HMINEWS.Com – Indonesia belum pernah se-salah urus seperti sekarang ini. Ideologinya kabur dan arah pembangunannya tidak jelas. Begitu juga dengan perpolitikan, semua parpol mengaku partai tengah, tapi tengahnya itu ternyata adalah urusan perut. Jadi apa pun partainya, muaranya uang dan kekuasaan.

Meski pertumbuhan ekonomi sangat lambat, namun pemerintah selalu saja mencari-cari alasan pembenar dan pembanding untuk bisa mengatakan bahwa pembangunan Indonesia sudah berhasil. Yaitu membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 6,6 persen dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang ‘hanya’ 1,3 persen.

Padahal tingkat kesejahteraan Amerika Serikat sudah mapan dan jauh di atas Indonesia. Ibarat rumah tangga yang serba kecukupan dan kenyang, mereka hanya  perlu tambahan cemilan sedikit. Sedangkan Indonesia masih pada taraf lapar dan karenanya pertumbuhan ekonominya harus benar-benar signifikan.

Hal itu diungkapkan Fuad Bawazir dalam diskusi terbatas dengan PB HMI MPO di Menteng, Jakarta, Jum’at (6/1) malam.

Selain itu, pertumbuhan infrastruktur sangat lambat, seperti infrastruktur perkeretapian yang masih amat besar rasionya dengan jumlah penduduk yang terus bertambah.

Untuk masalah jalan, pemerintah pun terus-menerus menyalahkan pihak lain, membatasi tonase dan sebagainya. “Bukannya membangun jalan yang bagus, eh malah orang lain yang disalahkan. Pembatasan tonase membuat pengiriman barang jadi memakan waktu lama. Yang seharusnya bisa dua hari menjadi seminggu untuk sampai kapal penuh,” kata manta Menteri Keuangan tersebut.

Lamanya waktu tersebut sangat merugikan para pelaku usaha, istilahnya kerugian demorage. Belum lagi dengan perizinan yang sangat berbelit dan menjengkelkan. Mengurus izin mendirikan pabrik memerlukan waktu sampai 3 bulan baru beres.

“Pemerintah justru menjadi faktor negatif pertumbuhan ekonomi. Seharusnya kalau tidak bisa membantu ya jangan ganggu,” tegasnya. (Fathur)