Berlaku adil itu ibarat memegang bara. Panas membakar tangan, namun jika dilepas akan kehilangan cahaya. Demikian beratnya, meski terhadap teman, apalagi jika tidak sepaham, dan lebih besar lagi apabila terhadap musuh yang nyata-nyata berseberangan.

Adil tidak bisa dilepaskan dari kejujuran. Jujur terhadap diri sendiri, jujur terhadap kebenaran yang tidak jarang kebenaran itu justru ada pada pihak lain yang terlanjur dideklarasikan sebagai musuh perjuangan.

Juga, berlaku adil sangat berat bagi para pemimpin, tidak mesti pemimpin formal, akan tetapi orang yang kebetulan mempunyai massa. Kadang untuk menjaga imej dan loyalitas bawahannya, ia menuruti pandangan orang yang dipimpinnya, menurunkan standar dan mengamini omongan mayoritas tersebut agar tidak terdepak dari kekuasaan yang manis melebihi gula-gula.

Marilah kita tengok sejenak apa yang terjadi pada khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dalam menghadapi pergolakan. Betapa di tengah kecamuk perang yang hampir dimenangkannya dari kelompok Mu’awiyah dan Amr bin Ash, pasukannya sendiri mendesaknya untuk menyetujui gencatan senjata.

Padahal dengan ketajaman mata zhahir dan mata batinnya, ia tahu persis desakan untuk gencatan senjata dari golongan yang diperanginya tersebut dengan mengacung-acungkan mushaf di ujung tombak para prajurit hanyalah muslihat untuk mencari keselamatan. Mereka berlindung di balik nama Alqur’an agar selamat setelah upaya memerangi khalifah nyaris kandas dan berbuntut kekalahan.

Setelah desakan gencatan senjata dituruti dengan berat hati, bukan pula kesetiaan yang didapat, akan tetapi justru sebagian pasukannya berbalik memusuhinya. Puncaknya ketika terjadi tahkim (arbitrase) untuk memutuskan perkara dua golongan sesama umat tersebut. Dengan alasan tahkim menyelisihi hukum Allah, pengikut yang berbalik itu, yaitu golongan khawarij akhirnya pun memeranginya. Mereka lupa bahwa desakan genjatan senjata mereka pulalah yang memaksakannya pada sang khalifah. Bertambah beratlah ujian Abu Turab (julukan Ali bin Abi Thalib yang diberikan Rasulullah).

Dalam berbagai pertempuran yang terjadi sebelumnya, pernah satu kali pasukan Mu’awiyah memblokir sumber air yang mengakibatkan pasukan Ali kehausan. Namun begitu keadaan berbalik dan sumber air dikuasai pasukan Ali, syiah Muawiyah (pengikut Mu’awiyah) dibiarkan minum dengan aman.

Kenyataan pahit harus ditelah oleh Ali, ketika ternyata pihaknya kalah dalam tahkim dari pihak Mu’awiyah yang mengajukan Amr bin Ash yang kesohor jago silat lidah itu.

Suatu kali di saat hendak shalat subuh, Ali ditebas oleh Abdurrahman bin Muljam yang khawarij. Pembunuh tersebut berhasil diringkus. Ali berwasiat agar berlaku adil dan tetap memperlakukan pembunuhnya dengan baik dan menghukum sebatas melaksanakan qisas saja.

Akhirnya menantu Rasulullah itu pun wafat, diistirahatkan oleh Sang Khaliq dari kacaunya dunia. Akan tetapi perlakuan tidak adil terus diterima oleh keluarganya, karena ternyata di mana-mana semua khatib diwajibkan melaknatnya di mimbar-mimbar keagamaan. Perlakuan tersebut baru berhenti ketika Al Hasan, puteranya dengan Fathimah, menyatukan umat muslim dan mengakui wewenang khalifah dari golongan musuh sang ayah. (Ibnu ‘Azzam)

bersambung…