HMINEWS.Com – Pengamat Hukum Universtias Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar mengatakan sulit membedakan antara popularitas dan gencarnya kinerja lembaga penegak hukum.

Kinerja aparat penegak hukum, kata Zainal, selama ini memiliki dua makna, yaitu mencari popularitas dan menegakkan hukum untuk kebaikan. Oleh sebab itu yang paling penting adalah hasil akhir dari kinerja mereka.

“Yang perlu dilihat bukan titik popularitas tetapi daya gunanya. Apakah yang dikerjakan KPK, BPK berhasil dan memiliki pengaruh untuk pemberantasan korupsi,” kata Zainal Arifin Mochtar dalam dialog bersama Pro3 RRI, Kamis (26/7/2012).

Sebelumnya Presiden SBY dalam rakor di Kejagung mengingatkan agar aparat penegak hukum seperti KPK, Polri dan Kejaksaan Agung saling berkoordinasi dan tidak perlu berebut popularitas di media massa. Zainal menganggap imbauan tersebut sia-sia akibat sulitnya memisahkan antara kerja riil dengan kerja yang hanya pencitraan semata.

“Kalau bicara populiartitas sebenarnya sulit dipisahkan karena semakin gencar melakukan sesuatu maka akan semakin tinggi popularitas. Itu yang sulit dibedakan. Harus diakui dalam kapasitas tertentu, presiden melakukan hal yang sama. Dia melakukan pekerjaan untuk membangun citranya,” ujarnya.

Zainal berharap seharusnya Presiden bertindak tegas saja terhadap anak buahnya yang melanggar hukum. Teguran saja tidak cukup tanpa langkah yang berani. (RRI)