Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, dengan back-up bacaan, pelajaran sampai keyakinan-lah yang membuat saya memberanikan diri menjamah karangan seorang orientalis sekaligus penulis kaliber dunia Barnaby Rogerson. Inysa Allah fikiran kritis saya tidak akan ditembus oleh akal bulusnya, gumam saya dalam hati. Sayapun membaca.

Begitu selesai menelaah buku berjudul “Heirs of the Prophet and The Roots of The Sunni-Shia Schism” versi terjemahan menjadi Para Pewaris Muhammad [dengan membuang dua buah kata sensitif Sunny dan Syiah] tak pelak saya mengeluh dan berkata dalam hati “Aku telah kalah”.

Buku yang konon merupakan hasil kajian mendalam selama tiga puluh tahun dan didahului dengan riset terhadap buku-buku sejarah babon seperti Sejarah Islam oleh Al-Waqidi [30 jilid], At-Thabari, Ibnu Sa’ad lengkap dengan tafsirnya. Dilanjutkan dengan meriset Kutubuttis’ah [9 kitab hadist Babon] lalu mengenal sampai detail siapa penulis sejarah Nabi pertama Ibnu Ishaq kemudian dituntaskan dengan proyeksi semua itu dengan Al-Qur’an, sebagai babon dari semua babon-babon itu.

Rogerson, setelah itu baru berani memulai dengan tulisan-tulisan tentang tradisi, budaya, peradaban sampai teritotial negara-negara muslim sampai menyempatkan untuk menulis ‘Treveller Guide’ tiap negeri muslim itu. Setelah amat yakin dengan netralitas tulisannya, diapun menulis “A biography of The Prophet Muhammad.”

Tentang buku ini, saya tidak akan mengatakan apapun kecuali sebuah kalimat Rogerson sendiri yang mengatakan bahwa Muhammad itu: Even when viewed in an entirely secular perspective he remains a superhero (bahkan ketika dilihat dalam perspektif yang sama sekali sekulerpun ia [Muhammad] tetaplah seorang superhero.

Buku yang kali ini kita bincangkan adalah yang dia tulis setelah biografi di atas. Apa yang menyebabkan saya merasa kalah adalah ternyata akhirnya saya merasa harus mengatakan bahwa buku ini bagus. Saya berharap anda tidak ikut-ikutan dengan saya. Sebab mungkin saja saya salah. Rogerson sang orientalis kelahiran Inggris ini adalah juga bekas tentara Kerajaan Inggris, siapa tahu dia menyimpan sesuatu. Wallahu a’lam.

Kini saatnya saya mengatakan bahwa belum ada satupun tulisan yang ditulis dengan segala keseriusan dan netralitas yang mampu memposisikan secara nyata dan sangat sederhana bahwa kemunculan istilah Sunny dan Syiah adalah bid’ah ba’da hayaatirrosuul (bid’ah setelah Rasulullah tiada). Tidak sejalan dengan ajaran Rasulullah dan hanya dipicu oleh syahwat kekuasaan [sekalipun keinginan untuk berkuasa ini didorong oleh niat baik].

Setelah Rasulullah Tiada

Bab-Bab paling menakutkan adalah ketika membahas detail-detail wafatnya Rasulullah yang menjadi pemicu awal perbedaan sejarah antara sejarah ala Sunny dan ala Syi’ah. Versi Sunny Rasulullah wafat di pangkuan Sayyidah ‘Aisyah sedangkan versi Syi’ah Rasulullah wafat di pangkuan ‘Ali.

Barnaby Rogerson berpendapat bahwa keshahihan hadits yang menjadi argumen kedua belah pihak kekuatannya tak terbantahkan dan logikanya terang benderang. Saat itu, berdasarkan kesepakatan semua Istri-istri Rasulullah, gantian Rasulullah diserahkan kepada Aisyah dan Rasulullah pun memang meninggal di dalam rumah itu.

Di lain pihak, kedekatan ‘Ali Karramallahu Wajhah sebagai zurriyat tak disangsikan, kesaksian hadits-hadits tentang keberadaan ‘Ali yang turut serta di dalam rumah itu saat menunggui Rasulullah di akhir hayatnya tidak disangsikan. Rogerson lalu membuat konklusi: “Tak ada aral apapun untuk mengatakan bahwa kedua versi itu bisa benar dan oleh karenanya tak ada yang bisa menjadi bukti untuk berkata yang satu benar dan yang lain bohong.” Seyogianya yang harus dikatakan adalah bahwa Rasulullah, Ali dan Ai’syah adalah hamba-hamba Allah yang harus dimuliakan.

Bab berikutnya adalah penghujung Bab 8 tentang terbunuhnya ‘Utsman yang berlanjut dengan Bab 9 yang membahas ‘Ali Khalifah keempat. Dengan memproyeksikan riwayat-riwayat dan tradisi Makkah dan Madinah kepada Al-Qur’an, Rogerson dengan gamblang menjelaskan sebuah celah gelap-gulita dibelakang syahwat kekuasaan Al-Mughirah dan Amr bin Ash yang sangat mungkin menjadi lubang masuknya musuh laten yang cerdik yaitu Yahudi untuk menanam benih perpecahan.

Sebenarnya semua pihak menyadari adanya benih perpecahan itu, terbukti dengan manis dan penuh kehormatan perseteruan ‘Aisyah dan ‘Ali dalam perang Jamal diakhiri dengan ucapan ‘Aisyah kepada ‘Ali yang saat itu telah menawannya: “Engkau orang mulia maka maafkanlah aku dengan kemuliaannmu itu.” Ali Karramallahu Wajhahu pun dengan keluasan ilmu dan cintanya memuliakan wanita kekasih Rasulullah itu dengan membebaskannya dan menanggung segala keperluan hidupnya sampai akhir hayatnya. Maka tak ada alasan sama sekali mempertentangkan kedua hamba Allah tersebut, apalagi mengangkat sambil menjatuhkan salah satunya.

Adapun Muawiyah digambarkan oleh Rogerson sebagai Penulis Wahyu dan politikus paling ulung yang cukup beralasan untuk mengatakan bahwa tersampaikannya Islam kepada kita semua saat ini tidak lepas dari jasa-jasanya. Dalam kemelut itu Mu’awiyah sangat tahu diri dan memang dia menahan diri. Namun… pada saat genting itulah argumen picisan tak masuk nalar sehat dengan diam-diam meracuni “Puak miskin ilmu dan keislamannya baru” dan ujungnya menjelma menjadi ular berbisa di tengah ummatan wahidah (umat yang satu). Mereka terakumulasi menjadi Khawarij.

Khawarij memang dikafirkan baik oleh pihak ‘Aisyah, ‘Ali maupun Mu’awiyah dan merekapun balik mengkafirkan ketiganya. Sayangnya ada yang membonceng di belakang pengkafiran kaum Khawarij itu, yaitu tiga kejadian: (1) ‘Aisyah menjauhkan diri dari urusan politis dan tenggelam dalam urusan keilmuan, (2) ‘Ali KW, karena terbunuh belum sempat menuntaskan kemelut kekhalifahan, sedangkan (3) Mu’awiyah yang yakin bahwa setelah ‘Ali KW wafat, tidak ada yang bisa menangkis serangan balik Kristen Romawi dan Penyembah Api Persia kemudian mengambil jalan pintas dengan memperkuat kekuasaannya.

Berkuasalah Mu’awiyah dan tentu saja ‘Amru bin Ash dan Al-Mughirah menjadi gubernur-gubernur di bawah Mu’awiyah. Kedua sosok ini tetap layak dinilai baik dan sangat berjasa pada Islam, namun tidak bisa dijamin bebas dari kemungkinan tereksploitasi oleh pihak Yahudi. Mengingat sejarah keduanya bergelimang dengan kekayaan dan kekuasaan. Wallahu A’lam bisshawab.

Setelah itu, mulailah syahwat kekuasaan bermain; Mereka yang ingin merebut kekuasaan dari Mu’awiyah memanfaatkan nama ‘Abbasiyyah dan merangkul pendukung Ali KW, sedangkan syahwat kekuasaan keluarga Mu’awiyyah menggunakan alasan mempertahankan kekuasaan negara Islam. Satu kekuatan lagi berusaha mencari jalan kekuasaan yaitu Bangsa Persia yang memendam rasa malu yang sangat dalam dengan kehancuran Yazdagir. Apa yang bisa mereka manfaatkan? Atau lebih tepatnya, amunisi apa yang bisa disuplay kepada mereka agar menuntut kekuasaan?

Jawabnya adalah sesuatu yang sangat sempit sekali: ‘Ali telah diremehkan, maka harus ada yang mengembalikan kekuasaan kepadanya.’ Itulah racun yang ditanam di dalam benak bangsa Persia. Oleh sebab itu kita sangat geli melihat Bangsa Iran saat ini yang merasa lebih mencintai dan menghormati ‘Ali ketimbang Qabilah Quraiys sendiri. Merekapun menamakan diri mereka kaum Syi’ah=pencinta ahlul bait atau lebih spesifik lagi pencinta kekuasaan ‘Ali. Apapun kalimatnya namun tujuannya satu saja “Kekuasaan yang harus direbut. Sekalipun untuk diri mereka sendiri, jelas bukan untuk ‘Ali dan qabilahnya Bani Hasyim.

Adapun rasa sakit hati, hasrat balas dendam dan keinginan merebut kembali kekuasaan Kristen Romawi tidak memiliki celah dalam konflik tersebut, maka wujudnya adalah konfrontasi terbuka yang bentuknya kita sudah tahu belaka dengan istilah Crusade alias Perang Salib. Rogerson-pun menulis tentang itu dalam sebuah buku khusus: “The Last Crusaders: The Battle for Gold, God and Dominion.”

Keanehan keyakinan syiah saat ini sudah mulai diendus oleh mereka sendiri, maka Imam Khomainy telah dengan gigih mempelopori proporsionalisasi kedudukan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman. Sebab tak mungkin keyakinan mereka akan selaras dengan Rasulullah jika mereka terus menerus membenci dan menganggap keliru sosok-sosok mulia yang dijamin masuk syurga oleh Rasulullah yang adalah junjungan Ali KW sendiri. Berlanjut dengan diakunya mushaf ‘Ustmani sebagai pegangan utama. Dan pada waktu yang sama kitab-kitab Syiah narsis mulai diragukan dan ditinggalkan.

Inilah yang menjadi alasan mengapa seorang pakar sekaliber Yusuf Al-Qardhawi mempunyai optimisme bahwa antara Sunny dan Syi’ah bukanlah perpecahan yang akan terus abadi. Amiin Allahumma amiin.

Harapan dan Optimisme

Kini kita harus mendongak ke atas, di mana perang bintang diracik. Di mana mata-mata teropong dan satelit mengintai setiap geliat ummat Islam. Mereka telah mengendus arah yang baru ini, maka mereka harus membuat puak-puak baru sebagai preserve. Kalau saja antara Sunny dan Syi’ah satu pendapat dan berderap dengan langkah sama dalam masalah Palestina, haqqul yaqin Amerika, Inggris, Perancis, Spanyol, Italia dan Jerman ataun Rusia tak akan mampu melindungi Israel. Israel praktis dikepung oleh negara-negara berpenduduk muslim, namun tak satupun negara itu yang bebas dari perpecahan antara Sunny dan Syi’ah. Saudi Arabia dan Iran masing-masing berperan sebagai jenderalnya.

Akhirnya saya kutipkan sebuah hadits shahih yang juga dikutip oleh Barnaby Rogerson tentang keputusan ‘Ali KW ketika ditanya oleh ‘Abbas: Mengapa engkau tidak meminta kekuasaanmu? Beliau menjawab: Kalau Rasulullah sendiri tidak menunjukku menjadi penggantinya sebelum beliau wafat, maka sampai hari kiamat tidak ada yang akan memberikannya. Beliau lalu membaiat Abu Bakar sebagai tanda sebuah ketulusannya. Jadi sungguh aneh jika ada suatu kaum yang hendak merebut kekuasaan untuk dikembalikan kepada dia yang telah melepasnya. Sehingga tak ada yang patut dikatakan bahwa kaum itu memang hendak mengambil kekuasaan untuk dirinya sendiri.

Demikian apa yang mampu saya petik dari tulisan Barnaby Rogerson, sekaligus mendasari keyakinan saya bahwa kelak Sunny dan Syi’ah ini akan berdamai dan itulah saat-saat di mana negara zionis Israel akan dihapus dari peta dunia, seperti kata Ahmadi Nejad yang selalu diamini oleh Amin Rais.

Dengan segala kerendahan hati, maafkan saya jika salah memaknai.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 10 Muharram 1434 H

TGH Hasanain Juaini
Lombok-Nusa Tenggara Barat