Puasa merupakan miniatur kehidupan, sekaligus sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Manusia dinilai lulus ujian bukan hanya saat menjalankan puasa, akan tetapi ketika tiba waktunya berbuka. Sama dengan fase hidup, manusia utama bukan hanya yang gigih dalam berjuang, akan tetapi dilihat bagaimana ketika dia sampai di puncaknya.

Kalau dilihat secara umum,  manusia memang seperti yang Lord Acton katakan, akan cenderung menyeleweng dalam menggunakan kewenangan atau kekuasaannya.

Mampu menahan diri selama berpuasa itu wajar, sebab memang sudah diniatkan, dan benar-benar disadari pantangan larangan yang harus dihindarinya. Selain itu dia tidak sendiri, akan tetapi banyak orang lain yang senasib, sama-sama menjalankan puasa sebagaimana dirinya.

Banyak yang lulus menjalani puasa menahan diri dari makan, minum dan berbagai hal lain. Akan tetapi begitu sudah waktunya berbuka, baru akan diketahui akankah ia berlebihan memanfaatkan kebolehan itu, atau tetap bersikap sederhana, memakan seperlunya saja dan menahan diri dari berlebih-lebihan. Puasa yang tidak hanya mengganti jadwal makan-minum, apalagi dengan porsi yang lebih banyak.

Godaan puncak dalam hidup bukan saat berjuang, meski dalam perjuangan itu sendiri pasti penuh godaan, akan tetapi justru godaan terbesar adalah ketika perjuangan tinggal menikmati hasilnya. Di saat itulah iman diuji, apakah akan menggunakan kekuasaan yang diraih itu dengan sesuka hati atau tetap dengan mawas diri.

Banyak pejuang, aktivis-mahasiswa yang meraih kekuasaan politik, akan tetapi kemudian tidak sama ubahnya dengan generasi yang mereka gantikan, yang dahulu selalu dihujat dan didesak mundur. Tapi nyatanya, mereka hanya menggantikan kedudukan dengan tetap melanjutkan bahkan melestarikan korupsi yang lebih mengerikan.

Semoga kita terhindar.