HMINEWS – Gerakan Muqawama Lebanon Hizbullah mengutuk aksi teror terhadap seorang ilmuwan nuklir Iran dan menilainya sebagai bagian dari upaya untuk merusak reputasi program nuklir Iran.

Pada Rabu (11/1), seorang pengendara motor yang tidak diketahui memasang bom magnet di mobil ilmuwan Iran Mostafa Ahmadi Roshan yang berada di dekat bangunan Universitas Allameh Tabatabai, Tehran. Ahmadi Roshan meninggal di tempat dan sopirnya yang mengalami luka parah, meninggal beberapa jam kemudian di rumah sakit.

Dalam sebuah pernyataan, Hizbullah mengutuk serangan itu dan menyatakan bahwa teroris Zionis mentargetkan ilmuwan nuklir Iran dalam upaya untuk menunda program nuklir negara ini.

Gerakan Muqawama Lebanon juga menyatakan keyakinannya bahwa aksi teror tersebut tidak dapat menghalangi kemajuan Iran di bidang nuklir.

Dalam pernyataannya, Hizbullah juga menegaskan bahwa pembunuhan ilmuwan adalah kejahatan teroris dalam arti penuh dan menambahkan bahwa tindakan teror itu bertujuan menargetkan potensi ilmiah Iran yang telah memberikan kontribusi terhadap pembangunan negara dan kemandirian keilmuan.

Lebih lanjut, Hizbullah dalam statemennya menyatakan bahwa pembunuhan terjadi di tengah kampanye media Barat untuk merusak reputasi program nuklir Iran melalui tuduhan bahwa Iran mengejar tujuan militer dalam program nuklirnya. Padahal, Iran telah memberikan semua bukti soal tujuan damai program nuklirnya,

Ahmadi Roshan adalah lulusan teknik kimia di Universitas Teknologi Sharif dan menjabat sebagai wakil direktur pemasaran di fasilitas nuklir Natanz, Iran.

Ahmadi Roshan bukanlah ilmuwan nuklir pertama Iran yang menjadi target serangan teroris. Pada bulan November 2010, Majid Shahriari, ilmuwan lain Iran tewas dalam serangan teroris dan Dr Fereydoun Abbasi Kepala Organisasi Energi Atom Iran terluka.

Profesor Masoud Ali Mohammadi, seorang sarjana di Universitas Tehran juga meningal akibat ledakan bom sepeda motor di ibukota Iran pada Januari 2010.[irb/ian]