HMINEWS – Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, kembali menyebut mantan rekannya, Anas Urbaningrum, menerima uang terkait proyek di pemerintah. Kali ini, Nazaruddin mengatakan bahwa Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu memperoleh keuntungan dari dua proyek di Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Soal pertemuan itu ada proyek pembangkit listrik, uangnya sudah dikasihkan ke Anas,” kata Nazaruddin seusai menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (18/1/2012).

Nazaruddin menyatakan, dana itu diperoleh Anas dari dua proyek pembangkit listrik senilai Rp 2,2 triliun di Kalimantan dan di Riau. Proyek di Kalimantan dimenangkan oleh PT Adhi Karya, sementara yang di Riau akan dikerjakan PT Rekayasa Industri. “Di Kalimantan PT Adhi Karya, JO, sama China. Di Riau, Rekin (Rekayasa Industri) sama China,” ujar terdakwa kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games itu.

Kedua proyek tersebut, kata Nazaruddin, sudah ada kontrak kerjassama dengan PLN. Mantan anggota DPR itu mengatakan, PT Adhi Karya telah memberikan uang kepada Anas melalui Wila. Nazaruddin mengenal Wila sebagai perempuan pengusaha yang sudah 10 tahun menjadi rekanan PLN.

Nazaruddin mengklaim memiliki bukti rekaman yang menunjukkan adanya penerimaan fee dari PT Adhi Karya kepada Anas melalui Wila itu. Bukti itu berupa rekaman percakapan antara Nazaruddin dan Wila melalui BlackBerry Messenger. “Saya tanya, ‘Bu (Wila), bagaimana soal fee-nya? (Dijawab) ‘Pak, fee-nya sudah langsung diserahkan ke Pak Anas,” ucap Nazar menirukan perbincangannya dengan Wila melalui BlackBerry.

Ia mengaku pernah membahas pembagian fee terkait dua proyek itu bersama Mindo Rosalina Manullang, pihak PT Adhi Karya, dan mantan rekannya di Partai Demokrat, Soetan Bathoegana, di Restoran Nippon Khan, Hotel Sultan Jakarta. Saat ditanya apakah Soetan turut menikmati uang, Nazaruddin menjawab, “Coba tanya Pak Soetan, sudah terima fee-nya atau belum,” kata Nazar.[kmps]