Air dan pangan merupakan dua kebutuhan dasar manusia yang sangat penting dan hakiki. Selain sebagai syarat kehidupan (food & water for life), pangan dan air juga merupakan kehidupan itu sendiri  (food and water are life). Hari pangan sedunia pada tanggal 16 Oktober digagas sebagai bentuk perhatian badan pangan sedunia demi ketahanan pangan.

Sebelum industri dan teknologi menyerbu peradaban kita, pangan dan air telah menjadi bagian dari peradaban nenek moyang kita. Itu telah menjadi budaya dan karakteristik kehidupan kita. Sejak dahulu kala kita mengenal nenek moyang  kita sebagai seorang pelaut dan petani. Hal ini patut dimengerti karena keadaan wilayah kita yang  mendukung.

Korelasi pangan dan air terhadap peradaban (budaya) kita terlihat jelas dari  kekhasan jenis  dan cita rasa makanan pada setiap daerah. Cita rasa dan bentuk suatu makanan menunjukkan identitas atau budaya daerah. Ada masakan Padang dengan kekhasan rendangnya. Ada masakan Jawa dengan kekhasan cita rasanya yang cenderung manis dan masih banyak cita rasa masakan dan minuman yang menjadi kekhasan masing-masing  daerah.

Sejak jaman kolonial, negeri ini dikenal sebagai negeri dengan sejuta rempah-rempah dan bumbu-bumbu khas. Hal ini menunjukan bahwa hidup dan kehidupan masyarakatnya terpaut erat dengan pangan (daratan) dan  air (lautan) yang mengitarinya.

Dari rentang sejarah dan fenomena peradaban yang ada, rasanya tidak salah kalau kita mengatakan pangan dan air telah menjadi ‘bahasa’ persatuan kita.

Esensi Air

Kecukupan akan air dan makanan merupakan hak setiap manusia yang telah diatur dalam perundangan negara. Dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945 dijelaskan bahwa ‘Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat.’

Meski telah menjadi  tugas dan kewajiban negara, namun di beberapa tempat  kita menemukan fakta yang sangat memprihatinkan. Di sejumlah wilayah sepertinya tidak terjamah oleh negara dalam urusan pangan dan air ini. Penduduk di Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya masih harus memanggul air berkilo-kilo meter untuk mendapakan seteguk air untuk menghapus dahaga. Kekeringan di daerah Jawa Timur  dan beberapa darah lain di pulau Jawa  menunjukkan bahwa meski sumber air banyak, tapi debit air masih kecil dan tata pengelolaannya yang tidak benar sehingga tak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.

Masyarakat akhirnya harus membeli air atau menyewa tangki untuk mendapatkan air dari sumber terdekat. Air menjadi barang  komoditi yang mahal dan untuk mendapatkanya perlu biaya yang  tidak sedikit. Ironis memang.  Air yang seharusnya didapat dengan cuma-cuma dan mudah, sekarang  menjadi langka dan mahal.

Air sifatnya sangat esensil. Tubuh kita membutuhkan setidaknya 8 gelas air atau 2 liter air putih setiap hari. Air begitu penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh/homeostatis dan  memperlancar metabolisme tubuh. Saat tubuh kekurangan air, tubuh akan mengalami dehidrasi dan  kondisi tubuh mengalami penurunan sehingga tidak efektif saat beraktifitas.

Kurang air juga dapat membuat kandungan darah menjadi kental sehingga aliran darah akan terhambat dan  fungsinya sebagai pendistribusi makanan dan oksigen menjadi terganggu. Hal ini berpengaruh pada  ginjal karena ginjal harus ekstra kerja keras menyaringnya. Akibatnya, berbagai penyakit muncul atau timbul karena gangguan-gangguan ini. Belum lagi keadaan air yang kotor dan tidak layak konsumsi. Air yang tidak higienis mengandung zat toksin yang dapat menimbulkan penyakit kulit, kholera, typus, bahkan kanker. Karena itu, ketersediaan air bersih dan layak konsumsi penting diperhatikan.

Pembangunan pusat kota dan gedung-gedung  serta perumahan yang marak saat ini ikut memperparah ketersediaan air bagi masyarakat. Mengapat tidak? Pembangunan yang hampir tak terkendali itu tidak memperhatikan aspek-aspek lingkungan. Hampir tidak ada lagi area terbuka untuk peresapan air hujan. Tidak sedikit bangunan bertingkat atau perumahan-perumahan yang dibangun dengan mengenyampingkan system pembuangan air. Akibatnya, pori-pori tanah untuk drainase tidak tersedia yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya ketersediaan air serta turunnya permukaan tanah.

Krisis air di berbagai daerah seharusnya membuka mata kita untuk lebih sadar akan pentingnya kepedulian terhadap ketersediaan air  yang higenis dan  berkelanjutan (cukup).

Kalau demikian yang terjadi. Apa yang harus kita lakukan? Untuk mencegah kelangkaan air bisa dilakukan dengan tindakan sederhana seperti mematikan kran air jika tidak memakainya, mandi dengan shower lebih menghemat penggunaan air, air bekas cucian bisa digunakan kembali untuk menyiram tanaman, mengurangi konsumsi barang yang boros air, tidak terlalu sering mencuci bila tidak perlu, dan melakukan penghijauan.

Esensi Pangan

Sesungguhnya kelangkaan pangan hanya disebabkan oleh dua (2) hal. Pertama,  kurangnya produksi pangan. Dan, kedua kelebihan konsumen.

Kurangnya produksi pangan  biasanya terjadi akibat keterbatasan lahan produksi, rendahnya teknologi, manajemen yang buruk dan minimnya sarana dan prasarana transportasi. Kesulitan untuk menghentikan laju konversi lahan sawah menjadi kegunan lain. Sementara, kelebihan konsumen umumnya terjadi karena  jumlah penduduk yang terus meningkat.

Kendala-kendala tersebut tentu saja perlu penanganan khusus. Untuk menekan ledakan penduduk pertambahan penduduk perlu mengefektifitaskan program keluarga berencana yang telah dicanangkan pemerintah.  Sehingga keseimbangan antara ketersediaan pangan dan jumlah penduduk dapat tercapai.

Dunia trading seringkali menampilkan cover yang menarik untuk mendapat penilaian lebih dari konsumen. Untuk manajemen pertanian dan pemasaran misalnya, mulai dari petani sampai ke pembeli prosesnya masih sangat rumit. Packaging (pengemasan) barang cenderung dilakukan oleh pihak supplier, sedangkan tak semua supplier bersedia melakukan hal ini. Beda dengan produk impor yang sudah dipak dengan baik dan rapi. Kualitas buahnya juga baik dan menarik. Selain itu,  pengiriman barang impor cenderung lebih murah dibanding pengiriman barang lokal.

Jauhnya jarak suatu tempat dan  sarana transportasi yang buruk masih belum mampu  mendukung dunia industri dan perdagangan. Biaya transportasi  yang tinggi mengakibatkan harga barang otomatis juga tinggi untuk menutupi biaya produksi. Sehingga penanganan transportasi perlu penataan serius. Tidak saja pada tataran perencanaan tapi  pada tataran realisasi.

Disamping itu sistem pertanian kita masih membutuhkan perluasan lahan. Lahan yang luas bisa  menghasilkan kuantitas tanaman lebih banyak. Tentu saja hal ini mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan laba dari hasil pertanian. Menggunakan peralatan berteknologi tinggi sebagai perbaikan infrastruktur juga mampu meningkatkan kualitas serta kuantitas ketersediaan pangan.

Naiknya harga kedelai beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa buruknya sistem  pemasaran. Meskipun tanaman jagung, kopi, teh, dan beberapa komoditas lain mengalami peningkatan di tahun ini . Impor untuk jenis hortikultura masih menyaingi. Buah durian misalnya, pasokan durian montong  asal Thailand semakin banyak. Pasokan durian Sumatera sudah berkurang. Sama halnya dengan buah jeruk Mandarin, pisang Cavendish, apel Washington, anggur dan lain-lain.

Menurut data statistik kita masih bergantung kepada asing terutama untuk gandum, kedelai, susu, gula dan daging sapi dengan tingkat ketergantungan rata-rata di atas 50%. Tahun 2014 sebagai target pencapaian swasembada pangan untuk lima komoditas strategis yaitu: beras, jagung, kedelai, gula, dan daging. Akankah terealisasi pencapaian tersebut?

 Bersadarkan ‘ramalan’ produksi badan pusat statistik, target untuk pemenuhan 10 juta ton beras, gula 4,2 juta ton, kedelai 2,5 juta ton tahun 2014 sulit tercapai. Hal ini tentu saja perlu diperhatian berbagai pihak sehingga masalah kedaulatan pangan dapat tercapai serta untuk menjaga stabilnya komoditas hortikultura. Tentu saja ini tak lepas dari peran negara untuk menjamin ketersediaan pangan dan air bagi warganya sesuai amanat undang-undang.

DPR RI sedang membahas dan menyiapkan RUU pangan, revisi RUU tentang peternakan dan kesehatan hewan no 18 tahun 2009, dan RUU tentang perlindungan dan pemberdayaan petani. Pemberdayaan petani merupakan jalan yang baik untuk memberi kepastian wajib melindungi petani dan agribisnis yang akan memperkuat potensi-potensi pangan lokal.

Maria Timmen Surbakti
Pekerja Sosial