HMINEWS.Com – Penempatan pasukan Marinis Amerika Serikat di Darwin Australia dikhawatirkan mengancam kedaulatan Indonesia. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan, sebab Amerika punya kepentingan di kawasan ini, di antara adalah adanya tambang emas Freeport di Papua. Namun, meski China yang notabene jauh dari kawasan pun marah dengan penempatan pasukan itu, Indonesia malah belum punya sikap.

Hal-hal itulah yang mengemuka dalam diskusi “Pangkalan Militer Amerika di Darwin; Ancaman Kedaulatan Indonesia?” yang diselenggarakan Suluh Nusantara di Galeri Kafe, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Selasa (11/4/2012).

Di antara berbagai hal yang memiriskan adalah rendahnya kualitas diplomasi Indonesia saat ini. Seharusnya Indonesia bisa memainkan perannya di antara dua kekuatan besar yang berseteru dalam berbagai kepentingan, yaitu Amerika dan China.

“Dua kekuatan itu, Amerika dan China butuh Indonesia, tapi Indonesia sendiri yang tidak memanfaatkan peran itu, apalagi kualitas diplomat kita yang rendah,” kata dosen Universitas Indonesia, Agus Brotosusilo.

Pembicara lain, Willy Aditya (Wasekjen Nasdem), Syahganda Nainggolan (direktur SMC; Sabang-Merauke Center) dan seorang pastor dari Flores, dengan moderator Mohammad Chozin, mantan Ketua Umum PB HMI MPO.

Berbagai hal yang disoroti adalah penguasaan tambang mineral dan migas oleh perusahaan asing, sehingga sebagian besar bumi Indonesia terkapling-kapling berdasarkan kepemilikan itu. Selain Chevron, Newmont, Freeport, Exon Mobile, masih ada ribuan tambang yang digarap berbagai perusahaan luar negeri.

“Ada yang dari Amerika, Eropa, Jepang, Korea, Malaysia, tapi yang terbesar untuk pertambangan dan energi adalah India dan China,” sambung Willy.

Semua persoalan tersebut tidak lepas dari kualitas pemimpin yang tidak nasionalis, lembek dan penakut. Padahal Indonesia tanpa berpihak pada kekuatan besar dunia pernah menciptakan arus tersendiri, yaitu dengan membentuk kekuatan non-blok, KTT Asia-Afrika dan gerakan lainnya.

Menurut mantan aktivis Malari, Suparman Parikesit, semestinya Indonesia mampu mengimbangi dua kekuatan Amerika dan China dengan kekuatan alternatif seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam), Gerakan Nonblok dan sejenisnya.

Tapi, alih-alih memikirkan hal itu, politisi sekarang sibuk dengan kepentingan partai dan kelompok masing-masing, bahkan menjadi pelayan pemodal. Apalagi dengan DPR yang oleh orang dalam sendiri diakui pernah menghasilkan sekitar 70 Undang-undang pesanan asing untuk memuluskan kepentingan mereka di Indonesia. (fathur)