Oleh: Muhammad Yusuf*

Bulan Februari ini Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berulang tahun ke-65 dalam hitungan tahun masehi. Tepat ketika Pemuda bernama Lafran Pane mendeklarasikan gerakan alternatif  untuk mengubah mindset mahasiswa yang ada di kampus-kampus agar Islam tetap menjadi way of life mereka untuk komitmen akan keIslaman sekaligus untuk penyadaran gerakan bahwa penjajahan di bumi Indonesia harus dihapuskan dengan metode yang dipakai HMI.

Dengan azas Islam, HMI bersatu-padu mengumpulkan pemuda (baca: Mahasiswa) untuk mendudukkan kembali visi amar ma’ruf nahi munkar atau sebagai agen perubahan. Atas simpul-simpul keummatan dan kebangsaan yang semakin terancam eksistensinya. Bagaimana tidak, umat Islam sudah mulai hilang jati dirinya. Sebagai panutan untuk melakukan “Vision of Islam” atau cita-cita Islam sebagai pemimpin, pendidik dan teladan semakin tergerus dengan mazhab materialisme  dan split of personality (kepribadian yang terbelah) berupa penyakit internal yaitu kedengkian terhadap sesama yang berakibat pada penghancuran diri, sehingga menyebabkan gerakan mandek.

Jika HMI ingin terus berjaya sebagai gerakan mahasiswa, maka faktor evaluasi diri sebagai gerakan Islam dengan terus mempelajari dasar-dasar Islam, sejarah keIslaman, dan akhlaq harus ditanamkan seja dini. Hal itu sebagai pondasi untuk menghadapi faktor eksternal ummat Islam yang terus mengekspansi dari kekuatan ekonomi, politik, dan kebudayaan mengobrak-abrik tata-sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan aktivis, pasca aktifis, hingga alumni HMI semakin lupa akan ke-HMI-annnya dan semakin larut akan kerusakan hari ini.

Awal berdirinya HMI sebagai gerakan untuk membebaskan bangsa dari keterjajahan Belanda yang masih menancapkan kekuasaan di bumi Indonesia. Dengan semangat ini memulai. HMI seharusnya menjadi garda terdepan untuk menyuarakan penentangan pada ketidakadilan yang menyangkut sistem bangsa yang semakin hari semakin akut. Bukan diam tanpa sikap akibat kerja-kerja teknis organisatoris kepengurusan dengan alasan lagi fokus di internal. Sehingga organisasi mandek.

Atau sebaliknya. aktivis HMI terjebak dalam aksi-aksi politis praktis yang ujung-ujungnya kepentingan pribadi sehingga visi organisasi ditarik dalam kepentingan pribadi, yaitu uang dan kedekatan dengan penguasa.

Jika tidak ingin kehilangan visi seperti di atas, maka gerakan harus segera putar kompas 180 derajat yaitu menjadi gerakan  protes atas fenomena yang terjadi di dunia gerakan, atas telikung kepentingan dan politik negeri kita yang terus menjadi boneka dari negara lain. Kita selalu dijajah dan terus belum merdeka hingga hari ini. Gerakan protes hendaknya menjadi visi. Bagaimanapun hari ini aksi yang dilakukan oleh HMI harus menjadi representasi kebutuhan rakyat akan bersatunya mahasiswa dengan gerakan buruh, petani dan masyarakat kota yang terpinggirkan oleh sistem penjajahan model baru bernama kolonialisasi, imperealisme, korupsi, gaya hidup hedonis kaum elit dan kondisi negara yang tidak lagi berpihak pada masyarakatnya.

Pernyataan sikap untuk membela yang tertindas dan melawan ketidakadilan harus tetap disuarakan dalam setiap level tingkat ke-HMI-an. Serta bangunan-bangunan strategis untuk melakukan advokasi-advokasi masyarakat terus diciptakan agar apa yang dicita-citakan pada akhirnya akan tercapai dengan gerakan rakyat, bukan gerakan wacana yang mengatasnamakan gerakan intelekual ataupun gerakan peradaban.

Aksi rakyat adalah imbas dari kebijakan yang tidak memihak pada yang terpinggirkan sehingga dalam jangka panjang, proyeksi ini segera tidak diantasipasi oleh negara maka yang terjadi adalah pemiskinan dan pembodohan yang tidak terelakkan oleh rakyat, terutama komunitas yang semakin tidak peka terhadap penyakit sosial yang menimpa kehidupan.

Semua telah tersandera dengan pemiskinan, korupsi dan pembodohan. Gerakan HMI harus menjadi pioneer atas permasalahan-permasalahan yang terjadi di negeri ini. Bukan lari mencari titik aman. Mencari visi elitis yang gundah akan diri tetapi lupa akan kondisi sosialnya. Sehingga gerakannya adanya seperti tidak ada. Semua mencari pembenaran untuk lari dalam pertapaan dan mencari pembenaran agar HMI tidak gusar melihat realitas sosial yang galau.

HMI Sebagai agen kontrol sosial hendaknya menjadi pemicu pemahaman atas kondisi kemahsiswaan yang semakin hari semakin instan dan glamour dalam gaya hidup. Tentu permasalahan utamanya dapat dijadikan pedoman bahwa ekspansi budaya konsumerisme melalui iklan ataupun jenis media yang lain mengakibatkan perubahan cara pikir dengan cara instan. Sehingga melahirkan generasi-generasi lemah dalam menangkap moment dalam usaha pembahasan terhadap bangsa semakin tidak dapat berpihak.

Dalam jangka panjang generasi anak bangsa akan menjadi anak bangsa yang mengekor atas model ekspansi bangsa lain. Dalam konteks diskusi ini adalah apa yang hadir pada bangsa ini tidak menjadi pilihan atau jalan hidup yang perlu diperjuangkan sekaligus dilestarikan sehingga dampak politik dan ekonomi akan menjadi bangsa pengekor atas bangsa lain. Bahkan pelestarian budaya melalui gerakan visi inteletualisme organisasi akan terjadi jika, apa yang menjadi gerakannya tertuju pada upaya pembelaan bukan  visi yang mengambang bukan tanpa ruh. Seperti visi hari ini berupa peradaban. Yang tidak bisa ditangkap elan vitalnya, ber-hmi.

Titik pointnya adalah kontinuitas, dalam melaksanakan visi perkaderan yang dimiliki oleh HMI secara independent. Yaitu berupa penataan nilai keislaman yang terus menjadi ilham dari kader HMI dalam memperjuangkan apa yang menjadi gerak untuk menata kehidupan sosial di manapun mereka berada, serta daya kreatifitas untuk menegakkan visi amar ma’ruf nahi munkar adalah jalan alternatif untuk memperbaiki tatanan sosial yang semakin terpuruk. Siapapun statusnya kader, pengader, pasca kader, hingga alumni sekalipun. Semua bersatu untuk menjunjung visi pembebasan yang berpihak pada yang terlemahkan.

Sumber embrio tertinggi bagi lahirnya gerakan sosial yang bervisi pada perubahan adalah langkah awal untuk menyatukan visi intelektualisme, spiritualisme, dan berpihak pada yang terlemahkan adalah suara hati HMI untuk menata kembali kondisi yang sakit hari ini. Dapat bangun kembali menata sejarah keummatan dan kebangsaan menuju “Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur” negeri yang sejahtera, makmur  dan mendapat ampunan dari tuhan seru sekalian alam.

Tentu dalam setiap visi, misi dan program, dibangun agar capaian-capaian yang ditargetkan dapat memberikan andil atas evaluasi diri, himpunan, dan kebangsaan dapat terukur dengan sembari menyusun kekuatan membangun jaringan kemahasiswaan, kemasyarakatan, kenegaraan, untuk tetap mengemban amanah sebagai manusia yang memiliki visi sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

*Kornas Korps Pengader Nasional HMI