Banda Aceh – Bertempat di Petua Toe kafe Ulee Kareng Banda Aceh, hari ini Selasa (20/12) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh meluncurkan buku yang berjudul “SDA Dikuras, Bumi Aceh Menjerit, Rakyat Sengsara”. Buku ini sendiri ditulis oleh dua jurnalis senior dan seorang budayawan Aceh yaitu Muhammad Hamzah (wartawan Suara Pembaruan) dan Mukhtaruddin Yakob (Ketua AJI Banda Aceh) dan Nab Bahany As.

Buku setebal 128 halaman yang dieditori oleh Dian Gucci dan M. Nur ini menggambarkan betapa eksploitasi sumber daya alam Aceh dilakukan secara serampangan dengan mengabaikan lingkungan sekitar. Alih-alih ingin meningkatkan pendapatan ekonomi daerah yang terjadi malah rakyat sekitar menjadi termiskinkan alias sengsara.

Pembuatan buku ini telah melewati serangkaian workshop guna mendapat masukan dari berbagai pihak. Workshop mengundang para stakeholder lingkungan dan berlangsung secara partisipatif.

Selama belasan tahun, WALHI Aceh mendasarkan gerakan serta advokasinya pada data dan fakta yang dikumpulkan dari lapangan. Investigasi dan observasi langsung ke lokasi yang tengah dililit masalah telah menjadi trade mark WALHI dalam melakukan misi advokasi terhadap kebijakan dan/atau investasi yang merusak lingkungan. Bersama 38 lembaga anggotanya, WALHI Aceh juga membangun sinergi dan aliansi strategis dengan berbagai pihak terkait, untuk memperjuangkan tetap terpeliharanya sumber-sumber kehidupan rakyat.

Usaha advokasi yang dilakukan WALHI Aceh menjadi kontrol dari kebijakan yang merugikan. Namun tidak semua kasus pelanggaran atas hak rakyat atau pengelolaan sumber kehidupan dapat diselesaikan secara memuaskan. WALHI Aceh mencatat puluhan malpraktik yang masih terjadi, terutama di sektor pertambangan. Aceh sedang diancam bencana ekologis, yang diakibatkan eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya alam. Untuk menghindari terjadinya kerugian lebih lanjut, WALHI Aceh mengkampanyekan Moratorium Tambang. Penghentian kegiatan eksploitasi tambang diharapkan dapat memberikan waktu bagi lingkungan hidup untuk memulihkan diri.

Perlindungan terhadap alam dan sumberdayanya akan lebih efektif bila masyarakat awam mengetahui seluk beluk eksploitasi. Juga akibat serta hak-hak rakyat yang dapat hilang, terampas pemodal besar. WALHI Aceh mendokumentasikan segala kerusakan dan kerugian yang disebabkan eksploitasi berlebihan ini sebagai pembelajaran.

Buku ini merupakan gabungan data yang dikumpulkan WALHI Aceh dan lembaga-lembaga anggotanya. Data tersebut tentunya hanya akan berupa angka yang kering bila disajikan apa adanya. Semoga kehadiran buku ini dapat menambah perbendaharaan pengetahuan tentang pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, Aceh khususnya.[] zul