HMINEWS.Com – Ratusan aparat kepolisian yang berkumpul di pos sebelah timur Bundaran HI, Jakarta Pusat tenang-tenang saja. Mereka tampak kurang mempedulikan mahasiswa yang berdatangan satu dua ke pos, dan perhatian tertuju pada iring-iringan besar di seberang jalan.

Polisi-polisi muda tersebut tidak menyadari bahwa mahasiswa-mahasiswa kalem tersebutlah yang akan sangat ‘merepotkan’. Mahasiswa yang merupakan anggota HMI-MPO tersebut terlihat santai, berfoto-foto dengan polisi, bahkan ada yang berpose di atas motor patroli yang diparkir berjajar.

Bakda shalat zhuhur, satu per satu kader HMI-MPO dari Cabang Jakarta Selatan, Cabang Bogor, Korps HMI-wati (KOHATI) serta sejumlah personel Pengurus  Besar mulai merapatkan barisan. Bendera hijau hitam yang mereka bawa telah terpasang pada batang-batang bambu yang diambil dari bawah pos polisi.

Dikira hendak bergabung dalam rombongan besar, massa HMI justru berorasi dan memulai longmarch menuju Istana Negara dengan menentang arus lalu lintas. Sontak, polisi yang sebagian tengah menikmati makan siang pun berlarian mengepung.

Suasana memanas. Orasi pertama oleh Fauzi membakar semangat massa HMI yang tersusun dalam dua barisan menentang arus. Meski lalu lintas kendaraan tidak terlalu padat, tapi polisi agaknya over protektif. Personel yang tiga kali lebih besar menghalau demonstran, saling dorong dan beberapa kader  HMI dipukul dan kena tendangan.

Saat matahari tengah terik-teriknya itu, perhatian awak massa tersita pada aksi HMI, berlarian mengepung massa demonstran untuk meliput dari dekat.

Korlap aksi, Puji Hartoyo kemudian mengarahkan massa untuk shalat hajat. Tercapai kesepakatan dengan polisi, akhirnya demonstran shalat hajat dua rakaat dengan kawalan petugas di depan dan belakang shaf, serta puluhan awak media yang membidik aksi tersebut.

“Ya Allah, jadikanlah pemimpin-pemimpin kami orang yang amanah dan mau berpihak pada kepentingan rakyatnya…” begitu salah satu doa usai shalat hajat yang dipimpin anggota yang berasal dari Cabang Jogja itu.

Long March Ke Istana

Usai shalat hajat dan doa, aksi berlanjut dengan long march ke istana, sambil terus berorasi sepanjang jalan secara bergantian. Hanya jalur busway yang dibiarkan terbuka oleh HMI untuk dilewati kendaraan, selebihnya dilalui massa berbendera hijau hitam dengan kawalan petugas di depan dan belakang menunggang sepeda motor patroli.

Di setiap perempatan massa berhenti selama satu menit untuk berorasi. Polisi terus-menerus mengegas motor-motor mereka mendesak agar aksi dipercepat. Sementara massa menginginkan agar pemerintah terbuka matanya, bahwa kebijakan menaikkan harga BBM menyengsarakan rakyat banyak.

Orasi terus dipergilirkan. Dari Cabang Bogor, Jaksel, maupun KOHATI dan PB HMI MPO. “Pemerintah menutup mata terhadap nasib rakyatnya dan hanya memikirkan keuntungannya sendiri, tidak peduli dan mengkhianati amanah,” kecam orator dari Cabang Bogor.

Sebelum sampai Istana, demonstran tak meluputkan Kementerian Koordinator Perekonomian. Massa sempat berbaring di jalan raya, menyimbolkan tidak bekerjanya pemerintah. Memprotes Hatta Rajasa yang menjadi pembela Presiden.

Sampai di Istana, ratusan aparat telah menanti. Namun hujan turun, mengguyur dengan derasnya, membuat demonstran berlarian mencari tempat berteduh. Termasuk aparat yang langsung mengenakan mantel coklat-coklat menutupi kepala hingga kaki. Kecuali 32 kader HMI MPO yang justru bertahan di tengah jalan dengan tetap menggelar orasi bergantian.

Di depan istana itulah, massa demonstran kembali berhadap-hadapan dengan polisi di dekat kawat berduri. Ketegangan berhasil dilerai dengan tampilnya Eva Irma dari KOHATI yang membacakan pernyataan sikap saat hujan mulai mereda.

 “Jangan sampai karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola sumberdaya strategis nasional dan keuangan negara kemudian rakyat yang menjadi korban, menanggung beban salah kelola aset nasional,” kata Eva di tengah dua kubu massa yang saling berhadapan…

(Fathur)

Foto shalat hajat: Republika
Foto aksi tidur di jalan: Pelitaonline