HMINEWS – Tim Sembilan Fungsionaris DPP Partai Demokrat menilai pernyataan politikus partai Golkar Bambang Soesatyo bukanlah sikap seorang politisi. Menurut Poltak Ike Wibowo, anggota Tim Sembilan Fungsionaris DPP Partai Demokrat, seorang politisi tidak akan melempar suatu masalah yang dibuat kepada pihak lain, tetapi akan menjawab dengan fakta dan bukti.

Hal tersebut merupakan respons Tim Sembilan Fungsionaris DPP Partai Demokrat terkait pernyataan Bambang Soesatyo, yang dilansir Mediaindonesia.com (Rabu, 11/1), kemenangan Rafat Ali Rivki dan Hesyam Al Waraq di Badan Arbitrase Internasional terkait bailout Bank Century.

Sebelumnya, Bambang menangkis tudingan Tim Sembilan Fungsionaris Partai Demokrat yang menyebutkan ia menyebar berita bohong, salah alamat. Ia mengatakan pernyataannya tersebut dilontarkan sebagai jawaban atas pertanyaan wartawan yang ketika itu meminta tanggapan mengenai kemenangan Rafat dan Hesyam di Badan Arbitrase Internasional.

Namun, Poltak menilai Bambang justru memberikan keterangan yang berbeda soal Rafat dan Hesyam beberapa bulan lalu, seperti dimuat di beberapa media di beberapa daerah.

“Beberapa media mengutip omongan Bambang yang menyatakan Rafat dan Hesyam menang di Badan Arbitrase Internasional. Ini sangat jelas bahwa tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan wartawan, melainkan memang ada niat untuk memberikan berita dalam bnetuk tertulism” ujar Poltak, melalui rilis yang diterima, Kamis (12/1).

Kotidakkonsistenan Bambang, kata Poltak, pun jelas terlihat ketika ia mempertanyakan mengapa masalah tersebut baru diributkan sekarang. “Kalau ternyata nanti Hesyam dan Rafat benar-benar menang bagaimana?” kata Bambang, waktu itu.

Menurut Poltak, penggunaan kalimat ‘kalau ternyata nanti’ ini menunjukkan sesuatu yang belum terjadi.

“Lalu, terus kenapa sudah ada pernyataan yang menyatakan pemerintah kalah?” tanya Poltak.

Karena itu, Poltak mengatakan politisi yang baik adalah politisi yang tidak membodohi rakyat dengan memberikan informasi sesat dan bohong, dan tidak menyebarkan fitnah.

“Hanya badut politik yang suka membodohi rakyat dengan memberikan informasi sesat dan melakukan kebohongan publik, suka menyebar fitnah, dan tidak mengindahkan kaidah etika politik dalam berbangsa dan bernegara,” tegasnya.[ian/MI]