HMINEWS.Com – Peristiwa G30S PKI telah berlalu 47 tahun, akan tetapi masih segar dalam ingatan. Tragedi tersebut menyisakan luka mendalam bagi korban PKI maupun korban kalangan yang membalas dendam dan menghabisi semua yang dinyatakan terkait dengan partai komunis tersebut.

Setelah pembunuhan tujuh jenderal dari TNI AD, aksi pembersihan PKI sampai ke akar-akarnya benar-benar mengerikan, dalam waktu kurang dari 6 bulan, kurang lebih satu juta orang tewas, tigaratusan-ribu menjadi tahanan politik.

“Peristiwa ini bukan saja sebagai tanda terjadinya perang saudara terbesar di Indonesia pasca kemerdekaan, tetapi juga peristiwa ini menandakan stabilitas politik di Indonesia masih sangat rapuh. Kesadaran sebagai sebuah kesatuan yang inklud di dalam sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia masih sangat kurang, bahkan kesatuan yang terjadi dalam membela negara pun seolah lenyap seketika,” kata Rangga Permata, panitia diskusi Rekonsiliasi Nasional Korban G30S PKI.

Menurutnya, walau bagaimanpun pembantaian terhadap semua anggota bahkan orang-orang dianggap dekat dengan PKI tidak dapat dibenarkan, karena tidak sedikit dari mereka tidak tahu apa-apa, bahkan sebagian besar anggota PKI tidak tahu dengan rencana yang dilakukan oleh para petinggi mereka pada waktu itu.

Seperti diketahui, kini pihak ‘anak-anak PKI’ berusaha menuntut hak dan permintaan maaf pemerintah, sementara ‘anak-anak korban PKI’ seperti ditunjukkan kalangan Anshor (NU) dan lainnya berkeras agar tidak usah mengungkitnya lagi.

Bagaimana mencari jalan tengah dari kondisi tersebut? Ikuti diskusi “Rekonsiliasi Nasional Korban G. 30 S. PKI; Menilik Peristiwa G. 30 S. PKI dengan Perspektif Kekinian”

Hari/ Tgl : Sabtu, 06 Oktober 2012
Waktu : 09.30 – 12.00
Tempat : Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) UII

Pembicara:

  • 1. Eko Riyadi, S.H., M.Hum (Direktur PUSHAM UII)
    Pelanggaran HAM selama peristiwa dan paska G30-S 1965
    Upaya penyelesaian pelanggaran HAM
  • 2. M. Syukri Fadholi (Ketua Yayasan Angkatan 66)
    Peluang dan tantangan rekonsiliasi
    Sejarah Rekonsiliasi yang pernah dilakukan
  • 3. Anang Zubaedi, S.H (Dosen FH UII)
    Instrumen Rekonsiliasi Nasional
    Relasi Negara dan pelanggaran HAM