“Darah muda darahnya para remaja”, begitu petikan lagu Bang Rhoma yang menggambarkan semangat berkobar seorang anak-anak yang akan beranjak dewasa. Dimana pada tahap transisi ini mereka akan sibuk melakukan pencarian jati diri dengan berbagai ekspresi tingkah lakunya.

Menurut Sri Rumini & Siti Sundari remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek / fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita ataupun 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.

Maka sesuai definisi di atas pelajar tingkat SMP dan SMA adalah remaja, mereka yang pada tahap ini bercelana biru dan abu-abu. Tapi masa-masa yang sangat dekat dengan perubahan menuju kedewasaan adalah pelajar SMA. Apa sajakah yang dibutuhkan manusia seusia ini?

 

Kebutuhan Motivasi Manusia

Teori motivasi McClelland mengungkapkan bahwa manusia mempunyai tiga kebutuhan yang akan memotivasinya dalam melakukan sesuatu. Ketiga kebutuhan itu adalah Needs of Achievement (N-ACH), Needs of Power (N-POW), dan Needs of Affiliation (N-AFF). Penjelasannya sebagai berikut, orang-orang yang mengutamakan N-ACH adalah mereka yang membutuhkan pengakuan dari orang disekitarnya, maka orang ini adalah pengejar prestasi dan eksistensi, untuk orang-orang yang mengutamakan N-POW adalah mereka yang mengejar kekuasaan, mereka senang bila berkuasa dan lebih hebat daripada yang lain, dan orang-orang yang mengutamakan N-AFF adalah mereka yang cukup hanya berteman  dengan banyak orang.

 

Masing-masing individu membutuhkan tiga motivasi ini, hanya saja kadar keutamaan yang dibutuhkan berbeda-beda. Tak terkecuali pelajar SMA, di usia mereka yang belum dewasa, di masa-masa perkembangan kemandirian dan identitas mereka, pelajar memiliki emosi yang sangat labil. Apalagi para pelajar yang hanya mengandalkan pendidikan formal bangku sekolah.

 

Hubungan Teori Motivasi dan Perilaku Pelajar

Melihat fenomena sepanjang tahun ini atau bahkan tahun-tahun sebelumnya, marak sekali terjadinya perilaku menyimpang para pelajar. Diantaranya merokok, pemakai obat terlarang, minum alkohol, seks bebas, pornoaksi, dan kriminalitas. Kenaikan tingkat kriminalitas yang dilakukan oleh pelajar menjadi top issue dunia pengajaran dan pendidikan sampai hari ini.

 

Aksi tawuran antar pelajar Sekolah Menengah seringkali menghiasi berbagai media nusantara, termasuk juga aksi tawuran suporter sepakbola yang aktornya tidak lain adalah pelajar. Dalam berbagai aksinya, mereka tak segan untuk saling bacok sampai mati. Bulan September lalu masih dapat kita ingat tragedi tawuran pelajar dengan wartawan. Terlepas dari apa alasan dan latar belakang tragedi tersebut, perlu kita telaah mengapa hal itu seakan-akan menjadi hal yang harus mereka lakukan sebelum memasuki masa yang disebut dewasa.

 

Tiga kebutuhan motivasi diatas erat kaitannya dengan fenomena yang terjadi belakangan, kebutuhan akan pengakuan dan pertemanan mereka lampiaskan dengan aksi berjalan bergerombol atau sering kita lihat mereka selalu nongkrong dipinggir-pinggir jalan pasca pulang dari sekolah.

 

Kebutuhan akan kekuatan mereka perlihatkan dengan ejek-ejekan ketika ada rekan pelajar sekolah lain yang melintas di depan tongkrongannya. Ejek-ejekan ini akan berakhir pada sebuah tragedi tawuran manakala yang melintas pun adalah segerombol pelajar. Baku hantam yang diakhiri kemenangan akan membuktikan kehebatan dan akhirnya pengakuan bahwa mereka juara.

 

Kebiasaan ini tertular ke generasi selanjutnya dan akhirnya menjadi cara yang membudaya untuk mendapatkan kebutuhan motivasi yang mereka inginkan tanpa disadari. Hal ini jelas mengartikan bahwa selama ini kebutuhan motivasi pelajar belum terpenuhi di tempat ia belajar maupun di lingkungan tempat ia tinggal.

 

Olahraga sebagai alternatif

Banyak solusi yang ditawarkan atas perilaku menyimpang pelajar khusunya tindak kriminal pelajar, mulai dari penataan kurikulum pendidikan, penciptaan pendidikan karakter, pendidikan spiritual dan pendidikan emosional. Tapi semuanya masih terlihat abstrak dan belum semuanya terimplementasikan. Bolehlah solusi-solusi tersebut disiapkan untuk jangka panjang tapi apakah dalam kurun waktu penyempurnaan sistem penanggulangan tersebut kita harus terus melihat berbagai aksi pelajar yang semakin tak manusiawi. Dan apakah kebutuhan motivasi mereka terpenuhi.

 

Maka dari itu, penulis berkesimpulan bahwa olahraga adalah sarana alteratif pemenuhan kebutuhan motivasi pelajar, karena pemuda dan olahraga erat kaitannya. Pelajar bertenaga dan olahraga membutuhkan tenaga. Tiga motivasi yang telah diuraikan di muka akan didapatkan dari berbagai kegiatan olahraga. Coba kita bertanya pada para pelajar, siapa yang tidak menyukai pelajaran Olahraga? Penulis yakin semua pelajar suka. Bilamana kebutuhan akan motivasi mereka terpenuhi, sedikit demi sedikit cara mereka memenuhi kebutuhan motivasi untuk melakukan sesuatu akan beralih dari tawuran menjadi kegiatan olahraga. []

 

Penulis: Eko Wardaya, Email: ekowardaya@gmail.com, Pemerhati Sosial (Remaja, Pemuda, dan Mahasiswa) dari Perkumpulan Remaja Hemat Usia (PERAHU).