HMINEWS.Com – Sekretaris Lembaga Kajian Buddhis Institute Nagarjuna, Eko Nugroho Rahardjo, menyatakan kekerasan yang menimpa umat Muslim Rohingya di Myanmar sebagai persoalan kemanusiaan yang lebih luas. Tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan sentimen keagamaan.

“Tindakan rezim penguasa di Myanmar sama-sama kita ketahui adalah perilaku rezim militer  yang cenderung diktator dan biadab. Kebijakan junta militer Myanmar telah memakan korban rakyatnya sendiri dalam jumlah tak terhitung, bukan saja warga Muslim Rohingya, termasuk juga warga Buddhis dari etnis-etnis terpinggirkan seperti suku Karen yang juga mengalami genosida,” kata Eko Nugroho Rahardjo kepada HMINEWS.Com, Kamis (26/7/2012).

Bahkan p ada 2007, lanjut Eko, para bikkhu yang turun dalam gerakan Safron (para pendukung Aung San Suu Kyi) juga mengalami kekejaman junta militer yang bertangan besi untuk mempertahankan kekuasaan politiknya.

“Jadi melihat situasi yang berkembang adalah dampak berkelanjutan dari masih berkuasanya junta militer myanmar. Dari kami komunitas Buddhis mempunyai optimisme bahwa keadaan ini akan berubah hanya jika Aung San Suu Kyi kelak memimpin pemerintahan dan mengubah kebijakan, menghapuskan cara-cara militeristik dan mengembalikan kedaulatan rakyat, menegakkan demokrasi yang mengedepankan kesejahteraan sosial dan perdamaian seperti yang selama ini selalu diserukan dan dicontohkan oleh Aung San Suu Kyi dalam aksi-aksi dan perjuangannya yang anti kekerasan,” lanjut Eko yang juga alumni HIKMAHBUDHI.

Gerakan politik yang mungkin kita lakukan, kata dia, adalah mendesak dan menekan rezim militer Myanmar untuk bertanggung jawab atas segala kejahatannya selama ini. Bisa juga merekomendasikan tindakan junta militer Myanmar sebagai kejahatan kemanusiaan yang harus diadili oleh PBB.

“Kabarnya dalam waktu dekat presiden Myanmar Thein Shein akan menghadiri undangan dari istana/rezim SBY (mungkin sekitar Oktober) mungkin bisa menjadi momentum juga untuk melakukan aksi bersama,” kata mantan Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI 2007-2009 tersebut.

Mewakili umat Buddhis, khususnya HIKMAHBUDHI, Eko berharap dalam melihat persoalan Muslim Rohingnya tidak terjebak dalam pertentangan primordialisme/ sentimen keagamaan/ SARA.

“Sekali lagi, penderitaan warga Muslim Rohingnya adalah sama dengan derita yang dialami oleh ribuan mungkin jutaan pendukung Aung San Suu Kyi yang mungkin seratus persen adalah Buddhis, sebagai korban junta militer Myanmar dari jaman Jenderal Than Swee hingga Thein Sein sekarang ini,” pungkasnya.

Fathur