HMINEWS.Com – Mantan Direktur Lembaga Seni Budaya (LSB) Himpunan Mahasiswa Islam periode 2009-2011, Qusthan Abqary ke luar negeri. Melanjutkan kuliah S2 filsafat sains di Melbourne University, Australia.

Kepergian Qusthan dilepas dengan acara sederhana di Sekretariat PB HMI di Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (17/1) malam. Bersama Ketua Umum PB HMI, Alto Makmuralto dan Sekjen Agus Thohir, serta sejumlah penguru lain. Hadir juga M Chozin, mantan Ketua PB HMI periode 2009-2011.

Menurut Qusthan, ia mendapat beasiswa dari ADS (Australia Development Scholarship). Adapun prosesnya telah ia jalani sejak tahun lalu, mulai dari memasukkan lamaran, tes dan seleksi hingga dinyatakan siap berangkat ke negeri kanguru. Melbourne, “The most Liveable City” kota yang paling nyaman ditinggali di dunia.

“Saya mendorong teman-teman untuk kuliah di luar negeri, karena itu sebagai upaya menuntut ilmu. Juga sebagai cara mengukur diri, mengukur kesabaran (karena prosesnya yang sulit). Tapi kenali tipe-tipe beasiswanya,” kata Qusthan.

Qusthan, penulis buku “Melawan Fasisme Ilmu” dan novel “Artema” tersebut melanjutkan, persoalan bahasa bukanlah yang paling utama diterimanya seseorang melamar beasiswa pendidikan ke luar negeri.

“Akan tetapi bagaimana kita bisa meyakinkan mereka baha kita itu layak dibanding yang lain,” ujarnya mengenai pengalamannya selama mengurus beasiswa ke universitas peringkat 14 dunia dalam studi filsafat tersebut.

Tidak hanya beasiswa, Melbourne University, lanjutnya, juga mengurus sejumlah keperluan lain calon mahasiswanya. Memfasilitasi persiapan bahasa dengan membiayai kursus bahasa Inggris untuk persiapan IELTS, visa dan sebagainya.

M Chozin, mantan Ketua PB HMI alumni Universitas Ohio yang hadir membenarkan. Kuliah di luar negeri memberi sejumlah keuntungan dan kesempatan belajar lebih sebab berada dalam lingkungan yang beragam serta iklim akademis yang tinggi. (Fathur)