Anies Baswedan pernah menulis di Kompas pada 2006, yang menyatakan bahwasannya masa kepemimpinan aktivis segera habis. Setelah itu akan muncul golongan enterpreneur akan tampil ke muka menggantikannya mengendalikan kepemimpinan negeri.

Dalam analisis tersebut Anies merinci golongan elite yang mengontrol Indonesia. Jika pada masa pergerakan nasional, Indonesia dipimpin para intelektual, seperti Sukarno dan kawan-kawan. Era setelahnya merupakan zamannya militer. Mereka dari kalangan tentara pejuang kemerdekaan hingga masa pasca kudeta Partai Komunis Indonesia (PKI).

Setelah itu muncullah kalangan aktivis yang mendominasi karena besarnya kelompok anak muda yang masuk perguruan tinggi. Berbarengan dengan menguatnya perpolitikan di tanah air yang menjadi wahana perekrutan pemimpin muda dan menjamurnya organisasi sebagai wadahnya.

“Para mantan aktivis ini kemudian aktif melalui partai politik, dunia akademis, LSM, ornop, pers, ormas keagamaan di samping sebagian kecil masuk ke dunia bisnis,” tulis Anies.

Berakhirnya Era Aktivis (?)

Segala sesuatu memang memiliki umur masing-masing seperti fase kehidupan itu sendiri. Termasuk hidup-matinya sebuah peradaban, apalagi soal siapa pemilik supremasi kekuasaan politik, semua dipergilirkan.

Melihat kecenderungan kini, sebagaimana juga kecenderungan umum fase intelektual, militer dan aktivis sebelumnya, dunia aktivisme mulai ditinggalkan. Aktivis mulai tergusur dalam suksesi kepemimpinan. Seperti dengan tampilnya menantu Ical sebagai Ketua Umum KNPI yang menang kongres tahun lalu, yang notabene dari kalangan pengusaha.

Itu bisa jadi salah satu contoh, ditambah lagi dengan makin tidak diminatinya organisasi kemahasiswaan. Lebih banyak mahasiswa yang tidak mau ikut organisasi, meskipun sebagian besar nggak ngapa-ngapain juga.

Di zaman ini banyak hal bisa dipelajari tanpa harus menjadi aktivis. ‘Furqon’ atau pembeda antara mahasiswa aktivis dan non-aktivis pun makin kabur.

Belum lagi dengan makin cerdasnya masayarakat yang kemudian bisa membela diri dan menyuarakan aspirasi mereka, seperti dalam berbagai kasus mulai dari unjukrasa pedagang, buruh, petani, dan bahkan mereka sampai membuka tenda selama berbulan-bulan di depan Gedung DPR di Senayan, Jakarta tanpa dampingan aktivis.

Melihat perubahan tersebut, sampai kapan dunia keaktivisan tetap penting dan menarik? Organisasi dan keaktivisan tetap penting selama melahirkan kader-kader mumpuni, tidak gagap menghadapi zaman.

Organisasi tetap menarik selama aktor-aktornya mampu merumuskan gagasan dan bertindak yang sesuai, bahkan melampaui zamannya, sehingga menghasilkan kualitas yang berbeda. Berbeda dengan pemikiran yang berbobot, dengan silaturahmi dan kekeluargaan yang kokoh dan eksekusi-eksekusi yang mantap yang tidak bisa didapat kecuali dengannya.

Tapi memang benar, Allah hanya berjanji akan meninggikan derajat orang beriman dan berilmu (Al Mujadalah: 11), bukan aktivis, hehe. (fathur)