HMINEWS.Com – Muslim Indonesia kini menghadapi sekurang-kurangnya tiga tantangan besar. Tantangan kemanusiaan, reintegrasi sosial dan tantangan kelimuan. Untuk yang pertama, Islam berhadapan dengan kecurigaan barat dalam diskursus Clash of Civilization, dan dalam 10 tahun terakhir telah menjadi sasaran langsung proses perlawanan Barat dalam isu-isu terorisme internasional.

 Agenda politik Barat ini menyeret opini publik ke ranah kemanusiaan dengan mengesankan bahwa kepentingan Islam selalu dapat ditegakkan dengan mentolerir pelanggaran hak-hak asasi atau perendahan harkat kemanusiaan.

Kedua, mengenai masalah reintegrasi sosial,  beberapa waktu terakhir ini muslim Indonesia menyaksikan konflik sosial beragam latar. Kasus agraria yang melibatkan kepentingan pemodal dan menyeret perpecahan umat amat berbahaya. Umat ditantang untuk menjadi problem solver sehingga tidak muncul stereotipe yang mengesankan bahwa advokasi bukan concern gerakan Islam. Padahal terdapat 80 persen masyarakat muslim berada di kantong-kantong penindasan yang dekat dengan persoalan tersebut.

Hal itu akan makin parah jika kesan yang muncul kemudian adalah bahwa Islam hanya datang untuk isu-isu halal-haram (yang dipersempit), bid’ah-sesat, dan sebagainya. Terkait dengan pernyataan terakhir, kepentingan Barat tidak bisa disembunyikan dalam isu tersebut.

Barat merasa perlu mencari senjata baru dan kawan baru dalam menghadapi lawan-lawannya, seiring makin terpojoknya mereka dengan melemahnya sekutu-sekutu di Timur Tengah. Mereka menyediakan dana banyak untuk membiayai konflik tersebut, termasuk di Indonesia. Sebab disintegrasi muslim bagi Barat sangat penting, mengingat musuh utamanya, yaitu Iran kini tengah mengkampanyekan pesatuan kaum muslimin.

Ketiga, dalam penguasaan keilmuan dalam berbagai disiplin, posisi muslim Indonesia belum begitu signifikan.

Semua komponen tersebut merupakan penyanggah utama proses tawar-menawar dan penentuan kebijakan publik di masa mendatang. Jika kesemuanya absen dari perhatian lembaga-lembaga pendidikan dan perkaderan kaum muslim, termasuk HMI, maka akan jadi titik tolak bagi kegagalan pencapaian posisi tawar yang tinggi di masa mendatang.

 Tantangan tersebut membutuhkan sistem rekrutmen, pendidikan dan pembinaan yang baik. Sistem yang mencakup konsep kurikulum dan perkaderan yang up to date dan bahkan melampaui zamannya,  metodologi yang kaya, sarana yang juga tidak boleh dilupakan serta pengader sebagai kunci utama kemajuan dan keberhasilan perkaderan. (Safinuddin Almandari dalam Temu Pengader HMI se-Jawa)