HMINEWS, Jakarta – Persidangan kasus surat palsu MK di pengadilan negeri memasuki babak pemeriksaan terdakwa. Dalam keterangannya di depan Majelis Hakim yang dipimpin Herdi Agustin,SH. Masyhuri menyebutkan bahwa setelah MK menerima surat dari KPU, ia kemudian melaporkan kepada Panitera perihal adanya surat dari KPU.

Sebagaimana lazimnya Panitera kemudian mendisposisi serta menugaskan Pan Mohammad Faiz yang memang bertugas membuat Surat jawaban terhadap surat yang ditujukan kepada MK, faiz dan Zainal lah yang membuat surat jawaban terhadap surat KPU No.1351 (Partai Hanura, Dapil SulSel) dan 1352 (ttg Kesalahan Nama).

Terhadap surat jawaban terhadap surat KPU yang telah dibuat oleh Faiz bersama Zainal pada Jumat, 14 Agustus 2009 malam, pada keesokan harinya Sabtu, 15 Agustus 2009 pagi ada permintaan dari KPU agar surat tersebut dikirim secepatnya, Masyhuri kemudian melakukan fax terhadap surat tersebut dan berjanji akan menyusulkan aslinya sebagaimana kebiasaan selama ini di MK.

Senin,17 Agustus 2009 masyhuri bersama Nallom menyampaikan surat asli terhadap jawaban KPU (surat No.112 dan 113 dari MK) di KPU, namun setiba di KPU tidak ada pegawai karena memang hari libur nasional, Masyhuri kemudian menghubungi Panitera dan menyampaikan bahwa di KPU tidak ada orang, sesaat kemudian Panitera menghubungi mereka berdua agar surat diantarkan ke Jack TV dan disampaikan kepada Andi Nurpati.

Masyhuri kemudian menyampaikan kepada Andi Nurpati, bahwa ada perubahan redaksi terhadap surat jawaban MK No.112 (Mengenai Partai Hanura) oleh Andi Nurpati kemudian membuka surat 112 (asli), dan meminta agar surat yang berupa fax ditarik, tapi surat 113 redaksinya sama jadi tidak perlu ditarik, Andi kemudian menyampaikan ini kan sudah ada aslinya jadi tidak perlu ditarik, lagian saya lagi di jack TV, surat asli lah yang akan menjadi dasar kami dalam rapat KPU pada tanggal 21 Agustus 2009 nanti.

Anehnya pada rapat KPU tanggal 21 Agustus 2009 andi Nurpati malah menggunakan surat berupa Fax yang dibuat oleh Pan Mohammad Faiz bersama Zainal pada tanggal 14 Agustus 2009, dan tidak menggunakan surat asli yang telah diterimanya di Jak TV pada tanggal 17 Agustus 2009. Inilah kemudian yang menyebabkan nama Dewi Yasin Limpo sempat ditetapkan sebagai pemenang meski kemudian di revisi oleh KPU. [] sakkaa