Milad HMI yang ke-65 kali ini sangat istimewa bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kita memperingati kelahiran manusia suci bernama Muhammad bin Abdullah, sekaligus memperingati kelahiran HMI. Sebagai organisasi mahasiswa Islam, HMI lahir untuk menegakkan panji-panji Islam, kalimat-kalimat Allah SWT, dan memperjuangkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin sebagaimana yang disampaikan Muhammad. Muhammad adalah sosok pribadi yang telah mencapai derajat sebagai insan ulul albab, sementara HMI adalah organisasi yang bertujuan untuk membina mahasiswa sehingga mampu bergerak menuju derajat insan ulul albab.

Dalam AD HMI pasal 4 disebutkan: “Tujuan HMI adalah untuk terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT”. Dari kalimat itu, jelas sekali bahwa organisasi ini pertama-tama merupakan organisasi perkaderan yang orientasi utamanya adalah membina, mendidik, dan mencerahkan mahasiswa Islam sehingga mampu mempersiapkan dirinya mencapai predikat insan ulul albab. Tugas utama dan yang paling pokok bagi HMI adalah berdakwah dan membina sebanyak-banyaknya mahasiswa Islam menuju insan ulul albab.

Lalu, insan ulul albab yang bagaimanakah yang dicita-citakan oleh HMI? Yakni insan ulul albab yang memiliki kesadaran, tanggungjawab, dan tindakan nyata untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT. HMI berpandangan bahwa tatanan masyarakat yang paripurna hanya akan mampu diciptakan oleh sekumpulan individu-individu yang paripurna pula. Hanya individu-individu yang berkualitas seperti Muhammad dan sahabat-sahabat pilihannya lah yang dijamin mampu menegakkan suatu tatanan masyarakat yang benar-benar paripurna.

Oleh karena itu, program-program kegiatan serta orientasi pergerakan HMI haruslah bertitik fokus pada upaya-upaya perkaderan dan pembinaan mahasiswa. HMI tidak boleh sibuk dengan urusan-urusan kekuasaan politik, apalagi berpolitik praktis. Urusan menjatuhkan rezim, terlalu kecil buat HMI, sebab yang diutamakan oleh HMI adalah urusan peradaban yang madani. Perkaderan yang dimaksud di sini tentu saja bukan perkaderan yang sekadar kegiatan-kegiatan training dan pelatihan, namun perkaderan dalam pengertian pembinaan dan penggemblengan diri, peningkatan kapasitas diri, dan penguatan organisasi. HMI harus senantiasa berpijak pada tiga komitmen, yakni komitmen ideologis/spritual, komitmen epistemologi/intelektual, dan komitmen organisasi.

Organisasi kita yang tercinta ini, HMI-MPO, tidak boleh ikut-ikutan dengan organisasi mahasiswa/pemuda lainnya di Indonesia yang bergerak dan mencari jalan untuk merapat pada kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun kekuasaan ekonomi. Jalan yang semacam itu adalah jalan yang sesat, karena pada kenyataannya hanya membuat organisasi mahasiswa/pemuda akhirnya terjebak dalam pragmatisme dan borjuasi. Jalan semacam itu menyebabkan organisasi mahasiswa/pemuda kehilangan independesinya, kehilangan akal sehatnya, kehilangan hati nuraninya, bahkan kehilangan harga diri, harkat, dan martabatnya, serta kehilangan kesejatian kemanusiaannya.

Situasi mutkahir di negeri kita ini yang terombang-ambing dalam arus semangat hedonisme, materialisme, pragmatisme, konsumerisme, liberalisme, hingga ekstrimisme fundamentalistik, merupakan suatu kondisi yang sangat berbahaya bagi masyarakat pada umumnya, umat Islam, serta HMI pada khususnya. Arus materialisme/kapitalistik/liberal di satu sisi serta arus ekstrimisme fundamentalistik di sisi yang lain merupakan pilihan-pilihan jalan pintas yang sangat menipu. Kemuliaan yang ditawarkan oleh masing-masing arus itu adalah sebuah kemuliaan yang semu dan palsu. HMI harus senantiasa konsisten pada jalan yang sebenarnya, yakni jalan yang lurus, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Muhammad, yang tertuang dalam Konstitusi dan Khittah Perjuangan HMI.

Di usianya yang ke-65, HMI telah mengalami sejumlah kemajuan pesat di satu sisi, namun di sisi lain juga mengalami kemunduran. Peran signifikan HMI di pentas-pentas internasional, pembangunan fasilitas infrastruktur organisasi, penambahan jumlah cabang dan Badko, serta jaringan alumni yang sangat luas, merupakan sisi kemajuan HMI. Namun demikian, kian lemahnya perkaderan, kurangnya minat intelektual kader, pragmatisme akademik, lemahnya ghirah islamiyah, praktek amalan-amalan islamiyah kader yang makin tidak kuat, konflik-konflik tidak sehat di tubuh organisasi, pengaruh buruk modernisme, adalah sisi lain dari kemunduran HMI. Di satu sisi HMI cukup membanggakan, namun di sisi yang lain HMI nampak memprihatinkan.

Bertambahnya jumlah anggota dan cabang-cabang HMI di seluruh Indonesia, membutuhkan perhatian serius. Pertambahan kuantitas itu harus diimbangi dengan pertambahan pembinaan dan kepedulian pada kualitas, yang disokong oleh dua faktor, yakni faktor kualitas para pengader dan faktor finansial. Kualitas dan kuantitas para pengader-pengader HMI terus diupayakan oleh kepengurusan melalui berbagai macam cara.

Meskipun bukan faktor penghambat segala-galanya, namun mau tidak mau faktor finansial menjadi penghambat yang serius dalam program-program pembinaan organisasi dan kader. Di sinilah dukungan penuh alumni sangat dibutuhkan. Masih minimnya sokongan finansial alumni pada organisasi membuat organisasi ini benar-benar hanya mengandalkan doa dan tawakkal kepada Allah SWT serta mengandalkan kenekatan yang berlebihan dan tidak rasional. HMI sebenarnya bisa saja mencari pendanaan dari sumber-sumber lain yang jumlahnya bisa sangat besar, namun kekhawatiran akan hilangnya independensi dan pengaruh buruk pragmatisme, membuat HMI memilih untuk lebih baik tak punya apa-apa daripada menjual harga diri, melacurkan diri.

HMI tidak mungkin mendirikan badan usaha ekonomi untuk membiayai kegiatan-kegiatannya (sebagaimana yang disarankan sejumlah alumni yang sulit mengeluarkan sedekah), karena mengingat usia keanggotaan HMI yang sangat singkat, kapasitas berbisnis kader-kader HMI yang tidak memadai, serta bahwa perkaderan HMI bukan berorientasi mencari dana melainkan mencari pencerahan intelektual dan spritual. Tugas HMI adalah berdakwah, dan tugas alumni HMI adalah membiayai kegiatan-kegiatan dakwah HMI yang tujuannya semata-mata untuk mencari ridha Allah. Konsep Islam mengenai zakat, khumus, infak, dan sadaqah, perlu ditindaknyata oleh alumni HMI. Gerakan Muhammad menjadi sangat kuat karena dukungan finansial dari sahabat-sahabatnya yang dermawan, pikiran-pikiran Marx bertambah revolusioner karena dukungan dari sahabatnya yang hartawan, para penganjur neoliberalisme makin digdaya karena sokongan pengusaha-pengusaha kaya, penguasa-penguasa jahat mampu terus berkuasa karena sokongan pebisnis-pebisnis hitam, seperti halnya juga gerakan Imam Khomaini yang tak terbendung karena didukung para dermawan.

Dalam usianya yang 65 tahun ini, HMI harus tetap konsisten pada pijakan perjuangan pendiri HMI, Lafran Pane dan kawan-kawan, yang mengorientasikan perjuangan HMI dalam medan juang kemahasiswaan, keindonesiaan, dan keislaman. Warga HMI juga perlu senantiasa merefleksikan pesan Nurcholish Madjid mengenai keharusan HMI bertindak sebagai problem-solver dalam setiap persoalan keummatan.

Semoga di usia HMI yang ke-65 tahun ini, HMI dan termasuk alumni HMI dapat membawa rahmat dan berkah bagi bangsa ini. Kalaupun kehadiran kita tak membawa rahmat dan berkah, setidak-tidaknya kehadiran kita tidak menjadi faktor yang merusak, membawa kegelapan, serta menghancurkan bangsa ini.

Bahagia HMI.

Alto Makmuralto, Ketua Umum PB HMI (MPO) 2011-2013
(Pidato ini dibacakan dalam kegiatan Milad HMI ke-65 oleh PB HMI di aula Universitas Paramadina Jakarta, 5 Februari 2012)