Oleh: Nur Rachmansyah*

Pada tanggal 5 Februari 1947 bertepatan dengan 14 Rabiul awal 1366 H telah di deklarasikan berdirinya sebuah organisasi mahasiswa Islam yang bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakarsai oleh  sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).

Pada saat itu HMI merupakan satu-satunya organisasi mahasiswa Islam yang independen karena HMI lahir tanpa campur tangan pihak luar manapun, dicetus oleh mahasiswa sendiri. Menurut catatan sejarah sejarah, HMI lahir di ruang kuliah  di tengah semangat kebangsaan yang tinggi. Konfigurasi politik, ekonomi, sosial, pendidikan, agama dan kebudayaan yang memang pada masa itu turut mematangkan kelahiran dan keberadaan HMI di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Agussalim Sitompul, salah seorang alumni HMI yang selama ini aktif menulis sejarah HMI telah mencatat, faktor mendasar berdirinya HMI sekurang-kurangnya ada tiga hal Yaitu (1) Adanya kebutuhan penghayatan keagamaan di kalangan mahasiswa Islam yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi, yang selama itu belum mereka nikmati sebagaimana mestinya. Karena pada umumnya mahasiwa Islam belum memahami dan kurang mengamalkan ajaran agamanya, sebagai akibat dan kondisi pendidikan dan kondisi masyarakat kala itu; (2) Tuntutan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, yang ingin melepaskan diri, bebas sebebas-bebasnya dari belenggu penjajahan; (3) Adanya Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), sebagai ajang dan basis mahasiswa Islam saat itu. Apalagi secara sosiologis bangsa Indonesia mayoritas berpenduduk muslim.

STI yang kini menjadi UII turut menjadi saksi sejarah lahirnya HMI, merupakan Perguruan Tinggi yang penuh dengan dinamika sejarah perjuangan bangsa Indonesia. STI sendiri lahir pada tanggal 8 Juli 1945 bertepatan dengan 27 Rajab 1364 H juga didirikan oleh para pendiri bangsa antara lain Moh Yamin, KH. Kahar Muzakir, Mas Mansur, Moh. Hatta, M. Natsir, KH. Wahid Hasyim beserta tokoh-tokoh kemerdekaan lainnya.

Dari sejarah kelahiran dan tujuannya, HMI dan UII mempunyai Visi dan tujuan yang pada subtansinya sama. Tujuan HMI sendiri Terbinanya Mahasiswa Islam menjadi Insan Ulil albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang di ridoi Allah SWT. Sedangkan VISI dari UII sendiri adalah terwujudnya Universitas Islam Indonesia sebagai Rahmatan lil’alamin. Penegasan dari tujuan HMI dan Visi UII menunjukkan bila HMI dan UII sama-sama ingin menciptakan masyarakat “Baldayatun Thayibatun warabbun Ghafur”.

Menurut Awalil Rizky, salah seorang Alumni HMI, sejarah awal HMI dilatari oleh pemikiran modern. Pemikiran ini pula mewarnai ide-ide HMI selama puluhan tahun. Namun sejak pertengahan tahun 1970an dan puncaknya pada tahun 1980an. Terdapat banyak buku berisikan pandangan kelompok “Neo fundamentalis” seperti Ikhwanul Muslimin dan sebagainya. Dan juga tidak kalah penting sumber pemikiran kader HMI juga terinspirasi pada keberhasilan Revolusi Iran. Misalnya pemikiran Ali Syari’ati, Murtadha Mutahari, Imam Khomeini yang berkontribusi terhadap kebangkitan Islam di Iran. Pemikiran-pemikiran tersebutlah yang menjadi dasar dan motivasi pemikiran kader HMI di UII.

Di UII, para kader HMI banyak berperan dalam dinamika kampus baik dari segi keagamaan maupun dari segi lembaga intra. Bahkan dalam sejarah dunia kelembagaan UII HMI pernah menjadi salah satu organisasi intra kampus selain Senat Mahasiswa (SM). Hal itu tidak lain karena pengaruh Lafran Pane, yang saat itu juga menjabat sebagai ketua III Senat STI. Sampai perkembangannya saat ini HMI juga telah mempunyai banyak peran dan pengaruh dalam pengembangan lembaga intra  kampus di UII baik di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), maupun lembaga-lembaga lainnya yang telah masuk dalam struktur Keluarga Mahasiswa (KM) UII.

Kini juga telah banyak Alumni HMI serta UII yang menjadi tokoh bangsa, antara lain, Mahfud MD (Ketua MK), Artidjo Alkostar (Hakim Agung), Salman Luthan (Hakim Agung), Suparman Marzuki (Komisioner KY), Mahdir Ismail (Advokat), Rusli Muhammad (Dekan FH UII). Tentunya keberhasilan para Alumni HMI dan UII menjadi para tokoh bangsa bukan merupakan sesuatu yang instan, tetapi melalui suatu proses yang sangat panjang dan penuh dengan dinamika perjuangan, baik pada saat mereka menjadi mahasiswa maupun pada saat paska mahasiswa.

Diakui, mahasiswa yang mengenyam pendidikan di UII merupakan mahasiswa yang memiliki kecerdasan dan kemampuan akademis yang relatif tinggi. Karena itu, tradisi UII yang banyak melahirkan tokoh, dipastikan akan terus berlanjut karena sejak masih mengenyam pendidikan, banyak mahasiswa yang sudah menorehkan prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Dengan  demikian mahasiswa UII sangat besar potensinya untuk menjadi agen perubahan bangsa. Namun potensi itu tidak akan berbuah apa-apa bila tidak di munculkan. Oleh sebab itu, berbagai macam kegiatan yang sifatnya meningkatkan potensi kedirian maupun keorganisasian harus diikuti mahasiswa agar memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan bagi diri sendiri, lingkungan, bangsa dan negara ke arah yang lebih baik.

HMI sebagai pergerakan mahasiswa yang senantiasa kritis dan melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang bermaksud memunculkan ketidakadilan dalam kehidupan kampus, masyarakat, dan berbangsa dan bernegara. Tentunya yang ingin dituju adalah terciptanya masyarakat yang islami dan dilandasi peradaban tauhid. Sebagaimana tujuan HMI serta Visi UII yaitu tercapainya masyarakat “Baldayatun Thayibatun warabbun Ghafur” maka dibutuhkan sumber daya manusia yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Karena itu, Perkaderan dan Perjuangan dalam HMI merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Diperlukan kader-kader yang progresif yang bisa menjadi agen perubahan dan mampu memberikan kontribusi besar terhadap kontruksi Indonesia baru yang lebih adil. Dalam hal ini cara berpikir kritis dan sikap independensi yang selalu berpihak terhadap kebenaran menjadi elemen vital yang harus dimiliki oleh kader HMI.

*Kader HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Hukum Universtas Islam Indonesia.