HMINEWS.Com – Agenda pertemua antara rutin Presiden SBY dengan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong bulan depan diharapkan menghasilkan perjanjian ekstradisi kedua negara. Sebab karena ketiadaan perjanjian tersebut maka Singapura menjadi tujuan favorit para pelarian penjahat dari Indonesia, khususnya koruptor dan para pengemplang pajak.

 Seperti dikatakan Sekjen DPP PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo kepada ANTARA, Singapura berkepentingan terhadap perjanjian pertahanan (Defence Cooperation Agreement/ DCA) dengan Indonesia karena negara gurem tersebut membutuhkan tempat latihan bagi pasukanya.

“Perlu dipahami bahwa Singapura berkepentingan terhadap DCA bukan dalam konteks kerja sama pertahanan dalam pengertian yang umum, melainkan negara tersebut hanya membutuhkan lahan milik Indonesia sebagai tempat latihan pasukannya,” kata Tjahjo Kumolo, Selasa (14/2/2011).

Menurutnya, meski pertemuan rutin digelar, namun kedua negara hingga kini belum mencapai kesepakatan, baik itu dalam DCA maupun perjanjian ekstradisi.

Singapura merasa superior dengan kecanggihan alustista yang dimilikinya, juga aliansi pertahanan Five Power Defense Agreement (FPDA) dengan Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura dan Malaysia. Serangan terhadap salah satu dari kelima negara tersebut dianggap sebagai serangan terhadap negara lainnya.

Karenanya, lanjut Tjahjo, Kementerian Pertahanan dan kementerian lainnya harus merumuskan agenda pembicaraan dalam pertemuan tersebut agar menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai, perjanjian ekstradisi atau kerjasama bilateral misalnya. (Antara/Ftr)