Mahasiswa adalah bagian dari ‘kaum intelektual’

Oleh : Gardha Galang M S*

“…seorang intelektual adalah bagaikan seorang  direktur film. Ia adalahpengarah masyarakatnya yang ia amati dan yang berbagai tipe sosialnya harus ia ketahui dan kenal secara baik”(Ali Shariati).

Definisi intelektual (al-mutsaqqaf) merupakan pengertian baru dalam bahasa Arab, persis seperti pengertian tsaqâfah (intelektualisme, kebudayaan), yang banyak dipakai dalam istilah social dan politik dalam rentang waktu beberapa abad yang lalu. Kata (al mutsaqqaf) dan (tsaqâfah) diambil dari kata kerja (tsaqafa) yang berarti, pintar, terampil, cakap, memahami, mengerti dan memperoleh atau menghasilkan.

Mereka (Kaum Intelektual) adalah sesosok manusia yang punya prinsip dan keyakinan yang teguh untuk terus bergerak memajukan masyarakat. Mereka adalah bentuk dari perlawanan yang mencerahkan terhadap berbagai kezaliman penguasa. Tidak ada rasa takut bagi mereka untuk terus mendengungkan kebenaran-kebenaran. Penyuara tentang berbagai bentuk ketertindasan. Mereka berani berdiri tegak untuk berbeda dengan rezim yang tidak berpihak kepada rakyat.

Mereka yang kita sebut sebagai kaum intelektual juga tidak identik dengan orang yang berpendidikan tinggi seperti sarjana, mereka bisa jadi berangkat dari kalangan awam. Namun punya dedikasi, cara berfikir, bertindak yang muaranya demi kemaslahatan umat dan berpegang teguh pada kebenaran nurani. Inilah kaum intelektual sesungguhnya.

Beranjak dari itu semua, di Indonesia yang telah bergelut dengan berbagai pergantian zaman yang telah melahirkan para intelektual-intelektual pada masanya. Zaman Pergolakan, pada tahun 1908 saat lahirnya Budi Utomo, kelompok yang akhirnya banyak mendorong perubahan penting dalam haluan kehidupan berbangsa. Tokoh-tokoh yang muncul pada saat itu adalah dr Soetomo dengan kelompok studi di Stovia, Tan Malaka yang telah menuliskan Naar de Indonesiaan Republik, lalu juga Tiga Serangkai Kihajar Dewantara, Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat, HOS Tjokroaminoto, Kartini, KH. Hasim Asyari, KH. Achmad Dahlan. Orang-orang tersebutlah yang memberikan pondasi kuat bagi lahirnya sumpah pemuda 1028.

Pada zaman genting kemerdekaan tahun 1945, banyak generasi-generasi pemberani yang telah mengorbankan nyawa untuk lepas dari belenggu penjajahan pada saat itu, pada zaman ini pula telah melahirkan tokoh-tokoh negarawan penuh intregritas semisal Soekarno, Hatta, KH. Wachid Hasyim, Ki Bagus Hadikoesumo, Sutan Sjahrir, H Agus Salim, AA Maramis, D.N Aidit, Radjiman Wedyodiningrat, M Natsir, dan juga tokoh muda yang menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdeklok yaitu Cairul Saleh, Sukarni dan Wikana. Dan pada zaman-zaman berikutnya baik Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi hingga Pasca Reformasi dengan para intelektual pada zaman tersebut.

Pasca reformasi yaitu zaman sekarang yang kita diami, telah memberikan begitu banyak kebebasan maupun kemerdekaan dalam berbagai hal, baik berserikat, berkumpul, berpendapat. Namun yang menjadi heran adalah zaman ini telah membuat pemuda-pemuda ataupun mahasiswa-mahasiswanya menjadi penikmat segala surga dari dunia dan tidak berkutik dihadapan berhala materialisme, kediktatoran uang, anomistis, dan perbudakan. Materialisme fundamentalis telah menjebak manusia kedalam belenggu alienasi(kesunyian, keterasingan manusia dari Tuhan, dari sesame manusia, dari lingkungannya) dan sinisme.

Kaum intelektual sebagai mana dijelaskan di awal bahwa intelektual tidak membatasi ia harus seorang yang berpendidikan tinggi sarjana, tetapi kaum intelektual bisa lahir dari petani, PKL, atapun Kiai, yang terpenting dari itu semua adalah dedikasi untuk memperjuangkan kemaslahatan umat namun dari semua hal itu, perlu diingat bahwa yang wajib untuk menjadi kaum intelektual adalah Mahasiswa.

Mahasiswa adalah seorang pemuda yang mengalami proses belajar  dari suatu pendidikan tinggkat lanjut. Tetapi pertanggung jawaban seorang mahasiswa tidak hanya sebatas untuk itu(belajar, memperoleh nilai baik, dapat juara atau piala) yaitu tanggung jawab terhadap dirinya , jauh dari itu semua, seorang mahasiswa mempunyai tanggung jawab kepada sesamanya yaitu pada masyarakat sekitar dan bahkan pada bangsa hingga dedikasinya kepada  kemaslahatan umat.

Seharusnya dengan adanya kemerdekaan yang sekarang ini mahasiswa lebih mudah bergerak, namun bukannya seperti cita-cita ideal yang di harapkan( dedikasinya kepada kemaslahatan umat) mahasiswa justru menjadi budak materialisme, bagaimana mereka sibuk berganti-ganti prangkat teknologi dengan alih-alih mengikuti perkembangan sedangkan dipinggiran trotoar jalan banya anak-anak yang belum mengecam pendidikan. Bagaimana mereka sibuk mempercantik diri setiap hari dalam perbudakan kapitalisme tanpa melihat sekitarnya bagaimana orang-orang kelaparan mencari makan setiap harinya.

Sebagaimana perannya menjadi seorang intelektual, tiga hal wajib dimiliki seorang mahasiswa untuk membekali dirinya sebagai intelektual yaitu Idealisme, Keberpihakan dan Keberanian untuk melawan status quo.

Idealisme, seorang mahasiwa harus memiliki idealisme yang menjadikannya kuat akan tekadnya untuk berjuang terhadap kebenaran yang telah diyakininya.

Keberpihakan. Setalah ia kuat dan pantang untuk menggadaikan kebenaran yang telah diyakininya ia wajib untuk berpihak atau mempunyai keberpihakan kepada masyarakat yang lemah dan terpinggirkan disekitarnya.

Keberanian melawan status quo,  berani melawan status quo yang tidak bertanggung jawab kepada kesejahteraan rakyat.

seorang intelektual bagaikan seorang  direktur film, Mahasiswa haruslah bisa mencetuskan ide-ide, gagasan gagasan konstruktif kedepan yang dapat membangun sendi-sendi keadilan sebagaimana seorang direktur film yang mampu mengarahkan film untuk dapat mencapai ending yang bahagia, Ia adalah pengarah masyarakatnya yang ia amati dan yang berbagai tipe sosialnya harus ia ketahui dan kenal secara baik , Mahasiswa mempunyai tugas membangkitkan dan membangun masyarakat. Bukan sekedar menjadi penonton dan mengamati jalan kehidupan masyarakat.

*Kader HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta