Tampaknya tradisi kelimuan Islam telah atau sedang mandek. Terbukti dengan terhentinya pembentukan madzhab-madzhab fiqih dan pemikiran lainnya. Bukan bermaksud mengharuskan agar ada madzhab baru, tapi itulah bukti bahwa generasi sesudah para mujtahid tersebut memang generasi pengikut saja, dalam kadarnya masing-masing.

Dalam hal fiqih,  kitab-kitab yang dipakai adalah kitab warisan para ulama terdahulu semisal imam empat madzhab: Imam Hanafi, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal serta sejumlah madzhab lain seperti Ibnu Rusydi, Ibnu Hazm, serta kitab ulama-ulama yang ‘berafiliasi’ pada madzhab-madzhab yang ada itu. Bukan pula penulis bermaksud mengatakan itu salah, tetapi sekedar menunjukkan bukti bahwa sampai kini tampaknya belum ada lagi orang yang sekaliber beliau-beliau itu.

Perlakuan generasi khalaf (kontemporer) terhadap warisan itu pun seringkali kaku dan terlalu mensakralkan. Padahal sepatutnya terus menerus dikembangkan dan disempurnakan, mengingat banyak juga permasalahan baru di abad mutakhir yang tidak dijumpai pada generasi salaf (terdahulu).

Belajar fiqih, misalnya, yang mana kita selalu mengawalinya dari ‘Kitab Thaharah’ (bersuci) dengan pembahasan pertama ‘Bab Air.’

Kita berhenti pada pembagian jenis-jenis air dengan berbagai kategorinya, serta bagaimana bersuci dengannya. Sedangkan bagaimana memelihara sumber air, mempertahankannya untuk kemaslahatan umat (rakyat) serta kelangsungan kehidupan belum masuk pembahasan, dan belum ada yang menambahkannya.

Padahal permasalahan air terus berkembang. Tidak sebagaimana dulu ketika air merupakan milik bersama tanpa ada usaha menjadikannya komoditas yang dikuasai pribadi atau perusahaan. Meski ada contoh sumur di Madinah yang dimiliki orang Yahudi yang kemudian dibeli ‘Utsman  bin ‘Affan yang lantas disedekahkan untuk umat, namun secara umum air adalah milik bersama.

Kini air dikuasai perusahaan-perusahaan, dan proses itu tampaknya akan terus berlanjut jika tidak ada usaha mengendalikannya. Untuk minum dan keperluan lainnya, manusia harus membayar (membeli) untuk mendapatkan air yang dikuasai-dimonopoli itu.

Di banyak tempat pun sumber-sumber air rusak-tercemari atau mati karena pengrusakan lingkungan oleh  manusia. Mulai dari kebiasaan manusia berak dan membuang sampah di sungai, sampai perusahaan yang semena-mena mengalirkan limbah beracun sehingga mematikannya.

Air bawah tanah bisa habis karena disedot terus-menerus, apalagi proses pengisian kembali oleh alam terhalang permukaan bumi yang telah diperkeras dengan aspal, beton dan bangunan lain. Pembangunan pun banyak yang mengabaikan faktor itu, yang seringkali karena faktor harga, daerah-daerah resapan air diubah fungsi. Kehidupan pun jadi tidak seimbang; air berubah menjadi ancaman dalam rupa banjir. Tapi di saat yang lain susah didapat.

Air yang merupakan unsur utama kehidupan dan sarana bersuci lahir menuju ibadah kepada Allah pun kian terabaikan. Di kota besar seperti Jakarta sungai-sungai yang dulu menjadi sumber air kehidupan, sarana transportasi dan pengairan pun telah berganti warna, rasa dan aromanya hingga tidak memungkinkan lagi untuk diminum dan bersuci, tapi fiqih belum membahasnya.

Singgasana Di Atas Air

Tidak hanya makna lahiriahnya yang berhubungan langsung dengan kehidupan, bahkan air berperan penting bagi dimensi ruhiah kita. Belum lagi jika menilik firman Allah:

 وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ وَڪَانَ عَرۡشُهُ ۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُوَڪُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬‌ۗ

“Dan Dialah (Allah) yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan bahwasannya arsy (tahta, singgasana)-Nya berada di atas air untuk menguji kamu siapakah yang terbaik amalnya.” (Hud:7).

Tapi demi menyesatkan manusia, iblis pun meniru-niru perilaku Allah dengan turut menaruh singgasananya di atas air.

إن إبليس يضع عرشه على الماء ثم يبعث سراياه، فأدناهم منه منزلة أعظمهم فتنة

“Sesungguhnya iblis menaruh singgasananya di air, kemudian menyebarkan pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar fitnahnya.” (Hadits Muslim).

Strategi iblis tersebut, meski entah bagaimana rincinya, yang jelas tujuannya untuk memuluskan sumpahnya kepada Allah untuk menyesatkan manusia. Dan kini iblis-iblis dalam rupa manusia telah dan sedang memasang singgasana mereka di atas air yang dirampas dari umat manusia, untuk menuhankan diri.

Fathurrahman