Kapan kalimat “Ambon Manise” atau “Maluku Manise” pertama kali diperdengarkan kita tidak pernah mengetahuinya, termasuk orang Maluku sendiri. Kalimat ini ada begitu saja, setiap anak Maluku yang lahir dan tumbuh secara alamiah memahami kalimat tersebut.

Setidaknya menurut penulis terdapat beberapa asumsi sehingga kata “manise” dilekatkan pada Ambon dan Maluku. Di antaranya; pertama, Keindahan dan kekayaan alam. Kepulauan Maluku memiliki keindahan alam yang tidak tertandingi, semuanya masih bersifat alami, menyatunya keindahan alam pegunungan, pantai dan laut ada di Maluku. Pada pulau Seram kita dapat menikmati alam pegunungan yang indah dengan hutan taman beragam burung-burung indah, di pulau Banda kita disuguhkan taman bawah laut yang dalam dan indah dengan kesejukan gunung banda yang menjulang diantara laut biru sementara itu Kepulaun Maluku Tenggara menyuguhkan keindahan beragam pulau berbaris dengan panorama pantai yang indah, pantai dengan pasir putih terhalus di dunia.

Selain keindahan alam Kepualaun Maluku juga memeliki kekayaan alam yang tidak ternilai, hasil rempah-rempah seperti cengkeh, kopi dan pala sudah dikenal sejak zaman dahulu kala. Hasil laut yang melimpah ruah di laut Arafura dan Banda, hasil emas dan minyak bumi yang melimpah. Jika bangsa Barat menyebut “paradise” adalah negeri surga yang indah dengan laut, pasir putih dan lambayain nyiur kelapa, di bawah perut bumi dan dalam laut terdapat kekayaan, maka mungkin itu Maluku.

Kedua, kehidupan sosiologi serta daya seni orang Maluku. Dalam kehidupan sosiologi, orang Maluku mengenal istilah pela gandong yakni ikatan persaudaran antara sesama orang Maluku suatu hubungan yang mengikat rasa kekeluarga melewati batas-batas sosiologi bahkan agama. Selain konsep sosiologis, masyarakat Maluku juga terkenal memiliki bakat seni terutama seni musik. Kemampuan menciptakan syair-syair lagu juga dipergunakan sebagai wahana memperkenalkan Maluku secara keseluruhan, misalnya pada bait syair Almarhum Franky Sihalatua, yang juga seniman besar bangsa ini, menggambarkan hidup orang bersaudara di Maluku, sagu satu potong Makan berdua, sebuah hubungan pela gandong, yang sangat indah. Selain itu juga ribuan seniman, terutama pada seni suara dan tari. Segudang penyanyi dengan suara “manise” ada di Maluku.

Ketiga. Kehidupan ummat beragama. Jauh sebelum agama datang dan dipeluk, orang Maluku sudah mengenal aturan-aturan adat istiadat yang mengingat hubungan antara manusia. Ketika datang agama hubungan kekeluargaan semakin terasa, istilah gotong-royong yang dikenal bangsa Indonesia, kepulauan Ambon dan Seram menyebutnya “Masohi” sementara Kepulauan Kei (Maluku Tenggara) menyebutnya “Maren”. Baik Masohi ataupun Maren selalu dipergunakan guna mempererat hubungan antara umat beragama. Jika ada Masjid yang dibangun maka pela gandong dari Kampung Kristen  Protestan maupu Katholik akan datang membantu dengan suka rela bahkan membawa hasil bumi untuk makan bersama, dalam istilah orang Maluku “makan Patitah,” begitu juga sebaliknya. Bagi penulis kalaupun ada kekacauan antara umat Bergama di Maluku beberapa tahun belakangan hal tersebut dikarenankan faktor “politik” semata.

Sebuah Doa ; MTQ Nasional untuk Maluku makin Manise.

Ketiga faktor di atas (baca ; Keindahan dan kekayaan alam, kehidupan sosiologi serta daya seni orang Maluku dan Kehidupan ummat beragama) yang menjadikan “Maluku Manise” kini dapat kita temukan kembali pada even Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-24 di Ambon, Provinsi Maluku. Adalah Menteri Agama, Bapak Suryadharma Ali pada detik.com Kamis, 31 Mei 2012 mengatakan menjelang “MTQ Nasional,Ambonmakin manise”. Sebuah kalimat yang secara sepintas terkesan hiperbolik, namun begitulah adanya. Maluku, tepatnya Kota Ambon yang telah dipercaya Pemerintah sebagai tuan rumah MTQ Nasional ke-24 tahun 2012, sejak awal ummat Bergama di Maluku, baik Kristen Katholik, Protestan, Hindu dan Budha, bersama warga muslim Kota Ambon bahu-membahu menggelar “masohi gelar maren” guna mensukseskan hajatan nasional tersebut.

Pada acara pembukaan misalnya tampil sebagai paduan suara Universitas Kristen Indonesia, Maluku dengan suara indahnya menyanyikan mars MTQ. Demikian halnya suasana indah dalam toleransi ditunjukan juga oleh Keuskupan Diosis Amboina yang menyediakan tempat bagi Kafilah MTQ asal Provinsi Banten.

Lebih dari itu semua, kita berharap MTQ Nasional ke-24 di Kota Ambon, Provinsi Maluku yang mengambil tema sentral toleransi ummat beragama akan menjadi cahaya pencerahan abadi bagi bangsa ini terutama masyarakat Maluku, cahaya ayat-ayat suci Al-Qur’an menjadi cahaya penerang hati dan jiwa kita.

Abdul Malik Raharusun
Ketua Komisi Hubungan Internasional
Pengurus Besar HMI (MPO)