HMINEWS.Com – Novel Dahlan Iskan diterbitkan. Ditulis oleh Khrisna Pabicara, novel tersebut berbicara mengenai masa kecil Menneg BUMN yang penuh perjuangan berliku. Namun Dahlan menyatakan belum berani membaca novel tersebut.

Di masa kecil Dahlan harus bersekolah dengan berjalan kaki nyeker dan tanpa sepatu karena miskin. Kemiskinan tersebut, seperti komentar Ary Ginanjar Agustian, masih membekas pada wajah Dahlan.

“Meski sudah menjadi menteri, garis-garis kemiskinannya masih nampak,” ujar Ary Ginanjar Agustian saat peluncuran novel Sepatu Dahlan di Bundaran HI, Jakarta, Ahad (27/5/2012).

Bahkan perjalanan menuju sekolah yang harus ditempuh dengan jalan kaki tersebut 6 kilometer. Maka, memiliki sepatu merupakan impiannya yang sangat diidamkannya, dan baru terwujud di kelas 3 SMA.

“Saya punya sepatu pertama kelas tiga SMA, itu pun sepatu bekas, depannya bolong, belakang sudah agak robek-robek,” kata Dahlan mengenang, dalam peluncuran novel Sepatu Dahlan di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu 27 Mei 2012.

Karenanya, setelah bisa bekerja dan mempunyai penghasilan, Dahlan agak gemar membeli sepatu. Berlanjut sampai dia menjabat Menneg BUMN.

Akan tetapi dengan terbitnya novel Sepatu Dahlan itu, pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 tersebut merasa ditegur.

“Kini setelah saya menjadi menteri, saya bebas memilih sepatu, tapi judul novel ini bagi saya kritikan dan sindirin keras untuk saya. Karena saat ini saya memakai sepatu buatan Amerika, oleh karena itu saat ini juga saya akan melepas sepatu buatan Amerika dan membuangnya dan sejak saat ini saya ganti dengan sepatu buatan INDONESIA,” kata Dahlan dan kemudian  melempar sepatu tersebut.

Kemudian Dahlan berganti sepatu buatan Indonesia, DI 19. DI merupakan singkatan Demi Indonesia, yang dimaksudkan sebagai wujud kecintaan pada Indonesia, termasuk produk-produknya. []