Saat mengikuti training jurnalistik di Bogor, dengan salah satu pembicara wartawan senior. Beliau adalah Muhammad Antoni, wartawan senior ANTARA dan merupakan Ketua PJMI (Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia).

Selain membawakan materi yang memang sangat menarik, di antaranya mengenai bagaimana pers melakukan agenda setting dengan isu-isu yang dimainkannya. Pers sangat efektif mempengaruhi paradigma khalayak, baik nasional maupun internasional.

Yang sangat menarik, dalam training yang diselenggarakan LAPMI (Lembaga Pers Mahasiswa Islam) PB HMI dan LAPMI Jakarta Selatan, Jum’at-Ahad (15-17/6/2012) itu, kita kembali diingatkan mengenai beberapa kaidah, etika serta untung-rugi dan nilai baik-buruk  suatu berita.

Setelah pemaparan materi yang cukup panjang dan beragam, beliau mengutip percakapan antara filosof besar Yunani, Socrates dengan seorang penanya.

“Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?” kata penanya.
“Tunggu beberapa menit,” jawab Socrates. “Sebelum Anda menceritakan apa pun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana. Ini disebut Tiga Filter Test.”
“Triple Filter Test?” tanyanya lagi. “Benar,” Socrates kembali menjawab.

Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test“.

“Filter pertama adalah KEBENARAN. Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?”
“Tidak. Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu.”
“Baik. Jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?”
“Tidak, malah sebaliknya….”

“Jadi,” lanjut Socrates, “Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar.

Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada satu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN. “Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Jadi”, Socrates menyimpulkannya, “bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, sesuatu yang buruk, dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?”

Sekarang setelah dunia makin maju, informasi makin tak terbendung memenuhi ruang. Bahkan pertarungan dunia salah satunya dilancarkan lewat perang informasi, siapa yang menguasai corong informasi, merekalah yang akan memenangkan opini.

Pepatah bahwa “Kebohongan yang diucapkan seribu kali akan menjadi kebenaran” sungguh-sungguh sedang berlangsung, sementara hanya sedikit orang yang sadar, dan kebanyakan telah terperangkap.

Namun informasi dengan berbagai alat dan salurannya sebenarnya ibarat pisau, yang bisa berbahaya di tangan penjahat dan berguna di tangan juru masak atau dokter bedah. Tinggal itikad penggunaannya yang harus diarahkan agar tepat.

Djabiril Yusuf
Kader HMI Cab Jakarta Selatan