dan setiap laporan akan di persentasikan oleh masing-masing kelompok.

Ketua panita, Mahfud, mengatakan bahwa susuanan acara ini berusaha dikonsepkan secara maksimal oleh SC Trapolnas bersama Panitia OC agar kegiatan ini benar-benar mampu melahirkan gagasan-gagasan yang brilian untuk peran HMI kedepan. Walaupun Mahfud juga mengakui bahwa ada sebagian peserta yang merasa kecewa dikarenakan beberapa pemateri yang pada awalnya dijanjikan tidak bisa hadir dalam kegiatan kali ini, seperti alumni HMI Moh Mahfud MD dan Gubernur Jakarta Joko Widodo, kedua tokoh tersebut tidak bisa hadir dikarenakan agenda mereka yang padat dan tidak bisa ditinggalkan. Menurut Mahfud para pengganti merekapun tidak kalah bagusnya, salah satunya Walikota Yogyakarta, Heri Zulianto yang juga sudah dikenal secara nasional.

Ayin, salah satu peserta dari Cabang Wonosobo mengaku senang mengikuti acara ini, setidaknya dia merasa dengan berkumpul dan berdiskusi seperti ini. “Idealisme sebagai seorang mahasiswa sekaligus kader HMI dapat terjaga dikarenakan lingkungan mendukung untuk itu. Semoga ini juga dirasakan oleh teman-teman yang lain pesannya,” ujarnya.

Dalam sambutannya saat penutupan Trapolnas tahun ini, Zuhad Aji Firmantoro Ketua umum HMI Cab Yogyakarta berpesan bahwa HMI harus mulai kembali untuk menkonsolidasikan dan merancang gagasan baru terkait peran yang akan diambil kedepan, karena tantangan di masa depan pun akan semakin sulit.

 “Semoga kegiatan ini mampu menjadi awal terbentuknya masyarakat yang berkeadilan sebagai pengejawantahan masyarakat yang diridhoi Allah SWT. Harapan terakhir, semoga kegiatan-kegiatan serupa mampu dilaksanakan rutin minimal oleh setiap cabang HMI,” pungkasnya.

Rangga