Kelangkaan kedelai yang merupakan bahan baku tempe dan tahu mengakibatkan harga kedelai tersebut melambung tinggi. Tahu dan tempe yang merupakan makanan khas “orang kecil” di Indonesia nampaknya tak lagi cocok dikatakan demikian, karena nyatanya simbol itu tak dapat lagi dinikmati oleh masyarakat kelas bawah seperti biasanya.

Permasalahan ini muncul akibat berbagai hal yang terjadi dalam sistem atau regulasi dunia pertanian di Indonesia. Persentase kedelai yang ada di Indonesia tahun 2008-2009 impor kita 60%, kemudian naik hingga 65%.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa importir kedelai terbesar Amerika adalah Indonesia, dan kedelai yang diimpor adalah kedelai transgenik yang secara pembudidayaan lebih baik daripada petani Indonesia. Sebab pertama terjadinya kelangkaan pasokan kedelai berkurang adalah karena negara eskportir dilanda kekeringan, akibatnya pasokan kedelai kita menurun, harga kedelai semakin meningkat karena ketersediaan barang yang diminta sedikit tapi permintaan banyak.

Setelah ditelaah ternyata impor kedelai kita mencapai angka 70%. Sehingga pasokan kedelai dalam negeri tidak mencukupi. Alhasil meledaklah harga kedelai, dari Rp5000’an sekarang dapat mencapai Rp8000 per kilogram.

Hal lain yang menjadi awal permasalahan adalah pemerintah cenderung menggunakan kebijakan impor untuk mengatasi harga barang dan memenuhi kebutuhan konsumsi. Akibatnya, harga jual produk pertanian seperti kedelai menurun dan tidak stabil. Sehingga petani tidak suka menanam kedelai yang seharusnya kedelai dapat ditanam pada saat perlakuan rotasi tanaman, yaitu antara padi dan palawija.

Oleh karena itu petani lebih suka menanam tanaman lain yang harganya lebih tinggi. Kebijakan impor ini bukan hanya terjadi pada tanaman kedelai saja, namun beberapa produk pertanian lain juga diberlakukan kebijakan impor yang ujungnya terdapat permainan antar pembuat kebijakan. Untuk kebijakan jangka pendek impor dapat menjadi solusi, namun nyatanya pemerintah tidak membuat solusi jangka panjang agar tak lagi melakukan kebijakan impor.

Kebijakan pemerintah seharusnya bukan hanya berdasarkan pemenuhan kuantitas barang produksi, tetapi harus mengacu pada pemenuhan kebutuhan petani agar petani terjamin dan terlindungi sehingga petani semangat untuk menanam karena akan mendapat keuntungan yang besar.

Ketika produksi petani lokal dapat ditingkatkan dari segi kuantitas dan kualitas maka kebijakan impor tak perlu lagi diberlakukan. Kemudian adanya tengkulak juga berpengaruh terhadap spekulasi harga, contohnya dengan terjadi penimbunan. Pemerintah harus intervensi permasalah tersebut supaya tidak merugikan petani secara terus-menerus, agar petani bergairah menanam kedelai.

Aufa Taqiya
Ketua Umum HMI Cabang Sleman