HMINEWS.Com – Bulan Juni kaya dengan hari kelahiran tokoh bangsa Indonesia. Di antaranya ada Tan Malaka (lahir 2 Juni 1897), Sukarno (6 Juni 1901) dan, tentu saja, Suharto (8 Juni 1921) serta Ahmad Yani (19 Juni 1922).

Dua nama yang disebut pertama hidup sezaman dan sama-sama tokoh pergerakan nasional. Bagi Sukarno, Tan Malaka merupakan calon terkuat pengganti dirinya memimpin republik apabila terjadi apa-apa padanya.

“Kalau saya tiada berdaya lagi, maka kelak pimpinan revolusioner, akan saya serahkan kepada saudara,” kata Sukarno kepada Tan Malaka sewaktu di rumah Sukarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, disaksikan dr Suharto, dokter keluarga Sukarno.

Dalam bukunya “Dari Penjara Ke Penjara,” Tan Malaka berkisah banyak mengenai perjalanan hidup dan perjuangannya. Tidak saja di Indonesia, tapi juga di berbagai negara di dunia: Eropa, Rusia, Cina dan negara-negara Asia Tenggara selama menjalani masa sebagai orang buangan dan menjadi buron karena sepak terjangnya terhadap penjajah di Indonesia.

Selama masa itu, Tan Malaka harus berganti-ganti nama dan identitas, serta sebisa mungkin mengaburkan penampilannya agar tidak dikenali supaya tidak tertangkap polisi yang memburunya. Di RRT (Cina) dia menjadi guru bahasa Inggris.

Pengembaraan Tan Malaka tidak sekedar pelarian, lebih dari itu, kedatangannya ke Filipina mampu memompa semangat perlawanan rakyat sana untuk merdeka.

Dari Kelahiran Hingga Perjuangan

Tan Malaka lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki Sumatera Barat, 2 Juni 1897. Gelar kebangsawanannya adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Menempuh pendidikan Islam kepada guru-gurunya di Suliki dengan menghafal Alqur’an, belajar fiqih dan berbagai ilmu keislaman lainnya. Karena kecerdasannya, setamat dari Kweekschool Bukit Tinggi, pada usia 16 tahun Tan Malaka disekolahkan oleh gurunya ke Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda.

Ia kembali ke Indonesia pada 1919 dan menjadi guru di perkebunan di Deli. Dari situlah ia melihat penindasan dan pemerasan kolonial Belanda terhadap rakyat Indonesia yang benar-benar keterlaluan. Ia pun tidak dapat menahan diri berlama-lama menjalani profesinya tersebut, karena itu harus menempuh jalan lain untuk mengubah nasib bangsa. Kemudian pada 1921 ia pergi ke Semarang.

Di Jawa Tan Malaka banyak berkenalan dengan tokoh pergerakan di Sarekat Islam yang telah terpolar ke dalam SI merah (kubu Darsono dan Semaun) dan SI putih (Cokroaminoto). Selanjutnya Tan lebih akrab kepada golongan komunis (PKI), namun dalam banyak hal tidak sepakat dengan langkah yang dibuat, seperti dengan pemberontakan PKI tahun 1926. Dan meskipun ia adalah tokoh Komintern (Komunis Internasional) untuk seterusnya ia selalu saja berseberangan dengan tokoh tokoh komunis Indonesia (PKI) seperti Alimin dan Muso, termasuk dalam pemberontakan PKI 1948 Madiun.

Sebelum ada tokoh lain mengkonsep negara Indonesia, Tan Malaka pada tahun 1925 telah menulis  ‘Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Buku tersebut diawali dengan pembahasan Situasi Dunia (Bab I), Situasi di Indonesia (Bab II), serta tujuan dan program PKI, yang di dalamnya banyak diuraikan berbagai strategi mewujudkan dan mengisi kemerdekaan.

Di antara petikannya:

“Kepada kaum intelek kita serukan!”

“Juga golonganmu tak akan lepas dari penderitaan akan datang satu masa, bahwa kapitalisme kolonial yang sekarang masih dapat mempergunakan tenagamu, akan membuat kaum-mu seperti sepah yang habis manisnya. Penyakit kapitalis ialah krisis akan tak mampu memelihara, juga kamu buat selama-lamanya. Juga kamu akan terdesak seperti ribuan saudara-saudaramu di Jepang dan India-Inggris kepada “Kasta Proletar Intelek”.

“Tak terdengarkah olehmu, teriakan massa Indonesia untuk kemerdekaan yang senantiasa menjadi semakin keras? Tak terlihat olehmu, bahwa mereka pelan-pelan melangkah maju dalam perjuangan yang berat?”

Pandangannya Terhadap Sukarno

Dalam cita-cita dan kecintaan terhadap bangsa dan rakyat Indonesia, Tan Malaka sama dengan Sukarno. Akan tetapi dalam berbagai langkah dan strategi mempunyai perbedaan, bahkan perselisihan.

Tan Malaka berprinsip ‘Merdeka Seratus Persen’ sebagaimana ditulisnya dalam buku dengan judul tersebut dan sebuah buku berjudul ‘Gerpolek’ (Gerakan Ekonomi Politik), yaitu perjuangan yang nonkooperatif terhadap penjajah dari manapun, Eropa (Belanda, Inggris) dan Jepang. Dia banyak mengkritik Sukarno khususnya persetujuan Sukarno terhadap pengerahan tenaga bumiputera untuk kerja Romusha (kerjapaksa penjajahan Jepang). Apalagi Tan Malaka pernah menjadi romusha di Banten.

“Di masa Jepang sebetulnya banyak jalan lain bagi Gico Soekarno untuk menyingkiri ikatan halus maupun kasar yang dicoba dikenakan oleh kaki tangan Tenno Heika kepadanya. Tak perlu dia sendiri yang menganjurkan atau menyetujui pengerahan romusha, pengumpulan intan berlian rakyat Indonesia serta para gadis (untuk dilatih) untuk dikirim ke Tokyo. Tiadalah pula perlu Presiden Soekarno di masa republik ini terus menerus menerima usul Inggris, yang sangat merugikan rakyat ialah menghentikan pertempuran di Surabaya dan Magelang serta usul dari pihak Belanda mengakui beberapa Negara Boneka dalam beberapa wilayah Republik Indonesia (NIT, Borneo,dll) dan sekarang menerima dan menjalankan usul Belanda “mengosongkan kantong” dan menarik 35.000 prajurit dari Jawa Barat dan Jawa Timur dan seterusnya menerima kembali mahkota Belanda, N.I.S dan UNI Nederland-Indonesia, jadinya membatalkan proklamasi 17 Agustus.”

“Seandainya Ir Sokerano tetap memegang pendiriannya semula dan bersandar atas kepercayaan kepada kekuatan 70 juta rakyat dan dinamikanya revolusi, artinya tetap memagang dasar Indonesia Merdeka dengan “Sosio-Nasionalisme” dan “Sosio-Demokratnya” tetap pula memegang cara Massa Aksi dengan semangat yang tiada kenal damai (juga terhadap sembarangan imperialisme) maka dengan kerja “Illegal” di masa jepang kemerdekaan 100 % boleh jadi sekali lebih lekas tercapainya daripada yang disangka-sangka.”

Dari prinsip inilah sebenarnya yang mengakibatkan anak-anak muda yang dekat Tan Malaka, dikomandoi Sukarni ‘menculik’ Sukarno agar memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dengan tidak usah menunggu-nunggu janji Jepang. Indonesia pun merdeka 17 Agustus 1945.

Akhir Hayat

Meski pernah mendapat wasiat untuk menjadi pengganti Sukarno, namun dalam perjalanannya Tan Malaka pernah dipenjarakan selama 2,5 tahun (sejak tahun 1946). Waktu itu beredar sassus Tan Malaka ingin mengkudeta Sukarno. Disangkut-pautkan dengan ketidaksetujuannya terhadap hasil Perjanjian Linggajati 1947 dan Perjanjian Renville 1948 yang mencaplok wilayah Indonesia dan pengosongan wilayah Jawa Barat.

Nasib Tan Malaka berakhir tragis karena harus mati di tangan bangsa sendiri. Ditembak mati tentara Divisi Brawijaya di Selopanggung, Kediri Jawa Timur. 14 tahun kemudian, 28 Maret 1963 Presiden Sukarno dengan Keppres RI No 53 menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. (Fathur)