HMINEWS.Com – Akal dan wahyu adalah dua instrumen penting bagi kehidupan manusia. Ibaratnya, akal adalah mata dan wahyu adalah cahaya yang menyinarinya, sehingga kehidupan manusia terbimbing. Namun dalam kenyataannya banyak yang mempertentangkan dan tidak seimbang dalam memperlakukan keduanya.

Pengkontradiksian antara keduanya berawal dari masyarakat barat di mana banyak penemuan ilmiah yang bertentangan dengan doktrin gereja. Meski begitu, dalam Islam yang berlaku prinsip “Akal yang sehat tidak akan menyelisihi nash yang sahih” pun tidak luput dari gejala serupa, mempertentangkan akal dan wahyu.

Teks atau nash-nash dalam Alqur’an dan hadits (sunnah) kemudian banyak pula yang coba dipertanyakan karena dianggap bertentangan dengan akal. Apalagi banyak praktik keagamaan dan bercokolnya pemikiran kolot yang dianggap dari Islam padahal sesungguhnya bukan, dan kemudian oleh gerakan pembaharuan coba dibersihkan.

Dalam satu sisi, pemikiran liberal bisa menemukan relevansinya dengan semangat pembaharuan tersebut, namun yang patut digarisbawahi adalah upaya mereka mempertanyakan  segala hal, hingga pada hal-hal yang dianggap prinsipil dan telah final dalam Islam.

Kenyataan seperti itulah yang membuat resah sebagian kalangan muslim terhadap liberalisasi pemikiran Islam. Seperti Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir yang akan  menyelenggarakan seminar liberalisasi pemikiran Islam pada hari Sabtu 4 Februari 2012 di Kampus B STID Mohammad Natsir, Tambun Selatan Kabupaten Bekasi.

“Liberalisasi pendidikan bukan hal baru, tapi selalu bergulir, terutama di kampus-kampus berbasis Islam. Dari itulah kami angkat tema ini,” kata ketua BEM STID Mohammad Natsir, Romdhoni, Kamis (3/2/2012).

Akan hadir sebagai pembicara, Akmal Syafril, penulis buku “Islam Liberal 101”, dan Dwi Budiman, Sekretaris Prodi KPI STID Mohammad Natsir.

Menurut Romdhoni, kegiatan tersebut rutin diselenggarakan maksimal 2 bulan sekali. “Dua bulan sekali dengan tema berbeda beda-beda, selain itu ada training-training untuk remaja di pesantren-pesantren dan SMA, seperti di SMA Negeri 1 Anyer dan SMA Muhammadiyah Puloasem, Jakarta Timur belum lama ini,” lanjut Romdhoni. (Fathur)