HMINEWS.Com – Pengamat Politik Abri Sanit menyatakan, kegagalan reformasi karena tidak punya konsep yang jelas pasca Suharto. Karena itu Indonesia harus kembali menegaskan idologi serta menguatkan oposisi yang kritis.

“Kita harus punya ideologi serta sistem presidensial yang mengharuskan adanya oposisi yang kritis,” kata Arbi Sanit dalam diskusi “Bangkitnya Golkar dan Partai-partai Neo-Orba” di RM Suharti, Jakarta Selatan, Rabu (18/7/2012).

Sedangkan Mochtar Pabottingi, peneliti utam LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) mencatat ada dua hal yang terabaikan sejak era Demokrasi Terpimpin, Orba hingga Reformasi. “Ketidakpedulian terhadap nation dan ketiadaan demokrasi (kedaulatan rakyat),” kata dia.

Di zaman Suharto, kata pembicara kelima, Marti Aleida, menegaskan bahwa Petisi 50 pernah mendorong pembubaran Orba dan generasinya. Namun begitu, Petisi 50 mengakui di zaman tersebut sistem check and balance diterapkan, akan tetapi di era sekarang legislatif nyaris tanpa kontrol.

Aktivis Petisi 50, Judilherry Justam, melihat yang tidak kalah penting harus dilakukan sekarang adalah penguatan lembaga kemasyarakatan atau aksi lain yang nyata meskipun kecil, daripada hanya sekedar berwacana. Ia menegaskan, jangan ada lagi kompromi dengan Orba dan generasinya.

“Harus tegas dan konsisten serta tidak berkompromi antara aktivis dengan Orba serta Generasi Orba,” tandas Judilherry Justam.

Arbi Sanit menimpali, kekacauan bisa diperbaiki, karena memang tugas generasi 45 adalah mengkonsep, sedangkan generasi masa kini memperbaiki, yaitu memperbaiki pemilu, bukan dengan jalan revolusi yang mahal. Dengan cara tersebutlah diharapkan akan lahirnya pemimpin yang mengedepankan perbaikan bangsa.

Akbar