Beberapa waktu yang lalu Menteri Perdagangan Gita Wirjawan gencar mempromosikan program 100% Indonesia, sebuah kampanye untuk menggunakan produk asli Indonesia.

Di tengah tantangan perdagangan bebas yang mengancam industri dalam negeri, kampanye ini dirasakan belum cukup membangkitkan produktivitas pelaku industri Tanah Air. Seperti tahun 1998, kampanye cintai produk Indonesia dan cintai rupiah yang menjadi slogan politik di berbagai media ternyata tidak mampu menyelamatkan Indonesia dari jurang krisis ekonomi.Efektivitas kampanye saat ini pun masih berkesan lip-service tanpa menyentuh langsung esensi permasalahan industri di dalam negeri.Banyak industri yang berpeluang tumbuh di Indonesia, terutama industri kreatif dan industri rumah tangga.Menurut data dari Kementrian Perdagangan, industri kreatif mampu menyumbang 6,3% total PDB atau setara Rp104,6 triliun dan menyerap tenaga kerja hingga 5,4 juta orang selama kurun 2002–2006. Namun kendala modal dalam industri ini menjadi hambatan utama dalam mengembangkan produktivitasnya sehingga tidak dapat bersaing di pasar internasional.

Jumlah kredit yang berlimpah dari pemerintah dirasakan belum menyentuh langsung sektor industri kecil karena masalah-masalah administratif yang terkadang menyulitkan pelaku industri. Ada contoh kasus di mana seorang pengusaha kartun animasi ingin mengembangkan usahanya. Karena kebanjiran order dari luar negeri, ia berinisiatif meminjam sejumlah uang ke bank, tetapi industri kreatif di bidang jasa intelektual kreatif belum terdaftar dan memerlukan sertifikat hak kekayaan intelektual terlebih dahulu dan berbagai syaratsyarat lain yang memberatkan pengusaha.

Akhirnya pengusaha tersebut memilih meminjam ke rentenir, tentunya dengan bunga yang cukup besar sehingga keuntungan usahanya menurun. Adapun industri rumah tangga memiliki kendala,mulai dari belum sistematisnya pencatatan laporan keuangan hingga minimnya kualitas barang yang diproduksi. Akibatnya, konsumen di Indonesia kurang memandang produk industri lokal sebagai high-quality product.

Bahkan jika dibandingkan dengan China, walaupun kualitas produknya rata-rata di bawah kualitas produk lokal, harga produk China relatif murah sehingga nilai kompetitifnya tetap terjaga. Indonesia masih bergelut dengan nasib “harga mahal,kualitas rendah” sehingga pada akhirnya tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk Indonesia cenderung stagnan, bahkan berkurang, dan konsumen lebih memilih produk China.

Jika kampanye “Cinta produk Indonesia” dibarengi dengan langkah konkret pemerintah dalam mendorong industri lokal, niscaya akan terbangun sinergi pengembangan kualitas, baik dari segi konsumen maupun produsen, sehingga perekonomian bangsa yang mandiri dapat tercapai secara bertahap dan persaingan dengan produk-produk asing pun bukan tantangan yang perlu dikhawatirkan.●

BHIMA YUDHISTIRA
Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Aktivis HMI (MPO)

* Artikel ini dimuat di Harian Seputar Indonesia, 13 Januari 2012