Hasil pemilihan gubernur DKI Jakarta meleset dari semua survey yang dipublikasikan, yang menempatkan pasangan nomor urut 1 Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli sebagai kandidat teratas. Sebenarnya bukan survey yang meleset, karena bukan hasil survey itu sendiri yang jadi penentu final, akan tetapi ketepatan memperlakukan hasil survey itulah yang menentukan kemenangan.

Sebab dari semua survey yang ada, rata-rata menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda,  seperti Lingkaran Survey Indonesia ( dengan angka 43,7% untuk Fauzi-Nachrowi dan 14,4% untuk Jokowi-Ahok) dan Indo barometer (36,6% untuk Fauzi-Nachrowi dan 17,9% untuk Jokowi-Ahok), serta sejumlah lembaga survey lainnya. Dengan margin error yang kecil, ditambah pengalaman lembaga-lembaga survey tersebut.

Survey hanya menggambarkan kondisi dan waktu survey tersebut diadakan,  yaitu H-14 sampai H-7 pencoblosan. Bisa jadi begitulah adanya peta pilihan para warga DKI Jakarta pada saat survey diambil, akan tetapi yang harus diingat adalah pilihan manusia bisa diubah-ubah, sesuai faktor yang mempengaruhi. Dan kemenangan selanjutnya ditentukan oleh ketepatan dalam memperlakukan hasil survey tersebut.

Sukses tidaknya pilkada tidak lepas dari peran tim sukses dan figur calon yang maju, juga dari para pemilih yaitu warga Jakarta dengan berbagai harapan yang kemudian dikapitalisasi secara cerdas juga oleh tim sukses dan pasangan calon. Aspirasi warga yang berhasil dikapitalisasi oleh pasangan Jokowi-Ahok yaitu berupa keinginan kuat terhadap adanya perubahan radikal terhadap masalah ibukota, yaitu kemacetan dan kesemrawutan, banjir dan penggusuran. Sedangkan selama 5 tahun menjabat, Fauzi Bowo terlihat kurang bisa menghasilkan perubahan berarti terhadap permasalah utama DKI, contohnya dalam mengatasi kemacetan lalu lintas.

Di samping itu, meski kerap dikatakan bahwa memori publik makin pendek atau gampang lupa, namun itu dapat dikuatkan dengan satu sentuhan saja, dengan cara membongkar kembali berita-berita lama. Dengan begitu khalayak diingatkan kembali bagaimana janji-janji Foke (Fauzi Bowo) dahulu yang mengklaim sebagai ahlinya Jakarta, yang ternyata kurang mampu. Juga terhadap berbagai penggusuran, termasuk yang menelan banyak korban seperti penggusuran makah Mbah Priok.

Warga Yang Mengubah Pilihan

Berubahnya pilihan warga, jika kita asumsikan bahwa survey sebelumnya itu akurat, terdorong oleh faktor dari luar dan faktor dari dalam, yang keduanya bekerja secara simultan. Seperti diketahui, mayoritas manusia bisa mengubah keputusan melalui pertimbangan seiring beragamnya informasi yang mereka terima.

Iklan kampanye Foke di media massa memang lebih banyak dibanding Jokowi, akan tetapi dari karakternya, iklan tersebut bersifat pembelaan diri terhadap kekurangan jalannya pemerintahan provinsi, seperti janji realisasi pembangunan MRT (mass rapid transportation), realisasi pembangunan sejumlah koridor busway dan lainnya. Juga iklan yang kurang cerdas bagi warga Jakarta seperti keuntungan Pilkada satu putaran dengan memilih incumbent agar pembangunan cepat berlanjut.

Sedangkan iklan kampanye Jokowi terkesan lebih smart, meski tidak muluk-muluk, akan tetapi menyentuh kebutuhan mendasar warga Jakarta dan itu mempengaruhi pilihan warga. Warga juga bisa mengubah pilihan karena treatment dan pendekatan tim sukses Jokowi terhadap pemilih.

Untuk kasus yang satu ini ada satu contoh yang dapat diambil dari kisah menjelang Baratayudha, perang antara Pandawa-Kurawa.

Waktu itu Prabu Salya dari negara Mandaraka dalam perjalanan untuk bergabung dengan pihak Pandawa. Namun saat beristirahat di tengah perjalanan, pihak Kurawa mendatangi rombongan Prabu Salya dan menghidanginya jamuan makan, yang tanpa curiga diterima dengan senang hati. Begitu selesai makan, Prabu Duryudana mengutarakan maksudnya meminta Prabu Salya bergabung dengannya untuk melawan Pandawa.

Karena jamuan makan tersebut, Prabu Salya ‘terjebak’ hutang budi, merasa tidak enak hati (pekewuh) dan tidak bisa berkelit menolak ajakan Duryudana yang tidak lain juga menantunya tersebut. Hingga akhirnya sang prabu mengorbankan diri beserta bala pasukannya di pihak Kurawa.

Meski contoh dari dunia wayang, kisah tersebut senantiasa relevan hingga kini tentang bagaimana menggalang dukungan, yang kadang diabaikan oleh pihak-pihak yang sudah kepedean yakin menang. Meski tentu saja contoh tersebut tidak berpretensi menempatkan siapa-siapa sebagai ‘Pandawa’ atau ‘Kurawa.’

Fathurrahman