HMINEWS – Harta kekayaan Marzuki Alie mengalami peningkatan tajam dalam lima tahun terakhir. Di tahun 2005, Ketua DPR itu memiliki harta sekitar Rp 6,8 miliar. Di 2009, jumlah kekayaannya meningkat hampir 4 kali lipat menjadi Rp 22,9 miliar.

Berdasarkan data di Direktorat Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaran Negara (LHKPN), Marzuki Alie melaporkan dua kali kepemilikan hartanya. Pertama, dilakukan pada 31 Desember 2005 saat dia masih menjabat sebagai Direktur Komersil PT Semen Baturaja, sebuah BUMN yang bergerak di bidang semen. Kedua, dilakukan pada 30 November 2009, saat dirinya menjabat Ketua DPR.

Total harta Marzuki pada 2005 sebesar Rp 6.853.468.000 miliar, terdiri atas harta bergerak dan tak bergerak. Di tahun 2009, total harta Marzuki sebesar Rp 23.925.500.000 miliar. Rinciannya, Rp 22.226.951.000 dan 12.161 dolar AS. Sementara harta yang tidak bergerak terdiri atas sebidang tanah dan 67 unit bangunan di Palembang dan kendaraan berupa mobil Toyota Camry, Mitsubishi, Nissan, Toyota Dyna, Toyota Cygnus 2000.

Marzuki sendiri mengakui kekayaannya meningkat tajam. Namun dia memastikan peningkatan hartanya itu jelas dan didapat dari cari cara yang halal. “Sumbernya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan,” jawabnya saat dikonfirmasi Rakyat Merdeka Online, beberapa waktu lalu (Senin, 29/11).

Dia menyatakan, penambahan terbesar dari hartanya berasal dari sekolah yang didirikannya di Palembang. Luas tanah sekolah saat ini sebesar 2,1 hektar. Rinciannya, 1,1 hektar digunakan untuk SD, SMP, dan SMA. Dan 1 hektar lagi digunakan untuk perguruann tinggi. Saat didirikan tahun 1999, kata Marzuki, sekolah itu masih kecil. Tapi kini, sudah berkembang pesat.

“Sekarang menjadi sekolah termahal di Palembang. Penambahan asetnya bisa mencapai Rp 10 miliar per tahun,” katanya.

Nah, saat dirinya melaporkan harta kekayaan pada 2009 lalu, semua aset sekolah ini dimasukkan sebagai harta miliknya. Alasannya, semua aset sekolah tersebut masih atas nama dirinya, bukan yayasan. “Suatu saat nanti saya akan pisahkan.”

Karena masih atas nama dirinya, setiap ada peningkatan aset sekolah dihitung sebagai aset miliknya. Padahal, saat ini sekolah tersebut terus berkembang. Jumlah siswa antara SD-SMA berjumlah 800-an orang. Sementara mahasiswanya saat ini berjumlah 1.400 orang. Maka kalau saat ini dihitung lagi, kata Marzuki, hartanya sudah lebih tinggi lagi. Sebab, antara 2009 sampai sekarang sudah didirikan beberapa bangunan lagi untuk memperluas sekolahnya.

Keuntungan sekolah tiap tahun juga meningkat. Tiap bulan, kas yang masuk ke sekolah mencapai hampir Rp 1 miliar. “Iuran siswanya Rp 1 juta per bulan. Tinggal dikalikan saja 800 orang. Terus uang pangkalnya tiap tahun Rp 15 juta. Belum lagi dari mahasiswanya,” tutur Marzuki.

Namun, kata Marzuki, semua keuntungan dari sekolah itu tidak pernah dia nikmati. Setiap ada keuntungan, dia selalu investasikan lagi untuk membesarkan sekolah “Saya tidak mau menikmati sendiri. Sekarang sekolah juga sedang menyantuni 300 anak yatim dan fakir miskin. Mereka semua sekolah gratis,” tandasnya.[rmol/ian]