HMINEWS – Administrasi Universitas Makarere Uganda meyakinkan mahasiswa Muslim bahwa mereka bebas untuk menggunakan jilbab di ruang ujian, namun mereka harus diperiksa oleh pengawas perempuan sebelum memasuki ruangan.

Keputusan itu muncul setelah sejumlah besar Muslim Uganda memprotes Universitas Makerere karena pengawas ujian mencegah mahasiswa Muslim untuk memasuki ruang ujian kecuali mereka melepas kerudungnya. Akibatnya, para mahasiswa Muslim tidak bisa mengikuti ujian.

Protes dipimpin oleh Sheikh Nuhu Muzata, yang mengatakan Universitas Makerere perlu mengubah peraturan pemeriksaan dan menerima pakaian Muslimah.

Muzata menyarankan universitas untuk menyediakan pengawas perempuan guna memeriksa perempuan yang memakai jilbab atau pakaian yang menutupi aurat, bukannya menganggap pakaian Muslimah sebagai kejahatan. Akhirnya, pihak universitas setuju atas usulan itu.

Mutaza mengatakan masalah utama adalah bahwa Muslim tidak terwakili di Dewan Universitas Makerere dan manajemen puncak, sehingga badan-badan tersebut membuat peraturan yang tidak peka terhadap kebutuhan Muslim. (IRIB Indonesia)