HMINEWS.Com – Hari ini 6 Juni 2012 tepat 111 tahun kelahiran Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Ir. Sukarno. Lahir  6 Juni 1901 di Surabaya dan diberi nama Koesno Sosrodihardjo, yang di kemudian hari diganti dengan nama yang akan terus dipakainya hingga meninggal dan dikenal luas ke seluruh dunia: Sukarno.

Penggantian nama tersebut dikarenakan semasa kecil Koesno sering sakit-sakitan. Sesuai kebiasaan Jawa, jika anak kecil selalu sakit harus dicarikan nama yang lain.

Ayah Sukarno adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di Surabaya, sedangkan ibunya adalah seorang wanita Bali, Ida Ayu Nyoman Rai.

Sukarno Dan Pergerakan Nasional

Berkecimpungnya Sukarno dalam pergerakan nasional karena peran karib ayahnya, yang tak lain adalah HOS Cokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam. Bahkan ia disekolahkan ke Hoogere Burger School (HBS) oleh Cokro. Sukarno lama tinggal bersama tokoh berkumis bapang tersebut, mengaji kepadanya, dan menikah dengan putrinya, Oetari.

Pernikahan tersebut terjadi pada tahun 1921, ketika umur Sukarno memasuki 20 tahun, sedang umur Oetari 16 tahun. Namun kemudian Sukarno pindah dari Surabaya ke Bandung untuk kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), Oetari diceraikan.

Di Bandung Sukarno berinteraksi dengan pemimpin National Indische Partij, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker. Setelah lulus ITB pada 1926, ia mendirikan Algemene Studie Club yang menjadi cikal bakal PNI (Partai Nasional Indonesia) yang didirikannya setahun kemudian.

Karena aktivitasnya di PNI, pada 1929 ia ditangkap dan dipenjarakan Belanda, yang membuat namanya melambung dan dikenal kalangan pergerakan. Ia pun kemudian akrab dengan penjara dan pembuangan. Bebas pada 31 Desember 1931, kurang dari dua tahun kemudian, Agustus 1933 ia diasingkan ke Flores.

Semasa menjalani masa pembuangan itulah Sukarno banyak berkorespondensi melalui surat dan dengan A Hasan dan belajar Islam kepadanya. A Hasan merupakan ulama pendiri Persatuan Islam, guru dari Mohammad Natsir.

Sukarno dan Pancasila

Sukarno banyak menuliskan pemikirannya di majalah yang hampir selalu mendapat respon dari Mohammad Natsir. Perdebatan keduanya berkisar soal Islam, kenegaraan dan modernisme.

Mengenai negara, Sukarno memandang bahwa negara harus terpisah dari agama, dan dasar negara haruslah merupakan rumusan yang mengikat semuanya, berada di atas nama kelompok apapun. Sementara Mohammad Natsir meyakini konsep integral, negara tidak dapat dipisahkan dari konsep beragama, dalam hal ini Islam. Pandangan Sukarno sering disebut nasionalis sekuler, sedangkan konsep Natsir Nasionalis Islam.

Khusus mengenai Pancasila, Sukarno menyatakan bahwa dirinya hanya menggali, bukan menemukan Pancasila. Sebab nilai-nilai yang terkandung di dalam rumus tersebut telah ada dan hidup dalam masyarakat Nusantara sejak beribu tahun sebelumnya.

Sukarno mengemukakan prinsip: Kebangsaan, Internasionalisme, Mufakat, Kesejahteraan dan Ketuhanan. Susunan Pancasila yang ada kini bukan mutlak rumusan Sukarno, akan tetapi hasil musyawarah Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sebab selain Sukarno, ada Muhammad Yamin yang memajukan usul serupa, dan kemudian dikompilasikan dengan usul Sukarno dan yang lainnnya. Konsep Muhammad Yamin adalah ‘Lima Dasar’ yaitu:   Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri kerakyatan dan Kesejahteraan Rakyat.

Namun Sukarno-lah yang pertama mengajukan konsep ‘Pancasila’ tersebut dan Pancasila kemudian yang secara resmi ditetapkan sebagai dasar negara.

“Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.”

Macan Asia

Selama memimpin Indonesia, Sukarno mampu tampil menjadi pemimpin yang diperhitungkan dunia. Di bawah kepemimpinannya Indonesia pernah keluar dari PBB, menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika, tidak memihak blok barat (Amerika dan sekutunya) maupun blok timur (Uni Soviet), malahan membentuk blok tersendiri dengan mengajak negara-negara Asia dan Afrika yang tergolong negara ‘dunia ketiga.’

Selain itu Sukarno juga berani memprakarsai diselenggarakannya GANEFO (Games of the New Emerging Forces, pesta olahraga negara-negara berkembang) sebagai protes terhadap Komite Olahraga Internasional (KOI). Sebelumnya KOI mengecam Indonesia karena tidak mengundang Israel dan Taiwan dalam Asian Games 1962 sebagai wujud simpati kepada negara-negara Arab (Palestina khususnya) dan Cina, padahal Israel dan Taiwan merupakan anggota KOI.

Sukarno adalah negarawan ulung, terbukti dari berbagai prinsip yang diterapkannya untuk membangun bangsa. Di antaranya adalah konsep ‘Trisakti’ yaitu:

1. Berdaulat di bidang politik.
2. Berdikari di bidang ekonomi.
3. Berkepribadian yang menjunjung tinggi nilai kebudayaan bangsa Indonesia

Khusus prinsip kemandirian, Sukarno menasionalisasi perusahaan asing pada 1958 setelah merebut Irian Barat dari Belanda dan pada 1962 waktu berkonfrontasi dengan Malaysia. Mengenai kekayaan alam, Sukarno berkata: “Biarkan kekayaan alam kita tetap tersimpan di perut bumi, hingga unsur-unsur Indonesia mampu mengolahnya sendiri.”

Berakhir Tragis

Kekuasaan Sukarno berakhir tak lama setelah kudeta Partai Komunis Indonesia (PKI) yang gagal. ABRI dan rakyat marah terhadap PKI atas pembunuhan 7 jenderal angkatan darat. Sukarno mengeluarkan Supersemar yang memberikan mandat kepada Letjen Suharto untuk memulihkan keamanan, namun kemudian mengakhirinya dari kursi kepresidenan.

Pasca Suharto naik sebagai presiden, Sukarno makin terpuruk. Didera sakit parah tanpa penanganan dan perawatan dokter serta alat kesehatan yang memadai. Bahkan disinyalir sengaja dibiarkan terkucil hingga ajal menjemputnya di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970 sebagai tahanan politik. (fathur)