HMINEWS.Com – Konsep civil society ternyata berbeda dengan masyarakat madani. Perbedaan keduanya terletak pada nilai yang mendasarinya. Satu mendasarkan pada antroposentrisme, sedangkan satunya lagi pada wahyu ilahi.

Seperti halnya konsep demokrasi, civil society yang berasal dari Barat memang merupakan hasil pemikiran manusia yang digali melalui perenungan. Dan meski mealui proses yang lumayan panjang, tetap bisa salah dan bisa sesuai dengan kondisi zaman tertentu. Berbeda dengan Islam yang diturunkan segala zaman dan tempat.

Dalam masyarakat Madani pada masa Rasulullah, hidup berdampingan antar pemeluk agama yang berbeda. Seperti diketahui, waktu itu hidup golongan Yahudi dan Nasrani bernaung di bawah perlindungan Islam. Umat yang disebut sebagai ahli kitab tersebut mendapatkan haknya masing-masing dan tidak diganggu.

Itulah kesimpulan dalam Diskusi Panel Pemikiran Islam di Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir, Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Kamis (29/3/2012).

Berbicara mengenai konsep tersebut adalah Ahmad Furqon, mahasiswa S2 PKU ISID Gontor. Sementara pembicara lainnya yaitu Asep Awaludin (Hak Asasi Manusia: Konsep Islam Vs Barat), Riandi (Toleransi Islam Vs Barat) dan Imdad Rabbani yang berbicara masalah salafi dan salafiah.

Hak Asasi Manusia

Sedangkan mengenai konsep Hak Asasi Manusia (HAM), antara Islam dan Barat pun terdapat perbedaan mendasar. Jika Barat menganut kebebasan tanpa batas, dalam Islam kebebasan itu dibatasi dengan hak-hak orang lain dan aturan wahyu yang mengikat langsung masyarakat. Sebab manusia sebagai titah di bumi tidak hanya bertanggungjawab secara horisontal, tetapi juga punya tanggungjawab langsung kepada Penciptanya. Selain itu, ada kehidupan di masa depan yang abadi yang menjadi pertimbangan segala perbuatan anak cucu Adam.

Toleransi

Toleransi pun demikian, antara konsep liberal dan Islam berbeda. Islam mengajarkan toleransi,  terhadap pemeluk agama lain maupun terhadap sesama pemeluk Islam seperti ditunjukkan pada masalah khilafiah (atau perbedaan pada ranah furu’/ cabang).

Namun terhadap perbedaan yang telah secara tegas dilarang, dan penjelasannya telah gamblang dan final, seperti masalah keesaan Allah, masalah kenabian yang berakhir dengan diutusnya Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), tidak diperkenankan ada pemahaman baru yang menyimpang.

Karenanya, lahirnya golongan yang menamakan diri Islam, seperti kelompok Ahmadiyah yang mengakui ada nabi yang diturunkan dan menerima wahyu dan kitab suci setelah Nabi Muhammad, tidak dapat dibiarkan.

Konsep Salafiah.

Istilah Salaf, Salafi dan Salafiah merupakan peristilahan baru di Indonesia. Aliran ini pertama kali diperkenalkan pertama kali oleh Ustaz Dahlan Bashri Atthahiri yang dikirim ke Timur Tengah pada masa Dr Mohammad Natsir memimpin Dewan Da’wah.

Secara bahasa, salaf artinya pendahulu. Orang yang hidup pada masa sekarang pun bisa disebut salaf oleh generasi yang akan datang nanti. Itu secara bahasa. Sedangkan secara peristilahan, yang disebut salaf adalah para generasi terdahulu umat Islam, yang merupakan generasi yang hidup pada masa terbaik.

“Era terbaik adalah zamanku. Kemudian setelahnya, kemudian setelahnya  dan setelahnya lagi.” Artinya mereka adalah para sahabat Nabi, para tabi’in (pengikut sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang yang mengikuti pengikutnya sahabat Nabi).

Namun belakangan setelah lulusan Timur Tengah makin marak kembali ke Indonesia, berbagai perbedaan pun muncul. Di kalangan kelompok yang menamakan diri Salafi pun berkelompok-kelompok, punya ustaz masing-masing, yang sayangnya tidak sedikit yang berfaham sempit, mengklaim bermanhaj salaf namun gemar mencaci maki ulama dan memecah belah umat. Bahkan ada kebiasaan yang saling mentahdzir, memblacklist ustaz-ustaz tertentu yang berbeda pemahaman dan diharamkan menuntut ilmu dari ulama yang diblacklist tersebut.

“Boleh mengaku salaf, tapi jangan serta merta menyalahkan praktek yang berbeda dengan yang kita pahami,” kata Imdad Rabbani di hadapan mahasiswa di lantai 4 Gedung STID Mohammad Natsir.

Menurutnya tidak usah terlalu formalis dengan sebutan salaf, karena yang lebih utama adalah pada amaliah salaf. Yaitu mencontoh para generasi terdahulu. Juga hadir dalam Diskusi Panel tersebut, Dr Khalid Mushlih, salah satu Pembimbing PKU ISID Gontor. (Khairul)