Banyak yang terjebak pada ketidaksabaran dalam perbantahan, utamanya di media massa. Sehingga karena sudah emosi dan kemenangan menjadi tujuan utama, maka banyak hal yang dilanggar. Antara lain kejujuran dan objektivitas, tergesa-gesa, menyerang pribadi dan terkena penyakit menggeneralisir.

Seperti perbantahan pada penolakan sebuah ormas, meski memang benar hal itu terjadi di bandara suatu daerah tertentu, akan tetapi menggeneralisir suku tertentu dan menjatuhkan vonis kafir kepada mereka adalah sangat tidak bijaksana. Efeknya, justru bisa menimbulkan permusuhan secara menyeluruh. Padahal tidak sedikit anggota dari suku tersebut yang merupakan saudara seiman.

Pernyataan-pernyataan keras orang-orang yang ditokohkan oleh umat dengan cara seperti itu, selain mencederai harga diri, juga justru mengundang lebih banyak orang untuk memusuhi dakwah. Padahal sejatinya dakwah adalah upaya mengajak sebanyak mungkin manusia agar mendapat hidayah Allah.

Bukankah merupakan prinsip dakwah adalah “Mudahkanlah jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan dibikin lari.” Tapi mengapa dengan respon segelintir orang dari suku tertentu lantas statemen yang dikeluarkan adalah vonis kafir, maklumat perang dan makian-makian kasar? Bukankah kita, apalagi yang mengaku pelaku dakwah, diharuskan menolak kejahatan dengan cara yang lebih ahsan?

Mengapa kita menjadi begitu pemberang dan reaktif terhadap berbagai respon yang muncul. Ketika ada yang berbeda pandangan sedikit lantas diserang habis-habisan tanpa ampun dengan cacian, ‘fatwa’ halal darahnya untuk ditumpahkan, dan cara-cara yang tidak mencerminkan sebagai para penyeru ke jalan Tuhan yang diwajibkan menyampaikan kebenaran terlebih dahulu secara argumentatif  dengan sebaik-baiknya, bukan mengutamakan kekerasan.

Ya Rasulallah, apakah peristiwa di Taif yang menimpamu tidak berarti sama sekali bagi kami, umatmu, dalam menghadapi respon masyarakat terhadap dakwah? Mengapa ulama-ulama kami seolah mengubur sama sekali kisahmu, ya Rasulallah. Yaitu ketika engkau dilempari batu dan diusir beramai-ramai disertai teriakan-teriakan yang menghinamu sebagai orang gila.

Padahal kami tahu, ya Rasulallah, engkau adalah pribadi paling agung sepanjang sejarah dunia ini, bahkan di akhirat nanti. Engkau yang sabar terhadap perlakuan umatmu, seraya menahan keinginan  malaikat yang menawarkan siksa bagi mereka yang menganiayamu. Terucap dari lisanmu yang suci mencegah siksa itu: “Tidak, wahai malaikat, justru dari mereka itulah aku berharap akan datangnya generasi yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Ya Rasulallah, kami tahu kebenaran hanya dari Allah dan hanya Dia-lah yang kuasa memberi hidayah pada siapapun yang dikehendakinya. Namun masih saja kami menutup mata dan telinga, seolah ketika sudah kami sampaikan ayat dari kitab suci dan petikan dari sabdamu, lantas semua orang akan beriman, kemudian kami tinggalkan akhlaq mulia terhadap mereka itu.

Kami lebih tersinggung apabila manusia menolak ucapan kami daripada apabila mereka terus-menerus berkubang dalam kekufuran. Dan karena itulah, selalu kami buktikan apa yang bisa kami perbuat dengan tenaga dan kemarahan untuk kami tunjukkan pada mereka harga diri kami. Ya, harga diri yang merasa terlecehkan karena kami memuja harga diri kami melebihi kesadaran kami untuk taat pada ajaranmu. Maafkan kami ya Rasulallah…