HMINEWS –  Gugatan Janda/Korban Kejahatan Perang Belanda di Rawagede sesuai Keputusan Majelis Hakim Pengadilan Den Haag tanggal 14 September 2011 oleh Pemerintah Kerajaan Belanda menyatakan “Tidak Banding” dan Keputusan Majelis Hakim tersebut dapat dinyatakan telah “inkracht” atau mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Selanjutnya Pemerintah Kerajaan Belanda harus memenuhi semua isi Keputusan Majelis Hakim tersebut.

Beberapa minggu terakhir telah diadakan perundingan dan musyawarah antar Kuasa Hukum kedua pihak dan telah diperoleh mufakat pemenuhan isi keputusan Majelis Hakim.

 

Sebagaimana disampaikan oleh Yayasan K.U.K.B. Jakarta-Jawa Barat, Pemerintah Kerajaan Belanda akan membayar kompensasi kepada 9 (sembilan) orang Penggugat dari Desa Balongsari (dahulu Rawagede) dan Pemerintah Belanda akan menyatakan “Permintaan maaf” secara resmi kepada para Penggugat atas kejadian peristiwa Kejahatan Perang di Rawagede tanggal 9 Desember 1947.

Hal ini menjadi penting adanya mengingat sejak Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 melalui Keputusan Hakim atas korban peristiwa Rawagede bagi masyarakat Indonesia akan menjadi sebuah pelajaran dan peristiwa penting dalam konteks sejarah, penegakan hukum, politik, kemanusiaan, dan keadilan di Tanah Air dan tentunya bagi masyarakat Indonesia yang masih dapat dikategorikan korban kejahatan perang Belanda antara tahun 1946 s/d 1949, demikian sebagaimana disampaikan oleh pimpinan Yayasan K.U.K.B. Jakarta-Jawa Barat Irwan Lubis, SH.

Menurut Irwan, permintaan maaf ini juga menjadi penting dan fenomenal adanya menimbang sejak 64 tahun terkahir untuk pertama kalinya Pemerintah Kerajaan Belanda menyatakan permintaan maaf secara resmi. Untuk itulah kita juga megharapkan sikap resmi dari Pemerintah RI atas inkrachtnya Keputusan Majelis Hakim Pengadilan Den Haag tersebut.
Gugatan Rawagede di Pengadilan Den Haag merupakan perjuangan harkat dan martabat bangsa, hukum, kemanusiaan dan keadilan. Peristiwa Rawagede erat kaitannya dengan perjuangan dan pejuang kusuma bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang di Proklamasikan 17 Agustus 1945. Perjuangan Rawagede juga mengandung nilai-nilai kebangsaan yang tinggi dan menjadi muatannya penting pula bagi Bangsa Indonesia. Hal terpenting daripada itu bahwa dalam perjuangan ini dalil “kadaluarsa” yang selalu menjadi penolakan Pemerintah Kerajaan Belanda telah nyata-nyata dikesampingkan dalam pertimbangan keputusan Majelis Hakim yang independen itu.
Dalam perjuangan dan keputusan itu pula harkat dan martabat bangsa Indonesia semakin dapat kita tegakkan demikian pula dalam sisi lainnya kehormatan akan semakin diraih oleh bangsa Belanda. Suasana ini menjadi penting pula untuk memandang dan menjalin hubungan bilateral yang lebih baik bagi kedua bangsa dimasa-masa yang akan datang.
Semoga dengan dinyatakan Keputusan Majelis Hakim Den Haag atas gugatan janda-janda Rawagede mempunyai kekuatan hukum yang tetap menjadi inspirasi bagi penyelesaian hal-hal yang dapat mengganggu hubungan baik kedua negara di masa-masa yang akan datang.
Selanjutnya dalam kesempatan ini kami menyampaikan Selamat kepada Prof. Liesbeth Zegveld dan Tim dan Selamat kepada Janda-Janda Rawagede, “Akhirnya keadilan untuk penduduk Desa Rawagede di Den Haag pada 14 September 2011”.
Dalam kesempatan ini perkenankan kami menyampaikan informasi bahwa pada tanggal 7 Desember 2011 s/d 13 Desember 2011 Prof.mr. Liesbeth Zegveld (Pengacara Janda Rawagede) dan Jeffry Marcel Pondaag (Ketua yayasan K.U.K.B. Belanda) akan berada di Tanah Air untuk memenuhi udangan Komnas HAM dan mengikuti berbagai kegiatan di Tanah Air yakni mengadiri peringatan peristiwa Rawagede di Monumen Rawagede Karawang tanggal 9 Desember 2011 dan beramah tamah dengan janda-janda Rawagede dan masyarakat Balongsari sebelumnya akan melakukan diskusi atau dialog publik di Komnas HAM pada tanggal 8 Desember 2011 dimulai pukul 10 pagi. Selanjutnya akan ke Makassar menghadiri peringatan di Monumen Korban 40.000 Jiwa dan bertemu dengan janda-janda korban kejahatan Perang Raymond Westerling di Sulawesi Selatan. [] lk