HMINEWS.Com – Setelah 14 tahun reformasi bergulir, partai politik orde baru, yaitu Golkar bangkit kembali. Namun masalah tidak hanya ditimbulkan orde baru, sebab semua partai politik kini dinilai sama saja, hanya sebagai alat kekuasaan untuk segelintir orang.

Demikian mengemuka dalam diskusi “Bangkitnya Golkar dan Partai-partai Neo-Orba,” yang digelar Kelompok Kerja Petisi Limapuluh di RM Suharti, Jakarta Selatan, Rabu (18/7/2012).

“Golkar sekarang dan kadernya masih generasi dari rezim Orba, dan semua partai maling, karena parpol hanya dijadikan sebagai alat kekuasaan untuk kepentingan segelintir orang,” kata aktivis reformasi, Kasino.

Sementara mengomentari era kebebasan kini, Thamrin Amal Tamagola menyatakan dari perspektif sejarah rezim sekarang adalah rezim post-otoritarian, di mana kebebasan dibuka namun dibiarkan tanpa arah. Menurutnya, yang harus dilakukan adalah mengokohkan lembaga demokratis seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai hasil reformasi.

“Selanjutnya kaderisasi yang baik untuk memproduksi pemimpin dengan sistematis di organisasi serta penguatan kemandirian desa dalam mengimbangi kekuatan pasar modal,” kata sosiolog Thamrin Amal Tamagola.

Pembicara ketiga, pengamat politik Arbi Sanit menilai Indonesia pascareformasi kembali terperangkap dalam kemandegan. “Reformasi hanya sebatas amandemen. Partai Orba berani mencalonkan presiden serta 70 persen kelas menengah masih apolitis. Kegagalan reformasi karena tidak punya konsep yang jelas pasca Suharto,” tandas Abri Sanit.

Akbar