HMINEWS.Com – Gerakan Menutup Aurat (GEMAR) yang memanfaatkan momentum 14 Februari disambut luarbiasa di berbagai daerah. Sedikitnya 75 kota di Indonesia melancarkan gerakan serupa. Tak hanya itu, sejumlah negara aksi terjadi di sejumlah negara di berbagai titik keramaian.

Rangkaian aksi berlangsung selama dua pekan dan puncaknya adalah Selasa 14 Februari 2011 kemarin. Adapun mengenai motifnya, Herry Nurdi menegaskannya sebagai usaha kecil untuk amar ma’ruf nahi munkar.

“Gerakan Menutup Aurat adalah usaha kecil untuk amar ma’ruf nahi munkar, karena gejala sosial, terutama perzinaan yang makin luas,” kata Herry Nurdi kepada HMINEWS.Com, Rabu (15/2/2011).

Pria berjenggot tersebut menyebutkan kasus pergaulan bebas dalam perayaan valentine di Jombang oleh 10 pasang muda-mudi yang di antaranya masih pelajar.

Gejala seperti itu hampir merata di semua daerah karena dukungan promosi media dalam kampanye valentine yang lebih menjurus pada zina. Muda-mudi digiring untuk saling menyatakan cinta dan mengungkapkannya dengan hubungan seksual. Seperti cokelat dan kondom dalam satu paket untuk merayakan valentine.

Dengan Gerakan Menutup Aurat diharapkan kontrol sosial yang merupakan budaya asli ketimuran kembali menguat, tidak hanya dalam kasus seperti valentine, tapi juga menjadi gerakan yang berkelanjutan dan memanfaatkan berbagai media, termasuk jejaring sosial. Karena terbukti melalui jejaring sosial itu pula, Gerakan Menutup Aurat mendapat sambutan luas.

“Melalui jejaring sosial, twitter dan utamanya facebook, gerakan ini sampai di Hongkong, Macau, Inggris dan Malaysia,” lanjut Herry Nurdi yang juga presiden Teachers Working Group itu.

Meski begitu, dengan rendah hati Herry menegaskan, Gerakan Menutup Aurat bukanlah milik satu lembaga, karena semua lembaga dan aktivis terlibat.