HMINEWS.Com – Pemerintah dan para orangtua dituntut lebih memperhatikan kebutuhan anak. Memastikan anak-anak tumbuh kembang dalam suasana yang kondusif, jauh dari kekerasan maupun tontonan yang tidak sesuai dengan dunia anak-anak.

Hal itu mengemuka dalam aksi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Negeri Surakarta. Mahasiswa menilai, anak-anak sekarang mengalami gempuran tontonan televisi yang kurang mendidik, maraknya game online hingga kampung-kampung dan penggunaan perangkat canggih seperti gadget yang kerap berisi konten kekerasan atau pornografi.

“Kami sebagai calon pendidik sangat miris melihat situasi itu. Semua itu karena lepasnya tanggungjawab dari orangtua dan kebijakan pemerintah yang tidak pro anak, sehingga anak mengalami proses tumbuh kembang yang tidak natural. Banyak anak yang dewasa sebelum waktunya dan kehilangan momentum mereka,” kata koordinator aksi, Aminudin sebagaimana dikutip Solopos, Minggu (22/7/2012).

Dalam aksi tersebut, BEM FKIP UNS melibatkan puluhan anak dari dusun binaan yang diajak menyerukan aspirasi dan kebutuhan mereka akan situasi lingkungan yang mendukung perkembangan anak dan pola pikir mereka.

Aksi yang berlangsung di Jalan Slamet Riyadi tersebut menghasilkan lima rekomendasi. Pertama, membatasi anak dalam menonton tayangan televisi untuk dewasa. Kedua, membatasi anak bermain game online. Ketiga, melarang tegas anak di bawah umur mengendarai sepeda motor atau memberikan perangkat teknologi canggih. Keempat, mengenalkan anak dengan lagu dan permainan anak, dan terakhir, membatasi pergaulan anak dari lingkungan orang dewasa. (Sp)