HMINEWS.Com – Dunia politik Indonesia dalam masa transisi. Bila sebelumnya ketakutan (fear) dijadikan pilar kekuatan otoriter, sekarang yang menjadi pilar adalah kepercayaan (trust). Menyikapi hal itu, maka politik umat Islam harus pula berubah.

“Dan saya melihat politik umat Islam harus mengalami pergeseran, dari politik yang amat sarat dengan identitas – di mana komponen representasi menjadi amat penting- bergeser menjadi politik meritokrasi,” ujar Anies Baswedan pada orasi Kebangsaa HUT KAHMI di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (17/9/2012).

Sebab yang dinilai kini bukan lagi ideologinya semata, akan tetapi kualitas ide dan gagasan, termasuk kualitas pemimpinnya. Dalam politik meritokrasi yang dinilai bukan siapanya, akan tetapi dari gagasannya.

Dari itu menjadi tanggungjawab partai politik untuk menyediakan pemimpin-pemimpin yang baik untuk ditawarkan. “Tanggungjawab partai menawarkan yang terbaik, tanggungjawab pemilih memilih yang terbaik,” tegas alumni HMI Cabang Yogya tersebut.

Hal itu mengingat tidak mungkin rakyat meneliti secara detail para pemimpin yang akan mereka pilih. Parpol yang harus menggodoknya, sehingga yang ditawarkan kepada rakyat adalah yang terbaik.

Anies mengatakan masih ada pemimpin-pemimpin berkualitas saat ini, akan tetapi karena tingginya self interest  (kepentingan pribadi atau kelompoknya saja), kualitas tersebut jadi tidak terlihat.

“Biasanya di Indonesia, kompetensinya baik, integritasnya baik, intimacy-nya juga masih oke, tapi self interestnya amat besar. Efeknya, trust menurun,” lanjutnya.

Apalagi yang marak sekarang politisi hanya mengedepankan pencitraan untuk membangun reputasi, bukan membangun karakter. Padahal yang seharusnya dalah karakter yang dibangun, reputasi akan mengikuti.

Peraih penghargaan 100 tokoh berpengaruh dunia tersebut tidak memungkiri bahwa tidak mungkin menghilangkan sama sekali self interest.

“Tidak mungkin self interet nol, tapi bagimana mengelolanya sejalan dengan kepentingan bangsa,” ujarnya.