HMINEWS.Com, Banyak kesalahan berfikir yang terus dipelihara dan dihidupkan. Meski dalam kondisi bangsa yang karut-marut, yang kita lakukan bukanlah bergerak, tapi mencari justifikasi untuk membiarkan kesalahan-kesalahan terus berlanjut dan tetap berdiam diri.

Pertama, meski tahu pemerintah yang ada melenceng dan tidak benar,  kita selalu membandingkan dengan era sebelumnya, era Suharto yang dianggap lebih baik. Tak hanya itu, setelah membandingkan kedua kondisi tersebut kita terus-menerus membisikkan mantra keraguan.

“Kalau penguasa yang sekarang kita tumbangkan, belum tentu penggantinya lebih baik,” kemudian diam tak bergerak. Padahal seharusnya, “seleksi alam” itu harus terus-menerus dijalankan hingga menghasilkan pemimpin yang baik, karena dengan begitu artinya kita membuang yang jelek-jelek.

Kedua, kita terus berapologi bahwa rakyat tidak membutuhkan perubahan itu. Kita yang menunggu rakyat bergerak. Meski letupan-letupan kecil dan besar terjadi di mana-mana, di Mesuji, Bima, dan di tempat-tempat lain hak rakyat terus-menerus dikorbankan untuk keuntungan korporat kapitalis.

Di depan Gedung DPR/MPR juga warga dari Riau membuat tenda-tenda dan melakukan aksi jahit mulut serta bertekad tidak akan pulang sebelum tuntutan agar penguasaan konsesi hutan oleh perusahaan dihentikan. Tapi dari ratusan kampus di Jakarta tidak ada yang turun aksi. Mahasiswa sekarang adalah ‘mahasiswa salon’, ‘BEM piknik’ dan sebagainya.

Ketiga, kita selalu menuggu elit yang bergerak. Kita lupa, adanya proklamasi kemerdekaan adalah karena anak-anak muda yang memaksa elit untuk memproklamasikan kemerdekaan. Begitu juga tumbangnya Orde Lama dan Orde baru karena pergerakan anak-anak mudanya, mahasiswanya.

Kata Fuad Bawazier, justru elit sekarang sudah sangat siap, demikian juga dengan rakyatnya. Namun elit dan rakyat tidak bisa memulai tanpa anak-anak muda yang mendobrakkan perubahan itu.

Ketiga kesalahan tersebut masih ditambah dengan gaya hedon mahasiswa yang juga dimanfaat oleh penguasa. Tak ada yang dipikirkan mahasiswa kecuali kesenangan, keinginan lulus cepat dan lekas dapat kerja dengan posisi yang aman. Gerakan-gerakan mahasiswa, intra maupun ekstra kampus bisa diselesaikan dengan uang, dan itulah yang dilakukan rezim yang berkuasa saat ini. (Fathur)